Press "Enter" to skip to content

Membiasakan Anak Menggunakan Alat Bantu Dengar

Last updated on April 3, 2019

Setiap bulan, selalu ada orangtua yang bertanya mengenai “bagaimana cara membiasakan anak agar mau menggunakan alat bantu dengar?” Pertanyaan ini dulu pernah saya khawatirkan karena Alkha termasuk anak yang tidak mau ada benda-benda menempel di kepala nya, misalnya topi dan jaket jumper. Benda-benda di kepala selalu dilepas dan menolak untuk digunakan. Lantas apakah berpengaruh terhadap penerimaan Alkha terhadap alat bantu dengar nya? Ternyata tidak kok. Dia merasa nyaman-nyaman saja di awal penggunaan alat bantu dengar.

Waktu pertama kali memasang alat bantu dengar di telinga Alkha, kami diliputi perasaan was-was. Tidak ada yang pernah mengusulkan kepada kami beberapa tips agar mau menggunakan alat bantu dengar. Jadi kami termasuk orangtua yang cukup beruntung bisa melalui tahapan tersebut dengan mudah. Tidak terlalu lama penolakan Alat Bantu Dengar. Mungkin karena hak anak agar mau menggunakan ABD sudah kami penuhi, walau tanpa sadar. Nah, sekarang anak akan menggunakan alat bantu dengar, apa yang kemudian dapat kita lakukan?

1. Mulai dari sunyi menuju ramai

Alat Bantu Dengar pada dasarnya merupakan pengeras suara yang suara nya sangat keras. Bila digunakan pada saat ramai, bisa jadi membuat kaget pengguna nya. Saya akan coba menganalogikan nya seperti ini. Ketika kita berada di sebelah sound system mantenan, alunan lagu mengalir dari speaker kemudian masuk ke liang telinga dan mengerakkan gendang telinga. Alunan lagu kita dengar mulai dari tempat parkir, melalui pintu masuk, hingga bersalam-salaman. Bisa dibayangkan bahwa lagu mantenan itu dimulai dari suara kecil hingga kita berjalan mendekat ke sumber suara. Kita tidak kaget kan?

Berbeda dengan ketika kita sedang prasmanan di dalam gedung. Sound system masih mati, persiapan acara. Kemudian speaker yang berada di belakang kita tiba-tiba menyala. Tentu bisa jadi kita kaget, bisa juga tidak. Untung-untungan.

Membiasakan anak untuk menggunakan alat bantu dengar ketika di rumah dapat di lakukan di dalam kamar. Matikan semua sumber suara; televisi, radio, kipas angin, AC, suara kran kamar mandi; agar kondisi nya pasti-sunyi, tidak untung-untungan. Kita berharap agar pengguna alat bantu dengar yang masih pemula ini tidak kaget, tidak trauma, mencopot ABD dengan paksa, bahkan membantingnya.

Pertama, masukkan baterai ke dalam Alat Bantu Dengar. Jangan ditutup sempurna, artinya ABD masih dalam keadaan mati.
Kedua, bila anak menangis, tetap pakaikan ABD ke telinga nya. Pegangi tangan nya dengan lembut agar tidak mendekati telinga.
Ketiga, lepaskan tangan anak. Dorong tutup baterai sehingga alat bantu dengar menyala. Karena semua peralatan elektronik sudah mati, anak tidak menangis, bukankah ini kondisi paling sunyi yang bisa Ayah dan Bunda dapatkan ketika di rumah?
Keempat, panggil namanya secara natural, biasa saja, tidak perlu berteriak. Asyik kan?
Kelima, ajak anak keluar kamar. Perlahan-lahan kondisinya akan lebih bising daripada di dalam kamar. Ada suara motor lewat, penjual tahu bulat yang menawarkan gorengan, suara truk lewat, suara anak-anak sekolah, ibu-ibu ngerumpi, dan lain-lain. Pelan-pelan saja, yang terpenting anak merasa bahwa alat bantu dengar bukan benda yang menyakitkan.

Baca juga :  Cara Merawat Alat Bantu Dengar

2. Mulai dari penggunaan sebentar hingga lama

Durasi penggunaan ABD merupakan hal terpenting dalam membiasakan anak menggunakan alat bantu dengar. Idealnya, ABD digunakan anak selama 12-16 jam. Pada dasarnya anak yang menggunakan ABD harus mengenali suara lingkungan terlebih dahulu, seperti bayi pada umumnya. Terlebih lagi anak-anak dengan gangguan berat dan profound hearing loss yang hampir tidak pernah mendengar variasi suara dari lahir hingga menggunakan saat ini.

Sebisa mungkin, pakaikan Alat Bantu Dengar sepanjang hari. Hanya lepaskan ABD ketika mau mandi dan tidur. Bila anak menolak pada beberapa jam pertama, coba cari tahu penyebab nya. Apakah gatal, panas, capek, tidak asyik (anak dibiarkan tanpa stimulasi), kulit telinga lecet, dan lain-lain.

3. Perbanyak waktu di lingkungan yang sepi

Anak yang baru belajar menggunakan Alat Bantu Dengar lebih baik banyak berada di lingkungan sepi. Suara yang masuk akan lebih jelas sehingga anak berlatih mengidentifikasi berbagai macam suara lingkungan. Suara dentingan sendok dengan piring kaca, suara mobil-mobilan yang saling bertabrakan, suara geseran sofa yang mendecit, suara mesin motor Ayah ketika berangkat bekerja, suara mesin cuci yang berputar, suara Bunda yang sedang memasak, suara pintu yang dibuka atau ditutup, desiran kipas angin, dan sebagainya. Jadi, anak akan lebih banyak mendengar satu sumber suara pada satu waktu.

4. Alihkan perhatian anak menggunakan mainan edukatif

Alihkan perhatian anak dengan mainan edukatif untuk membiasakan anak menggunakan alat bantu dengar. Pilih mainan yang sederhana dan variatif. Misalnya paket binatang ternak, puzzle geometris, puzzle gambar, dan sebagainya. Tetapi, keluarkan mainan satu persatu, simpan mainan yang tidak sedang digunakan. Jika sudah bosan, keluarkan lagi mainan yang lain. Ganti simpan mainan yang sudah bosan, nanti juga tertarik lagi.

Dengan kegiatan semacam ini, Ayah dan Bunda dapat mengenalkan kata “Sama”, “Putar”, “Kembalikan”, “Taruh”, dan sebagainya. Ulangi kata-kata tersebut secara natural (tidak berteriak) dan berikan jeda antar-kata ketika berbicara. Pada tahap ini, anak sedang mengisi kosakata dalam gelas yang masih kosong (bahasa reseptif). Ayah dan Bunda hanya dapat menunggu sembari terus mengisi kosakata baru hingga gelas tersebut penuh kemudian tumpah menjadi kosakata bahasa ekspresif.

Baca juga :  Berapa Biaya Implan Koklea Di Indonesia?

5. Kenalkan anak dengan asosiasi kata-objek (sound-object associations)

Asosiasi kata dengan obyek merupakan salah satu metode AVT untuk berkomunikasi antara anak dengan orangtua. Metode ini hanya jembatan; jika sudah dilewati, maka anak tidak perlu menggunakan lagi asosiasi kata-suara ini.

6. Kenalkan anak dengan Ling’s Six Sounds

Ling Six Sounds merupakan metode AVT yang mudah, murah, dan valid (teruji) untuk memastikan apakah anak mendengar seluruh frekuensi suara bicara manusia. Karena anak belum bisa imitasi (meniru kembali) suara, maka mengenalkan 6 suara Ling bisa dilakukan dengan menggunakan kartu pintar, atau mainan. Bila mau digunakan semua, pastikan keduanya (gambar dan benda) menggunakan simbol yang sama.

Ling Six Sounds idealnya selalu dilakukan setiap pagi dan menjadi rutinitas wajib si anak. Ayah dan Bunda dapat gunakan Ling Six Sounds sebagai bagian dari sound-object associations. Kenalkan bahwa pesawat bersuara aaa, kereta api ini bersuara uuuu, es krim bersuara mmm, ular bersuara sss, dan bayi tidur bersuara shhh. Setelah anak paham, pada setiap pagi, lakukan Ling Six Sounds untuk mengetahui kualitas mendengar anak.

7. Kenalkan Anak Dengan Nama Panggilannya

Untuk mengenalkan nama anak, Ayah dan Bunda wajib memperhatikan hal ini, yakni panggil nama anak bila akan memberikan instruksi. Misalnya, “Alkha, ayo sini. Makan dulu”, “Alkha, Mama punya mobil. Brum brum. Mau?”, “Alkha, ini namanya sapi, mooo, moo”.  Secara tidak langsung anak akan mengenali nama panggilannya sendiri.

Jika Ayah dan Bunda melihat anak sedang melamun, panggil anak untuk datang dan berikan sesuatu pada nya. Jika Ayah dan Bunda tidak memiliki benda yang spesial, atau mainan baru; berikan saja mainan mobil-mobilan yang biasa dimainkan. Kali ini sembunyikan dalam kain, atau dalam baju nya Ayah. Bilang saja, “Mau?”. Jangan khawatir anak akan kecewa. Justru, bila Ayah dan Bunda hanya memanggil agar anak berhenti melamun, kemudian mengabaikan nya lagi, maka anak merasa bahwa merespon panggilan merupakan hal yang tidak penting. Hal ini harus dihindari. Lama kelamaan anak tidak menghiraukan panggilan nama nya walaupun Ayah dan Bunda memiliki mainan yang bagus sekalipun.


Beberapa tips di atas dapat diajarkan untuk membiasakan anak menggunakan alat bantu dengar. Kecuali tentang Ling Six Sounds, Ayah dan Bunda dapat bertanya lebih lanjut tentang teknik pengajaran nya kepada Terapis AVT  yang nanti Bunda tunjuk untuk menjadi mentor keluarga. Sebagai gambaran, video dibawah ini semoga dapat memberikan gambaran tentang Ling Six Sounds.

Pos Berikutnya
Pos Sebelumnya

Tinggalkan Balasan