Press "Enter" to skip to content

Mainan Edukatif sebagai Bahan Belajar bersama Anak Gangguan Dengar

Last updated on Februari 9, 2019

Mainan Edukatif adalah mainan yang dibuat untuk memudahkan orang tua dan pengajar untuk menjelaskan sebuah konsep pembelajaran. Walaupun menurut kami, semua mainan dapat dikatakan edukatif tergantung pengajar yang menggunakan. Bisa jadi sebuah mainan mobil-mobilan hanya berakhir rusak ketika si anak menabrak-nabrakkan satu dengan yang lain tanpa diawasi orang tua. Padahal beberapa mainan mobil yang dijajar dan berwarna-warni dapat digunakan untuk belajar kata bilangan -satu, dua, tiga-, belajar berbagai kata kerja seperti “jalan”, “stop”, “berhenti”, “awas”, “meluncur”, “tabrak”, “jatuh”, kata sifat seperti “macet”, “rusak”, dan macam-macam warna (merah, hjiau, biru, kuning);  dan kata benda seperti “roda”, “setir”, “spion”. Ketika rodanya terlepas pun kita masih bisa gunakan frase sederhana seperti, “Mana roda? Roda nya hilang”, “aduhh, sakit”.

Bersinggungan dengan teknik AVT bersama Terapis AVT akan sedikit banyak membuat Ayah dan Bunda tergelitik untuk membeli mainan-mainan yang serupa layaknya di tempat terapi. Mainan di tempat terapi biasanya mainan yang tergolong mahal (-kemungkinan maksudnya supaya awet, hehe) dan seringkali digunakan terapis hanya untuk menarik perhatian anak saja. Bagi kami sendiri, lebih memungkinkan “di kantong” untuk membeli mainan yang banyak tersedia di pasar dengan harga murah. Kami biasanya membeli mainan dengan menyesuaikan tujuan materi AVT yang diberikan oleh terapis.

Beberapa mainan edukatif yang kami sarankan pada awal terapi AVT

(1) macam-macam binatang ternak (sapi, domba, kambing, babi, ayam, bebek, dll)
(2) macam-macam binatang di kebun binatang (harimau, singa, serigala, badak, jerapah, kuda nil, dll),
(3) berbagai kendaraan dengan variasi warna (mobil, pesawat, kereta api)
(4) macam-macam perabot di dapur (kompor, susuk, wajan, piring, sendok, garpu, dll)
(5) macam-macam perabot di dalam rumah (tempat tidur, wastafel, toilet, bak mandi, dll)
(6) macam-macam perabot di taman (seluncuran, jungkat-jungkit, mainan berputar, ayunan, dll)
(7) macam-macam orang-orangan dengan berdasarkan usia dan gender (anak laki-laki, anak perempuan, ayah, ibu, kakek, nenek, tante, om)
(8) macam-macam mainan yang mendukung kosa kata yang perlu ditekankan oleh Simser.

Baca juga :  Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Fungsi Mainan Edukatif

Menggunakan mainan edukatif selama kegiatan AVT mandiri di rumah memiliki banyak keuntungan, yaitu:
(1) Anak-anak umumnya tertarik dengan mainan yang baru (terlihat), daripada mainan mahal (yang digunakan terus hingga bosan). Jadi, segera simpan mainan yang khusus digunakan sebagai materi AVT setelah selesai digunakan. Maka si anak akan menganggap mainan tersebut sebagai mainan yang baru ketika Bunda menggunakannya di waktu yang akan datang.

(2) Keberadaan mainan edukatif akan memudahkan orang tua dalam membersamai anak setiap hari.  Orang tua tidak perlu membuat kondisi sebenarnya, dan cukup menggunakan mainan edukasi sebagai peraga.  Namun, sebelumnya orang tua harus mengenalkan terlebih dahulu masing-masing fungsi mainan miniatur tersebut kepada anak dalam bentuk aktivitas yang nyata. Misalnya toilet untuk pipis, lemari untuk menyimpan baju, tempat tidur untuk tidur (bobok), kompor untuk memasak, dll. Bisa juga Ayah Bunda menggunakan kata “sama” ketika membandingkan mainan miniatur dengan benda aslinya. Kata Sama ini sangat penting untuk digunakan pada sesi terapi lainnya lho.

(3) Mainan Edukatif dapat digunakan sebagai hadiah (reward) ketika si anak bersedia dan berhasil menyelesaikan kegiatan belajar. Kegiatan belajar untuk duduk tenang dan memperhatikan bagi sebagian anak merupakan hal yang sulit, maka tekan kebiasaan sulit itu dengan hadiah mainan baru.

(4) Anak yang memahami cara bermain mainan edukatif akan semakin terasah imajenasinya sehingga memudahkan orang tua untuk memasukkan auditory memory berikutnya.

AVT walaupun Menggunakan Mainan Edukatif Membutuhkan Proses Berpikir dengan Hasil yang Tidak Langsung Terlihat

Orang tua sebaiknya memahami “proses mendengar dan berbicara” (1) anak paham nama benda atau kegiatan (2) kemudian anak melakukan imitasi suara (3) anak akan berbicara. Kami membutuhkan waktu sekitar satu tahun hingga akhirnya Alkha mau merespon suara kami dengan imitasi suara. Jadi, bagi orang tua yang sedang memulai kegiatan AVT, sebaiknya bersabar dan terus menerus memasukkan auditory memory setiap waktu. Anda adalah orang tua yang hebat dan sedang dalam proses menuju bahagia.

Baca juga :  PAUD : Buku Penghubung Guru-Orangtua
Mainan Edukatif Tentang Taman Bermain

Anak dengan gangguan pendengaran harus terus didengarkan auditory memory yang sama secara terus menerus hingga si anak paham terlebih dahulu sebelum berusaha memasukkan target auditory memory lain. Cara paling mudah ialah dengan terus membuat si anak tertarik untuk belajar kata yang sama dengan variasi media belajar. Misalnya: untuk belajar kata kerja naik-naik-naik – meluncur, pertama orang tua dapat mengajak anak ke playland atau taman bermain yang memiliki seluncuran (slurudan). Orang tua  terus menerus memberikan masukan kata berupa naik-naik-naik ketika si anak berusaha untuk naik ke puncak seluncuran, setelah mulai seluncur, orang tua dapat menggunakan kata meluncurrrr…. Lakukan terus selama si anak menggunakan mainan seluncuran itu di taman bermain.

Satu Kegiatan, Banyak Variasi

Orang tua dapat mengulangi adegan tersebut dengan menggunakan media mainan ketika di rumah sehingga si anak dapat mulai mengingat dan memahami kata “naik-naik-naik” dan “meluncur”. Ketika anak makin mudah berimajenasi, sebuah tumpukan buku yang disusun berundak dengan sebuah buku miring diujungnya sehingga menyerupai seluncuran pun dapat digunakan untuk memberi masukan kata “naik-naik-naik” dan “meluncur”. Artinya untuk memasukkan kata naik-naik-naik dan meluncur, Ayah Bunda sudah menggunakan 3 variasi permainan yang berbeda. Walaupun melelahkan, tapi pasti menyenangkan.

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya

Tinggalkan Balasan