Press "Enter" to skip to content

Auditory Verbal Therapy (AVT)

Last updated on Maret 22, 2020

Ketika hasil skrining pendengaran yang kita lakukan kepada anak menyatakan bahwa anak memiliki gangguan pendengaran atau tuna rungu, maka dokter akan memberikan saran agar anak menggunakan alat bantu dengar kemudian menjalani auditory verbal therapy. Jadi, apa itu Terapi AVT?

Auditory Verbal Therapy adalah terapi untuk anak gangguan pendengaran yang mengembangkan kemampuan berkomunikasi nya melalui penggunaan alat bantu dengar, implan koklea, dan FM System dengan penerapan strategi dan teknik auditori verbal bersama orangtua.

Auditory Verbal Therapy memiliki filosofi dan prinsip khusus dalam penerapannya sehingga terapi ini berbeda dengan jenis terapi lainnya.

Terapi Auditori Verbal di Kasoem Semarang
Terapi Auditori Verbal di Kasoem Hearing Center Semarang (5y3m)

Filosofi Terapi Auditori Verbal

Auditory Verbal Therapy sebagai sebuah keilmuan memiliki beberapa filosofi yang oleh Joanna Stith dijabarkan sebagai berikut:

  1. Anak dengan gangguan pendengaran / tunarungu dapat tumbuh dalam lingkungan belajar umum (lingkungan belajar anak tanpa disertai gangguan pendengaran). Anak dapat menjadi anak yang mandiri, mudah beradaptasi, dan berkontribusi dalam masyarat (yang mayoritas berbahasa verbal).
  2. Orangtua merupakan fokus utama dari rangkaian terapi AVT. Orangtua diharapkan menggunakan bahasa natural dan bahasa verbal untuk berkomunikasi dengan anak.
  3. AVT digunakan untuk membantu anak belajar mendengar, belajar berbahasa verbal, kemudian berbicara.
  4. AVT akan memaksimalkan sisa pendengaran anak untuk mendeteksi suara. Semakin dini identifikasi gangguan pendengaran disertai intervensi (terapi rutin), maka akan membantu anak mengurangi keterlambatan penguasaan bahasa.
  5. AVT menyarankan orangtua agar anak terbiasa untuk berinteraksi bersama teman normal seusianya di playgroup (PAUD) atau TK sehingga sekolah tersebut dapat meningkatkan motivasi anak untuk memodel berbahasa natural.
  6. AVT mengajarkan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan monitoring bahasa secara mandiri. Anak secara sadar akan belajar mendengarkan suara nya sendiri selama melakukan percakapan natural dan berbicara dengan suara yang natural pula.
  7. Prinsip-Prinsip AVT harus disepakati antara Terapis AVT dengan orangtua, kemudian dilakukan bersama-sama dalam kegiatan / permainan menyenangkan yang mengajarkan kepada anak cara berkomunikasi secara natural.

Jadi, apa yang membedakan Terapi AVT dengan jenis terapi lainnya?

Metode AVT memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Belajar melalui pendengaran
  • Anak harus mendengar
  • Kita berbicara dengan jelas
  • Kita berbicara secara natural
  • Orang tua sebagai guru / pendidik
  • Terapi dilakukan kepada satu orang anak
  • Berbasis pada percakapan.

Sedangkan, terapi yang sangat menekankan ciri-ciri sebagai berikut, berarti tidak menggunakan metode AVT :

  • Belajar melalui petunjuk visual
  • Tidak mengharuskan anak mendengar
  • Kita berbicara dengan keras atau pelan
  • Kita berbicara dengan bahasa sederhana
  • Orangtua sebagai pengamat
  • Terapi dilakukan berkelompok
  • Berbasis pada drill (pengulangan).

Prinsip Auditory Verbal Therapy

Prinsip AVT tertuang dalam Auditory Verbal Position Statement (Joanna Stith), yaitu:

  1. Kita harus mendeteksi ketidakmampuan mendengar sedini mungkin melalui skrining pendengaran. Idealnya, skrining pendengaran dilakukan pada bayi baru lahir dan selama masa pertumbuhan.
  2. Kita harus belajar secara cepat dan agresif segala informasi tentang gangguan pendengaran pada anak. Termasuk mengusahakan secepatnya untuk anak mendapatkan akses pendengaran melalui penggunaan alat bantu dengar, implan koklea, BAHA, atau ABI.
  3. Orangtua sebagai advokat atau wali anak meminta bantuan terapis AVT untuk mengarahkan, memberi petunjuk, dan memberi dukungan kepada kita atau pengasuh sebagai model utama untuk memahami penggunaan AVT dalam segala situasi. Terapis juga memberikan penyadaran kepada orangtua mengenai akibat ketunarunguan dan gangguan pendengaran kepada seluruh keluarga apabila tidak ditangai dengan cepat dan tepat.
  4. AVT berusaha menolong anak untuk menggunakan kemampuan mendengar ke dalam komunikasi dan keterampilan sosial.
  5. AVT mendukung perkembangan pendengaran dan kemampuan bicara melalui pengajaran satu anak-satu terapis.
  6. AVT berupaya membantu anak memonitor suara mereka sendiri dan suara lainnya dalam rangka memperkaya speech intelegibel nya.
  7. AVT secara bertahap akan mengajarkan kemampuan mendengar, berbahasa (language), berujar (speech), dan memahami (kognisi) dalam rangka stimulasi percakapan secara natural.
  8. AVT akan terus memberikan masukan dan mengevaluasi perkembangan anak berdasarkan tahapan perkembangan anak, termasuk memodifikasi program ketika diperlukan.
  9. AVT berusaha mempersiapkan anak dan sekolah umum yang menampung anak agar berkembang secara inklusi.

Fakta Menarik Tentang Anak Dengan Gangguan Pendengaran

  • 1.6% dari 39 juta anak usia sekolah di Amerika Serikat, 632.000 anak mengalami gangguan pendengaran.
  • Gangguan pendengaran merupakan kelainan sejak lahir terbanyak, tapi kebanyakan anak dengan gangguan pendengaran masih memiliki sisa pendengaran yang cukup baik.
  • Mayoritas dari anak-anak itu, jika mendapatkan teknologi pendengaran yang sesuai, mereka dapat mendengar hampir semua spektrum wicara.
  • Anak-anak ini dapat belajar berbicara melalui pendengaran karena mereka telah mendapatkan akses terhadap bahasa ujaran.
  • Mendengarkan merupakan dorongan utama dalam membentuk kepribadian anak, sosial dan akademik.
  • AVT dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan kemampuan bercakap-cakap atau berkomunikasi.
  • Dalam rangka mendapatkan manfaat dari “periode kritis” tumbuh kembang, maka identifikasi gangguan pendengaran, penggunaan teknologi medis yang sesuai, dan stimulasi pendengaran harus dilakukan sedini mungkin.
  • Jika “mendengar” tidak didapatkan selama periode kritis, maka kemampuan anak dalam memahami informasi penuh-makna akan menurun.
  • Informasi terbaru tentang pengembangan bahasa anak agar mendekati bahasa normal telah menyediakan kerangka kerja dan justifikasi nya di dalam praktik AVT.
  • Setelah bahasa verbal berkembang, maka kemampuan membaca nya pun akan turut berkembang.

Pentingnya Auditory-Verbal Therapy pada Anak Tuna Rungu

  • Ketika alat bantu dengar sudah sesuai, anak dengan gangguan pendengaran sangat berat masih dapat mendeteksi suara wicara, walaupun tidak seluruh nya.
  • Anak yang mengalami gangguan pendengaran tidak secara otomatis menjadi pembelajar visual (misalnya menggunakan bahasa isyarat), mereka masih bisa menjadi pembelajar auditori.
  • Seorang anak memahami bahasa secara lebih efektif melalui kegiatan interaksi yang penuh-makna secara konsisten dan terus-menerus di dalam lingkungan yang mendukung nya.
  • Ketika kemampuan berbahasa verbal dengan “mendengar” ini berkembang, maka kemampuan membaca anak juga akan meningkat.
  • Orangtua di dalam program AVT tidak perlu mempelajari bahasa isyarat, tetapi belajar strategi dan teknik auditori verbal.
  • AVT menggunakan dan mendorong anak unruk menggunakan pendengaran dengan maksimal, dan menekankan pada kemampuan mendengar daripada kemampuan melihat.
  • AVT membutuhkan pendekatan tim untuk terapi sehingga memungkinkan lingkungan pendidikan yang lebih lengkap.

Mengapa Seorang Anak Dengan Gangguan Pendengaran Harus Belajar Mendengar?

  • Seorang anak dengan pendengaran normal sudah mulai belajar mendengar bunyi lingkungan sejak di dalam kandungan. Mereka memperhatikan bahwa tiap suara memiliki makna. Mereka belajar mengenali, memahami, mengujarkan kata-kata sederhana. Seiring pertumbuhan nya, mereka mulai menambah kosakata dan kemampuan berbahasa kepada orang lain.
  • Seorang anak dengan gangguan pendengaran dapat memulai berkomunikasi dengan tahapan yang sama seperti anak dengan pendengaran normal. Namun, mereka membutuhkan bantuan untuk mendeteksi bunyi dan mengenali bunyi di sekitar. Mereka harus diajari bahwa mendengar adalah kegiatan yang berguna dan penting sebagai sarana berkomunikasi secara verbal.
  • Seorang anak dengan gangguan pendengaran dapat belajar mendengar melalui penggunaan alat bantu dengar dan implan koklea. Pilihan belajar mendengar seringkali diabaikan oleh orangtua dengan alasan mereka kurang mendengar saja, padahal kurang pendengaran berdampak besar ketika anak mulai bersekolah.

Pertanyaan Orangtua tentang Terapi Auditori Verbal

Menurut From Hear in Dallas, Co. dalam artikel Stitch ini, ada beberapa pertanyaan yang sering orang tua ingin ketahui tentang terapi AVT.

Mengapa Terapi Auditory Verbal berbeda dengan jenis terapi lain nya?

Banyak terapis dengan masing-masing teknik yang memberikan pelayanan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi seorang anak dengan gangguan pendengaran. Beberapa terapis mengajarkan American Sign Language, sementara yang lainnya mengajarkan Komunikasi Total, Cued Speech atau teknik lain yang ada di beberapa tempat terapi lain. Sebenarnya, hanya sekitar 205 orang di dunia yang mendapatkan sertifikasi sebagai Terapis Auditory Verbal yang berkemampuan untuk menyediakan sesi terapi, pelatihan kepada orangtua, dan pelayanan advokasi ketika anak mulai bersekolah umum yang menggunakan indra pendengaran dalam kegiatan belajar.

Siapa yang menyediakan pelayanan Auditory Verbal? 

Terapis Auditori Verbal Tersertifikasi adalah seseorang yang terlatih secara keilmuan dan praktik dalam menjalankan terapi ini. Sedangkan, Praktisi Auditori Verbal adalah seseorang yang tidak tersertifikasi namun mengikuti prinsip AVT dan mendapatkan pelatihan khusus terlebih dahulu. Orangtua dapat memastikan apakah pendekatan yang terapis lakukan tersebut benar-benar mengusung konsep auditori verbal melalui diskusi mendalam. Terapis yang menggunakan pendekatan AVT akan menjelaskan langkah-langkah belajar mendengar dan berbicara sesuai dengan ciri-ciri terapi AVT. Bertemu dengan beberapa terapis yang berbeda dalam pendekatan akan membantu orangtua dalam menentukan program yang tepat untuk anak. Misalnya, apakah anak juga membutuhkan terapi okupasi yang dapat membantu anak belajar memahami sensor dalam tubuh, dll.

Mengapa Auditory Verbal Therapy tidak disediakan di sekolah?

Bila dibandingkan dengan jenis komunikasi dan pembelajaran untuk anak dengan gangguan pendengaran yang lain, manajemen Auditory Verbal masih tergolong baru. Tetapi, ketertarikan pada bidang ini semakin membesar dengan adanya perkembangan Alat Bantu Dengar Digital, FM System, Implan Koklea, dan Sistem Amplifikasi Kelas. Banyak pengajar anak gangguan dengar di sekolah umum yang dilatih sebelum manajemen auditory verbal dipahami. Peran penting seorang terapis Auditory Verbal adalah menyediakan dukungan kepada staf sekolah untuk menemukan bentuk pendidikan yang terbaik pada setiap anak. Dukungan tersebut diantaranya adalah observasi kelas, rekomendasi cara bahasa, modifikasi kurikulum, sesi demonstrasi di dalam kelas, dll.

Dapatkah Auditory-Verbal digunakan bersama metode lain nya?

Filosofi Auditory Verbal Therapy menggunakan prinsip-prinsip dengan desain khusus yang harus diikuti untuk memaksimalkan penggunaan pendengaran dalam kegiatan belajar. AVT tidak menggunakan komunikasi visual formal seperti bahasa isyarat dan cued speech. Riset menunjukkan bahwa anak yang tidak menggunakan bahasa isyarat selama belajar dapat berkembang lebih baik dalam menggunakan pendengaran dan berbicara nya. Memodifikasi pendekatan AVT sangat dipengaruhi kasus per kasus, tergantung si anak, keluarga, dan faktor komunitas lingkungan.

Kapan usia terbaik untuk memulai Terapi Auditory Verbal?

Semakin belia si anak maka semakin bagus. Tidak ada istilah terlalu muda untuk menerapkan pendekatan AVT. Segera setelah bayi mendapatkan teknologi pendengaran yang sesuai (Fitting Alat Bantu Dengar atau Mapping Implan Koklea telah dilakukan dengan baik), maka terapi sebaiknya segera dimulai. Karena otak manusia itu berkembang dengan cepat justru ketika masih muda. Tahun-tahun awal kelahiran harus dimanfaatkan dengan baik dimulai dengan terapi auditory verbal secepatnya.

Seberapa sering sebaiknya auditory verbal therapy di klinik dilakukan?

Pada banyak kota di Amerika, seorang anak menjalani terapi auditory verbal satu – dua kali dalam seminggu. Anak dan orangtua berpartisipasi bersama-sama dengan Terapis AVT. Keluarga yang terkendala dengan jarak, biasanya mendapatkan lebih sedikit sesi AVT. Atau terapi pada akhir pekan saja. Sebenarnya, jumlah terapi yang didapatkan anak bukan faktor utama dalam perkembangan anak, tetapi jumlah waktu yang orangtua berikan bersama anak berdialog secara verbal dan belajar berbahasa adalah faktor utamanya.

Apakah terapi AVT masuk dalam asuransi kesehatan?

Hal ini tergantung kepada terapis, kebijakan polis asuransi, dan daerah dimana kebijakan kesehatan bisa berbeda-beda. Kadang ada kebijakan yang hanya menerima untuk anak dengan alat bantu dengar saja. Ada juga kebijakan pada kebutuhan terapi untuk mengembalikan kemampuan berbicara, berbahasa, atau fungsi pendengaran yang mengalami gangguan karena kecelakaan atau sakit. Ada juga yang menanggung termasuk anak dengan gangguan dengar sejak lahir.

Hasil apa yang ingin diraih melalui Manajemen Auditory Verbal?

Generasi awal terapis yang lulus dari program Auditory Verbal di Amerika Utara melalui riset yang berhati-hati (Goldberg dan Flexer, 1993) menyimpulkan bahwa ketika seorang subyek telah terlatih mendengar melalui alat bantu dengar (tanpa implan koklea), mayoritas melaporkan bahwa mereka berbaur dalam komunitas mendengar, menerima pendidikan umum, tidak menggunakan bahasa isyarat, mampu menggunakan telepon, dan meraih cita-cita yang mereka impikan. Hasil dari pelatihan Auditory Verbal sangat tergantung usia anak, keberadaan gangguan penyerta lain nya, tingkat partisipasi orangtua, ketersediaan akses terhadap pelayanan pendengaran, program pendidikan yang dipilih, dll. Tujuan dari Terapi Auditory Verbal adalah untuk memaksimalkan penggunaan pendengaran anak. Namun, respon tiap anak memang berbeda-beda.

Bagaimana seorang terapis mengajarkan kepada orangtua cara terapi AVT di klinik?

Selama aktivitas terapi auditory verbal berjalan, Terapis AVT berusaha mengajarkan kepada orangtua tentang strategi dan teknik auditori verbal.

  • Strategi auditory verbal adalah rencana spesifik yang dapat digunakan terapis untuk meraih target terapi.
  • Teknik auditori verbal adalah kemampuan seorang terapis AVT dalam membawakan strategi selama kegiatan AVT berjalan.

Orangtua memperhatikan bagaimana teknik seorang terapis dalam mempergunakan strategi-strategi AVT selama terapi berlangsung. Orangtua harus peka dan jeli sehingga mereka dapat mempraktikkan kegiatan sejenis ketika di rumah. Sherri Fickenscher dkk mengungkapkan bahwa setidaknya ada 19 strategi yang dapat diajarkan terapis AVT kepada orangtua dalam berbagai kesempatan terapi. Strategi-strategi auditori verbal tersebut adalah :

  1. Acoustic Highlighting (Penekanan Akustik)
  2. Ask, “What did you Hear?” (Tanyakan, “Apa yang Kamu Dengar?”)
  3. Auditory Bombardment (Membombardir secara Auditori)
  4. Auditory Closure
  5. Auditory First (Mendengar dengan Baik Merupakan Hal Utama)
  6. Auditory Sandwich (Sandwich Auditori)
  7. Expand / Extend
  8. Expectant Look (Tatapan Penuh Harap)
  9. Joint Attention (Bergabung Dengan Aktivitas Anak)
  10. Model Language (Memberi Contoh Berbahasa)
  11. Motherese (Bahasa Ibu)
  12. Open Ended Question (Pertanyaan Dengan Jawaban Terbuka)
  13. Optimal Position (Posisi Optimal Dalam Mendengar)
  14. Repetition (Pengulangan)
  15. Sabotage (Sabotase)
  16. Self Talk and Paralel Talk (Membicarakan Aktivitas Pengasuh dan Membicarakan Aktivitas yang Dilakukan Bersama)
  17. Take Turns (Bergantian dalam Memimpin Permainan)
  18. Wait Time (Menunggu Giliran dalam Permainan)
  19. Whisper (Berbisik)

 

Terapi AVT : Membangun Suasana Belajar Untuk Anak Gangguan Pendengaran

  • Berbicara cukup dekat dengan mikrofon Alat Bantu Dengar atau Implan Koklea anak.
  • Berbicara dengan tenang, dengan volume yang teratur. Menaikkan volume suara akan mengubah cara bicara, yang seringkali membuat susah dipahami.
  • Gunakan kecepatan berbicara yang sedikit lebih lambat.
  • Minimalisasi suara latar yang bising; matikan kipas angin, TV, AC, keran air, dll.
  • Gunakan kalimat yang mengandung pengulangan dan memiliki kekayaan melodi, ekspresi dan berima ketika berbicara.
  • Gunakan strategi acoustic highlighting untuk meningkatkan kemampuan mendengar bahasa lisan.

Bagaimana Cara Memulai Terapi AVT?

Ling Six Sounds Test

Lakukan Ling 6 sound test 3 kali sehari untuk memastikan alat bantu dengar dan implan koklea berfungsi dengan benar. Ling 6 sounds tersebut adalah : “ah, ooo, eee, m, sh, s.”

Belajar Kosakata Pertama Berdasarkan Simser’s Highlighting Vocabulary

Kendaraan
Pesawat (a-a-a)
Kereta (oo-oo-oo)
Mobil (brum-brum)
Kapal (p-p-p –unvoiced/tanpa suara)
Bis (bip-bip)

Suara Hewan
Sapi (mooo)
Kucing (miaw)
Babi (oink-oink)
Burung (cuit-cuit)
Burung hantu (huuu huuu)
Anjing (guk-guk)
Domba (baaa)
Kodok (hap-hap-hap)
Bebek (kwek-kwek)
Singa (haum-haum)
Kuda (neigh)
Ikan (swish)
Ayam (kok kok petok)
Monyet (ee-ee-ee)
Beruang (grr-grr)

Kata Kerja
Tekan-tekan ke bawah
mmm wangi (cium bunga)
Bangun
Pop-pop gelembung
Sshhhh tidur
Duduk
Cuci-cuci tangan
Mari minum
Tiup-tiup bulu
Jalan-jalan-jalan
Pantul-pantul-bola
Naik-naik-naik (tangga; dan angkat anak dari bawah ke dekapan)
Berputar-putar
Potong-potong pisang nya
Sisir rambut, Sikat gigi
Lompat-lompat-lompat

Kata Sifat
Ini panas
Semuanya hilang
Ini kotor
Ini lembut
Ini rusak
Ini basah
Ini lengket

Kata Benda
Jam berbunyi tik-tok
Hai bayi
Aku mama, aku papa
Itu sepatu ku
Naik-naik-meluncur wii-iiii
Ini mata ku, hidung, mulut
Lihat ikan
Badut berkata ha ha ha
Santa berkata ho ho ho

Kata Milik
Itu punya ku
Berikan pada ku atau Kasih ke Mama

Kalimat sederhana
Da dah
Lihat itu
Ooh ini berat
O oh sakit
Aku mau …..
Tidak boleh, tidak boleh disentuh
O oh jatuh
Wah cantik
Mmmm enak
Waaah, kotornya
Senangnya
Stop Berhenti
Brrrr dingin
Tolong aku
Aku mau lagi
Ambil itu
Tunggu sebentar

 

Apa yang Terapis AVT dan Orangtua Harus Lakukan?

Menurut The Auditory/Verbal Network, Inc.February 1998 dalam artikel Joanna Stith ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak dengan gangguan pendengaran.

Panduan untuk Orangtua:  Usia 0-6 Tahun

Mengembangkan Kemampuan Wicara dan Bahasa Secara Normal

  • Berbicara secara natural dengan anak. Orangtua tidak perlu berusaha membentuk mulut (monyong) dan memperlihatkan posisi lidah agar anak menirukan karena hal ini tidak natural.
  • Tekankan penggunaan bunyi huruf, seperti yang biasa ibu lakukan bersama anak yang belajar bicara pada umum nya (Strategi Motherese).
  • Pahami perkembangan bahasa dan wicara anak dengan pendengaran normal.
  • Penggunaan Strategi Take Turns pada saat terapi akan memberikan kesempatan kepada anak untuk memproses apa yang orang tua bicarakan dan merespon nya. Berikan waktu pada nya untuk memberikan tanggapan / respon (Strategi Wait Time).
  • Ajarkan pada anak untuk menggunakan bubbling dan jargoning seperti bayi dengan pendengaran normal..

Mempelajari Perilaku (Learning Behaviors)

Cermati perilaku-perilaku yang menunjukkan bahwa anak telah menggunakan pendengaran nya untuk belajar.

  • Orang tua perlu mencatat permainan bunyi-bunyian yang dilakukan di rumah serta respon yang diberikan anak ketika mendengar suara tersebut.
  • Orang tua mengajari anak untuk merespon jika mendengar sebuah bunyi.
  • Berkan waktu kepada anak untuk merespon setiap bunyi yang kita berikan (Pause Time atau Wait Time)

Program Manajemen dan Perencanaan AVT

Program Manajemen dan Perencanaan AVT akan membantu orangtua untuk memahami tujuan dan prosedur AVT.

  • Memberi pengertian kepada orangtua bahwa tujuan utama terapi adalah mengajarkan kepada anak agar menyadari suara, memperhatikan suara, kemudian menggunakan suara.
  • Memberi saran untuk menyimpan seluruh perkembangan anak, baik yang berupa catatan kertas maupun video rekaman.
  • Mengingatkan orang tua untuk menggunakan tahapan perkembangan bahasa anak dengan pendengaran normal ketika berdiskusi tentang anak dengan gangguan pendengaran nya.
  • Memberi saran jika dibutuhkan koordinasi dengan profesional lain yang berhubungan dengan anak.

 

Bagaimana Cara Terapi AVT Berkerja?

Cara terapi AVT dalam seluruh sesi Auditory-Verbal akan senantiasa melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Setelah anak memiliki kemampuan mendengar suara pada area wicara (lihat speech banana), baik melalui alat bantu dengar atau implan koklea, selanjutnya kita membantunya untuk mengembangkan kemampuan mendengar, kemampuan berbahasa, dan keterampilan berbicara dengan pengajaran hampir seperti anak tanpa gangguan pendengaran.
  2. Melalui kegiatan sehari-hari yang penuh makna (permainan, bercerita, dll), si anak mulai mengembangkan bahasa reseptif. Bahasa reseptif ini secara perlahan akan membantu anak dalam memahami bagaimana cara menggunakan bahasa lisan.
  3. Seiring kemampuan mendengar yang menguat dan didukung pondasi bahasa reseptif yang kaya, maka anak akan mulai menggunakan bahasa ekspresif secara spontan.

 

Auditory-Verbal Therapy:  Apa Yang Perlu Dipersiapkan !!

Terapi Auditory Verbal bertujuan untuk membantu anak mengintegrasikan pendengaran, bahasa, dan ucapan spontan ke dalam kepribadian anak. Melalui permainan dan keterlibatan aktif dalam situasi sehari-hari, mendengarkan dapat menjadi cara hidup (Pollack 1985: Estabrooks & Samson 1992). Terapi auditory verbal memberi penekanan kuat pada pendeteksian gangguan pendengaran sejak dini, pemasangan alat bantu pendengaran sejak dini, terapi berdasarkan diagnostik anak dan berkelanjutan; serta kemitraan yang kuat antara keluarga dengan para profesional.

Membangun pondasi dari belajar mendengar membutuhkan:

  1. Menggunakan alat bantu dengar atau implan koklea sepanjang waktu (waking hours).
  2. Memastikan kondisi alat bantu dengar atau implan koklea berkali-kali dalam sehari. Hal ini dapat dilakukan dengan cek Ling 6 Sounds, cek perilaku mendengar anak ketika diberikan sebuah bunyi, menoleh ketika dipanggil, merespon secara konsisten dari hari ke hari.
  3. Menggunakan artikulasi yang jelas dan benar ketika berada di sekitar anak.
  4. Mengurangi segala kebisingan di lingkungan belajar anak.

Hal-Hal Yang Mendukung Keberhasilan Terapi AVT

Orangtua adalah advokat anak berkebutuhan khusus, jadi kita harus mampu menjadi seseorang yang rapi dalam mendokumentasikan perkembangan anak.

  • Bawa catatan sendiri selama terapi AVT berlangsung. Gunakan binder dengan 3 ring dengan kantong dan pembatas untuk membantu kita terorganisir. Hal ini akan bermanfaat ketika kita menemukan target AVT yang baru dari Praktisi AVT, ide aktivitas AVT di rumah, dan mencatat perkembangan anak selama seminggu.
  • Membuat sebuah Buku Pengalaman (Experience Book) bersama anak. Hal ini sangat berguna untuk mencatat aktivitas harian bersama anak. Bentuknya dapat berupa album foto, buku gambar, atau buku catatan. Hal ini berguna ketika kita melihat aktivitas-aktivitas yang dilakukan selama seminggu kemudian didiskusikan bersama Praktisi AVT. Hal ini juga membantu menentukan aktivitas harian selanjutnya untuk seminggu ke depan. Seringkali, dengan anak yang baru memulai, kita cukup membuat gambar sederhana dari sebuah benda, Bahkan objek kecil sekalipun dapat menjadi aktivitas yang dilalui seharian. Seiring perkembangan nya, orangtua dan anak akan mulai menulis sub tema dengan menggambar sebuah kejadian yang mengandung cerita.
  • Orang tua akan sering diminta untuk merencanakan beberapa aktivitas dan membawa nya ke tempat terapi AVT. Hal ini akan membantu orang tua untuk berpikir terbuka dengan tujuan terapi dan menemukan cara baru ketika bertemu dengan terapis AVT.
  • Orang tua akan belajar bersama Terapis AVT di dalam ruang terapi. Terapis akan memberikan pengajaran kepada orang tua atau pengasuh tentang bagaimana cara bermain dengan anak untuk membantu mereka belajar mendengar dan berbicara. Orang tua adalah guru utama dalam terapi auditory verbal. Secara khusus, hal ini dinamakan Teknik dan Strategi Auditory Verbal.

 

Apa Yang Kita Harapkan Dari Anak Selama Menjalani Terapi AVT ?

Diadaptasi dari www.ldonline.org dalam artikel Joanna Stith, ada beberapa hal yang dapat kita harapkan dari perkembangan anak selama proses AVT kita jalankan.

Target Terapi AVT Pada Tahun Pertama

  • Anak berhasil mengikuti 1 perintah sederhana
  • Anak menyadari permanensi objek. Yakni memahami bahwa objek tetap ada, walaupun objek sedang tidak terlihat.
  • Anak mengoceh ketika diajak berbicara.
  • Anak mencari asal sumber suara
  • Anak berbicara dengan cermin dan mainan
  • Anak bersikap tenang ketika menggunakan alat bantu dengar, dan berisik ketika tidak menggunakan.
  • Anak merespon suara yang keras melalui senyuman, terdiam, terpaku.
  • Anak merespon mainan yang mengeluarkan suara bising
  • Anak merespon bunyi-bunyi di sekitar (bel pintu, telepon, ketukan pintu, gonggongan anjing, dll)
  • Anak merespon namanya ketika dipanggil dari jarak yang cukup jauh.
  • Anak bereaksi ketika suara bising tiba-tiba berhenti.
  • Anak memberikan petunjuk ketika mendengar sesuatu. Misalnya menunjuk area telinga (jika anak sudah dilatih cara merespon nya) dari yang awalnya hanya terlihat bingung.

Aktivitas yang Mendorong Perkembangan Bahasa

  • Berbicara kepada anak terus menerus. Kita harus meyakini bahwa anak mendengar suara kita.
  • Tanggapi seluruh celotehan anak (Strategi Motherese)
  • Berbicara terus kepada anak selama kita membersamai nya sepanjang hari (mengganti popok, memakaikan baju, menyiapkan makanan, pergi ke toko, dll).
  • Bacakan buku berwarna kepada anak; bicarakan apa yang terjadi di dalam gambar.
  • Ceritakan lagu anak-anak dan nyanyikan lagu nya
  • Ajari anak nama-nama benda di sekitar kita dan nama orang-orang yang akrab melalui banyak pengulangan
  • Bawa anak Anda ke lokasi baru dan situasi baru
  • Mainkan game sederhana dengan anak, seperti “peek-a-boo” dan “pat-a-cake”
  • Tutupi mainan favorit mereka (sambil kita perhatikan) dan tunggu tanggapan si anak.
  • Beri anak beberapa mainan sehingga dia mendengar bunyi yang berbeda-beda.

Ekspektasi Selanjutnya

  • Berikan contoh dengan berhenti bermain ketika mendengar kata “tidak”.
  • Gunakan kata dengan berbeda jumlah dan silabel nya.
  • Mencocokkan benda yang sama.
  • Mengindentifikasi bagian wajah (mata, hidung, mulut, rambut).
  • Meniru berbagai babbling anak.

Aktivitas yang Mendorong Perkembangan Bahasa Anak

  • Berikan hadiah ketika anak berhasil mengucapkan kosakata baru.
  • Bicaralah dengan anak tentang semua hal yang sedang dilakukan bersama
  • Bicarakan beberapa hal sebelum orang tua dan anak pergi ke suatu tempat, kemudian bicarakan beberapa hal ketika berada di tempat tujuan, dan bicarakan kembali ketika sudah kembali di rumah.
  • Orang tua harus melihat anak ketika dia sedang berbicara kepada kita
  • Jelaskan apa yang anak Anda lakukan, rasakan, dengar (Strategi Paralel Talk)
  • Biarkan anak Anda mendengarkan kaset dan CD anak-anak
  • Puji upaya anak Anda ketika berusaha berkomunikasi
  • Ulangi kata-kata baru berulang-ulang.
  • Ajak anak Anda “mendengarkan jalan-jalan”
  • Biarkan anak Anda memberitahu Anda jawaban atas pertanyaan sederhana
  • Baca buku setiap hari, sebagai bagian dari rutinitas harian.
  • Dengarkan dengan penuh perhatian ketika anak Anda berbicara kepada Anda.
  • Jelaskan apa yang akan orang tua lakukan, rencanakan, pikirkan
  • Mintalah anak menyampaikan pesan sederhana untuk orang tua
  • Ajukan pertanyaan untuk membuat anak berpikir dan berbicara
  • Tunjukkan kepada anak bahwa kita mengerti apa yang ia katakan, sambil menjawab, tersenyum, menganggukkan kepala
  • Perluas pengucapan anak. Jika dia berkata, “lebih banyak jus”, kita bisa memperluas menjadi, “Oooh, Alkha ingin lebih banyak jus.”

Semoga informasi dari papaalkha.com tentang apa itu terapi auditory verbal dapat dijawab pada artikel terjemahan ini. Semoga Ayah dan Bunda dapat mulai mengambil langkah-langkah kongret dalam membersamai anak dengan gangguan dengar ketika di rumah menggunakan pendekatan auditory verbal.


Sumber:
Joanna Stith, Ph.D. CCC-SLP, LSLS Cert. AVT. 2014. What is Auditory-Verbal Therapy? A Parent Packet. Link pengunduhan.

Fickenscher, Sherri, et all. 2016. Auditory Verbal Strategies to Build Listening and Spoken Language Skills. Dapat diunduh di sini.