Press "Enter" to skip to content

Auditory Verbal Therapy (AVT)

Last updated on Desember 3, 2019

Ketika hasil skrining pendengaran yang kita lakukan kepada anak menyatakan bahwa anak memiliki gangguan pendengaran atau tuna rungu, maka dokter akan memberikan saran agar anak menggunakan alat bantu dengar kemudian menjalani terapi auditori verbal.

Apa itu Terapi Auditori Verbal? Auditory Verbal Therapy (AVT) adalah terapi untuk anak tuna rungu atau Gangguan Pendengaran yang mengembangkan kemampuan berkomunikasi nya melalui penggunaan alat bantu dengar, implan koklea, dan FM System dengan penerapan strategi dan teknik auditori verbal bersama orangtua. Auditory Verbal Therapy memiliki filosofi dan prinsip khusus dalam penerapannya sehingga terapi ini berbeda dengan jenis terapi lainnya.

Terapi Auditori Verbal di Kasoem Semarang
Terapi Auditori Verbal di Kasoem Hearing Center Semarang (5y3m)

Filosofi Terapi Auditori Verbal

Auditory Verbal Therapy sebagai sebuah keilmuan memiliki beberapa filosofi yang oleh Joanna Stith dijabarkan sebagai berikut:

  1. Anak dengan gangguan pendengaran / tunarungu dapat tumbuh dalam lingkungan belajar umum (lingkungan belajar anak tanpa disertai gangguan pendengaran). Anak dapat menjadi anak yang mandiri, mudah beradaptasi, dan berkontribusi dalam masyarat (yang mayoritas berbahasa verbal).
  2. Orangtua merupakan fokus utama dari rangkaian terapi AVT. Orangtua diharapkan menggunakan bahasa natural dan bahasa verbal untuk berkomunikasi dengan anak.
  3. AVT digunakan untuk membantu anak belajar mendengar, belajar berbahasa verbal, kemudian berbicara.
  4. AVT akan memaksimalkan sisa pendengaran anak untuk mendeteksi suara. Semakin dini identifikasi gangguan pendengaran disertai intervensi (terapi rutin), maka akan membantu anak mengurangi keterlambatan penguasaan bahasa.
  5. AVT menyarankan orangtua agar anak terbiasa untuk berinteraksi bersama teman normal seusianya di playgroup (PAUD) atau TK sehingga sekolah tersebut dapat meningkatkan motivasi anak untuk memodel berbahasa natural.
  6. AVT mengajarkan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan monitoring bahasa secara mandiri. Anak secara sadar akan belajar mendengarkan suara nya sendiri selama melakukan percakapan natural dan berbicara dengan suara yang natural pula.
  7. Prinsip-Prinsip AVT harus disepakati antara Terapis AVT dengan orangtua, kemudian dilakukan bersama-sama dalam kegiatan / permainan menyenangkan yang mengajarkan kepada anak cara berkomunikasi secara natural.

Jadi, apa yang membedakan Terapi Mendengar (AVT) dengan jenis terapi lainnya?

Metode AVT mensyaratkan :

  • Belajar menggunakan pendengaran
  • Anak harus mendengar
  • Kita berbicara dengan jelas
  • Kita berbicara secara natural
  • Orangtua sebagai guru / pendidik
  • Terapi dilakukan kepada satu orang anak
  • Berbasis pada percakapan.

Sedangkan, terapi yang sangat menekankan hal ini, berarti tidak menggunakan metode AVT :

  • Belajar melalui petunjuk visual
  • Tidak mengharuskan anak mendengar
  • Kita berbicara dengan keras atau pelan
  • Kita berbicara dengan bahasa sederhana
  • Orangtua sebagai pengamat
  • Terapi dilakukan berkelompok
  • Berbasis pada drill (pengulangan).

Prinsip Auditory Verbal Therapy

Prinsip AVT tertuang dalam Auditory Verbal Position Statement (Joanna Stith), yaitu:

  1. Kita harus mendeteksi ketidakmampuan mendengar sedini mungkin melalui skrining pendengaran. Idealnya, skrining pendengaran dilakukan pada bayi baru lahir dan selama masa pertumbuhan.
  2. Kita harus belajar secara cepat dan agresif segala informasi tentang gangguan pendengaran pada anak. Termasuk mengusahakan secepatnya untuk anak mendapatkan akses pendengaran melalui penggunaan alat bantu dengar, implan koklea, BAHA, atau ABI.
  3. Orangtua sebagai advokat atau wali anak meminta bantuan terapis AVT untuk mengarahkan, memberi petunjuk, dan memberi dukungan kepada kita atau pengasuh sebagai model utama untuk memahami penggunaan AVT dalam segala situasi. Terapis juga memberikan penyadaran kepada orangtua mengenai akibat ketunarunguan dan gangguan pendengaran kepada seluruh keluarga apabila tidak ditangai dengan cepat dan tepat.
  4. AVT berusaha menolong anak untuk menggunakan kemampuan mendengar ke dalam komunikasi dan keterampilan sosial.
  5. AVT mendukung perkembangan pendengaran dan kemampuan bicara melalui pengajaran satu anak-satu terapis.
  6. AVT berupaya membantu anak memonitor suara mereka sendiri dan suara lainnya dalam rangka memperkaya speech intelegibel nya.
  7. AVT secara bertahap akan mengajarkan kemampuan mendengar, berbahasa (language), berujar (speech), dan memahami (kognisi) dalam rangka stimulasi percakapan secara natural.
  8. AVT akan terus memberikan masukan dan mengevaluasi perkembangan anak berdasarkan tahapan perkembangan anak, termasuk memodifikasi program ketika diperlukan.
  9. AVT berusaha mempersiapkan anak dan sekolah umum yang menampung anak agar berkembang secara inklusi.

Fakta Menarik Tentang Anak Dengan Gangguan Pendengaran

  • 1.6% dari 39 juta anak usia sekolah di Amerika Serikat, 632.000 anak mengalami gangguan pendengaran.
  • Gangguan pendengaran merupakan kelainan sejak lahir terbanyak, tapi kebanyakan anak dengan gangguan pendengaran masih memiliki sisa pendengaran yang cukup baik.
  • Mayoritas dari anak-anak itu, jika mendapatkan teknologi pendengaran yang sesuai, mereka dapat mendengar hampir semua spektrum wicara.
  • Anak-anak ini dapat belajar berbicara melalui pendengaran karena mereka telah mendapatkan akses terhadap bahasa ujaran.
  • Mendengarkan merupakan dorongan utama dalam membentuk kepribadian anak, sosial dan akademik.
  • AVT dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan kemampuan bercakap-cakap atau berkomunikasi.
  • Dalam rangka mendapatkan manfaat dari “periode kritis” tumbuh kembang, maka identifikasi gangguan pendengaran, penggunaan teknologi medis yang sesuai, dan stimulasi pendengaran harus dilakukan sedini mungkin.
  • Jika “mendengar” tidak didapatkan selama periode kritis, maka kemampuan anak dalam memahami informasi penuh-makna akan menurun.
  • Informasi terbaru tentang pengembangan bahasa anak agar mendekati bahasa normal telah menyediakan kerangka kerja dan justifikasi nya di dalam praktik AVT.
  • Setelah bahasa verbal berkembang, maka kemampuan membaca nya pun akan turut berkembang.

Pentingnya Auditory-Verbal Therapy pada Anak Tuna Rungu

  • Ketika alat bantu dengar sudah sesuai, anak dengan gangguan pendengaran sangat berat masih dapat mendeteksi suara wicara, walaupun tidak seluruh nya.
  • Anak yang mengalami gangguan pendengaran tidak secara otomatis menjadi pembelajar visual (misalnya menggunakan bahasa isyarat), mereka masih bisa menjadi pembelajar auditori.
  • Seorang anak memahami bahasa secara lebih efektif melalui kegiatan interaksi yang penuh-makna secara konsisten dan terus-menerus di dalam lingkungan yang mendukung nya.
  • Ketika kemampuan berbahasa verbal dengan “mendengar” ini berkembang, maka kemampuan membaca anak juga akan meningkat.
  • Orangtua di dalam program AVT tidak perlu mempelajari bahasa isyarat, tetapi belajar strategi dan teknik auditori verbal.
  • AVT menggunakan dan mendorong anak unruk menggunakan pendengaran dengan maksimal, dan menekankan pada kemampuan mendengar daripada kemampuan melihat.
  • AVT membutuhkan pendekatan tim untuk terapi sehingga memungkinkan lingkungan pendidikan yang lebih lengkap.

Mengapa Seorang Anak Dengan Gangguan Pendengaran Harus Belajar Mendengar?

  • Seorang anak dengan pendengaran normal sudah mulai belajar mendengar bunyi lingkungan sejak di dalam kandungan. Mereka memperhatikan bahwa tiap suara memiliki makna. Mereka belajar mengenali, memahami, mengujarkan kata-kata sederhana. Seiring pertumbuhan nya, mereka mulai menambah kosakata dan kemampuan berbahasa kepada orang lain.
  • Seorang anak dengan gangguan pendengaran dapat memulai berkomunikasi dengan tahapan yang sama seperti anak dengan pendengaran normal. Namun, mereka membutuhkan bantuan untuk mendeteksi bunyi dan mengenali bunyi di sekitar. Mereka harus diajari bahwa mendengar adalah kegiatan yang berguna dan penting sebagai sarana berkomunikasi secara verbal.
  • Seorang anak dengan gangguan pendengaran dapat belajar mendengar melalui penggunaan alat bantu dengar dan implan koklea. Pilihan belajar mendengar seringkali diabaikan oleh orangtua dengan alasan mereka kurang mendengar saja, padahal kurang pendengaran berdampak besar ketika anak mulai bersekolah.

Bagaimana seorang terapis mengajarkan kepada orangtua cara terapi AVT di klinik?

  • Selama aktivitas terapi auditory verbal berjalan, Terapis AVT berusaha mengajarkan kepada orangtua tentang strategi dan teknik auditori verbal.
  • Strategi auditory verbal adalah rencana spesifik yang dapat digunakan terapis untuk meraih target terapi.
  • Teknik auditori verbal adalah kemampuan seorang terapis AVT dalam membawakan strategi selama kegiatan AVT berjalan.
  • Orangtua memperhatikan bagaimana teknik seorang terapis dalam mempergunakan strategi-strategi AVT selama terapi berlangsung. Orangtua harus peka dan jeli sehingga mereka dapat mempraktikkan kegiatan sejenis ketika di rumah.
  • Sherri Fickenscher dkk mengungkapkan bahwa setidaknya ada 19 strategi yang dapat diajarkan terapis AVT kepada orangtua dalam berbagai kesempatan terapi.
  • Strategi-strategi auditori verbal tersebut adalah :
    1. Acoustic Highlighting (Penekanan Akustik)
    2. Ask, “What did you Hear?” (Tanyakan, “Apa yang Kamu Dengar?”)
    3. Auditory Bombardment (Membombardir secara Auditori)
    4. Auditory Closure
    5. Auditory First (Mendengar dengan Baik Merupakan Hal Utama)
    6. Auditory Sandwich (Sandwich Auditori)
    7. Expand / Extend
    8. Expectant Look (Tatapan Penuh Harap)
    9. Joint Attention (Bergabung Dengan Aktivitas Anak)
    10. Model Language (Memberi Contoh Berbahasa)
    11. Motherese (Bahasa Ibu)
    12. Open Ended Question (Pertanyaan Dengan Jawaban Terbuka)
    13. Optimal Position (Posisi Optimal Dalam Mendengar)
    14. Repetition (Pengulangan)
    15. Sabotage (Sabotase)
    16. Self Talk and Paralel Talk (Membicarakan Aktivitas Pengasuh dan Membicarakan Aktivitas yang Dilakukan Bersama)
    17. Take Turns (Bergantian dalam Memimpin Permainan)
    18. Wait Time (Menunggu Giliran dalam Permainan)
    19. Whisper (Berbisik)

Sumber:
Joanna Stith, Ph.D. CCC-SLP, LSLS Cert. AVT. 2014. What is Auditory-Verbal Therapy? A Parent Packet. Link pengunduhan.

Fickenscher, Sherri, et all. 2016. Auditory Verbal Strategies to Build Listening and Spoken Language Skills. Dapat diunduh di sini.