Press "Enter" to skip to content

Membuka Diri Untuk Belajar AVT di Rumah

Last updated on September 28, 2019

Ketika orangtua berusaha mencari jalan keluar terhadap hasil tes pendengaran yang hasilnya kurang baik, maka biasanya dokter THT akan menyarankan agar kita mengikutsertakan anak untuk terapi wicara sub-auditori atau disebut Auditory Verbal Therapy. AVT merupakan sebuah keilmuan yang masih berkembang karena terapi ini membutuhkan 2 hal pokok untuk memulai kegiatan AVT, yakni (1) alat bantu dengar yang sesuai dengan gangguan pendengaran, dan (2) peran aktif orangtua sebagai advokat anak sekaligus terapis di rumah.

Setelah menjalani beberapa kali kegiatan terapi, namun anak juga tak kunjung bicara. Apakah ada kesalahan prosedur yang telah kita lakukan? Mengapa anak tak kunjung paham dengan permainan yang kita berikan? Apakah bentuk terapi yang diberikan di rumah kepada anak melebihi kemampuannya saat ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut pernah kami tanyakan saat kami berada pada 1 tahun pertama intervensi anak dengan gangguan dengar.

Jawaban mengenai efektivitas penerapan AVT kepada seorang anak sangat subyektif (tergantung si anak dan orangtua) karena itulah kita membutuhkan pertemuan secara langsung (assesment). Karena setiap anak adalah unik, dan karakter keluarga satu dengan lain juga berbeda, maka kami menyarankan kepada Ayah dan Bunda untuk:

  1. Bertemu dan meminta saran kepada Terapis AVT apabila belum yakin dengan metode AVT yang sedang dilakukan di rumah.
  2. Bertemu dan meminta saran kepada Hearing Acoustician dari penyedia ABD (Hearing Center) apabila belum yakin ABD yang digunakan telah sesuai dengan tingkat gangguan pendengaran nya.
  3. Bergabung dan aktif di dalam komunitas orangtua dengan anak gangguan pendengaran.
  4. Berkunjung untuk meminta saran dari orangtua yang Ayah dan Bunda anggap telah berhasil mendidik anaknya melalui metode AVT melalui penggunaan ABD dan CI.
  5. Memahami bahwa kesulitan belajar AVT di rumah sebagai sesuatu yang lumrah atau lazim.

Memahami Sulitnya Terapi AV (AVT) di Rumah – Empat Tahapan Kompetensi

Empat tahapan kompetensi ini umumnya diterapkan ketika supervisor perusahaan akan meningkatkan keterampilan bawahannya. Tujuannya jelas, untuk menyadarkan peserta pelatihan bahwa mempelajari keterampilan baru merupakan hal yang sangat sulit, JIKA orang tersebut tidak memahami bahwa ketidakmampuannya saat ini sangat lazim dan umum terjadi pada awal belajar. Beberapa orang bahkan menganggap keterampilan baru tidak akan memberikan manfaat bagi dirinya sehingga proses belajar ini menjadi terhambat.

Orangtua seperti Papa Alkha awalnya juga awam dalam mempraktekkan metode AVT di rumah.  Namun kami berusaha memahami bahwa ketidakmampuan ini juga merupakan tahapan belajar keterampilan baru. Kok bisa? Gimana maksudnya? Nah, Papa Alkha coba jelaskan dengan menggunakan contoh cerita yang sering kita dengar dari pengalaman orangtua ya….


membuka diri untuk belajar AVT di rumah
Empat Tahapan Kompetensi


1. Saya tidak sadar bahwa saya tidak mampu (Unconscious incompetence)

Keluarga besar yang mendapati berita bahwa cucu nya divonis dokter tidak bisa mendengar, kemudian meminta Ayah dan Bunda melakukan beberapa masukan non-medis seperti meminta jamu ke orang pintar, terapi pijat syaraf, terapi akupuntur, dll. Ayah dan Bunda yang sempat mendengarkan saran dari dokter mengenai alat bantu dengar dan auditory verbal therapy belum merasa perlu untuk menggali informasi dalam tentang jenis terapi ini.

Ayah dan Bunda tidak yakin bahwa Alat Bantu Dengar dan Auditory Verbal Therapy akan membantu anak belajar mendengar dan berbicara. Bahkan ketika informasi tentang ABD dan AVT sudah cukup banyak dibaca di Google, Ayah dan Bunda masih merasa berat dengan pilihan ini dan terbesit pikiran untuk menyerah dengan kondisi anak. Pada tahap ini, Ayah dan Bunda meyakini suatu intuisi yang salah dan lazim terjadi pada tahap unconscious incompetence. Tahap ini dapat dilalui dengan cepat, bisa juga lambat, tergantung karakteristik keluarga.

2. Saya sadar bahwa saya tidak mampu (Conscious incompetence)

Pertama kali mengikuti AVT di Aurica, saya merasa takjub bagaimana seorang anak mau diajak bekerja sama mengeluarkan suara. Pun suara itu cuma “a” saja ketika Ling’s Six Sound dikenalkan oleh Terapis. Bagi saya terasa luar biasa. Setelah mengetahui bahwa terapi AVT ini hanya berguna ketika kami berdua yang melanjutkan nya di rumah, maka langsung muncul pertanyaan, “Terus bagaimana caranya? Harus buat ruangan khusus di rumah dong? Harus beli mainan yang banyak? Harus beli buku-buku tentang AVT?” :-p Nah, pertanyaan itu muncul karena kita sedang berada pada tahap kedua dari empat tahapan kompetensi, yakni Conscious incompetence.

Pada tahap ini Ayah dan Bunda ingin bisa memahami AVT di rumah, tapi tidak tahu bagaimana cara AVT di rumah. Ayah dan Bunda sangat ingin menguasai metode AVT ini. Oleh karena itu sangat wajar ketika mempraktekkan AVT di rumah, Ayah dan Bunda sering membuat kesalahan. Yang terjadi ialah kebingungan yang menjadi-jadi. Nah, bila Ayah dan Bunda merasa bingung tentang bagaimana cara terapi AVT di rumah, bertanyalah kepada Terapis, bertanyalah kepada orangtua lain, dan rajinlah membaca informasi di internet (salah satunya blog papaalkha.com, hehe) agar dapat segera melewati tahap ini.

3. Saya sadar bahwa saya mampu (Conscious competence)

Pada tahap ini, Ayah dan Bunda sudah merasa cukup nyaman dengan melakukan terapi AVT di rumah. Ketika Ayah dan Bunda bingung, ada nomor whatsapp Terapis yang bersedia menjawab. Ada grup whatsapp yang bersedia berbagi pengalaman tentang anak dengan gangguan pendengaran, cari sendiri di google juga bisa -baru kemudian dikonfirmasi (diyakinkan) keefektifan metode nya dengan bertanya di grup. Ayah dan Bunda setiap hari membuat jadwal mengenai aktivitas apa yang dapat dilakukan esok hari, kemudian membayangkan seperti apa respon anak, dan bagaimana cara mengajarinya pada jam yang telah ditentukan.

The individual understands or knows how to do something. However, demonstrating the skill or knowledge requires concentration. It may be broken down into steps, and there is heavy conscious involvement in executing the new skill.

Wikipedia, Four Stages Of Competence

Pada tahap ini, Papa Alkha memilih untuk menulis blog. Tujuannya agar pengetahuan yang diterima dapat memberi sedikit informasi bagi orangtua lain yang masih berada pada tahap I dan tahap II, yang sedang kebingungan dengan penerapan metode AVT di rumah.

4. Tanpa sadar saya mampu (Unconscious competence)

Tahap ini umumnya hanya dilewati oleh Terapis AVT Senior yang berpengalaman mendidik banyak anak selama bertahun-tahun. Metode AVT telah menjadi bagian dari hidup dan dapat dipraktikkan dengan mudah. Bahkan kegiatan ini bisa dilakukan bersama kegiatan lainnya. Pada tahap 4, Terapis AVT senior banyak mendampingi Terapis AVT Junior dalam ketika sedang memberikan terapi kepada anak. Terapis AVT Senior juga sering mengisi seminar yang diadakan rumah sakit, Hearing Center, dan komunitas orangtua untuk melengkapi informasi yang kurang di tempat terapi. 

Sekarang Ayah dan Bunda sampai tahap mana? Mari kita lalui setiap tahapan mendengar dengan keyakinan bahwa jika orang lain bisa, saya pun bisa. Semua membutuhkan proses, cukup pastikan bahwa proses yang kita kerjakan ini sesuai dengan target dari Terapis AVT. Jadi, sekarang tidak boleh malu bertanya tentang apa dan bagaimana cara terapi AVT di rumah ya…

Sumber:

http://10107christinsiahaan.blogspot.com
https://en.wikipedia.org

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya

Tinggalkan Balasan