Hirarki Keterampilan Berbahasa Anak

Belajar bersama anak akan menyenangkan ketika kita bisa menyertai perkembangan bahasa nya dengan baik secara bertahap. Kali ini kita akan membahas Hirarki Keterampilan Berbahasa (Hierarchy of Language Skills) yang baru kami pahami setelah hampir tiga tahun mendamping Alkha belajar mendengar dan berbicara melalui Terapi Auditori Verbal. Sebetulnya teori ini lazim digunakan oleh banyak terapis ketika menangani anak dengan gangguan pendengaran, tetapi karena Terapis AVT memiliki keterbatasan waktu, maka mereka hanya menjelaskan hal-hal yang sedang berhubungan dengan target AVT anak. Terlalu banyak informasi akan membuat orangtua menjadi kebingungan sehingga sangat lumrah jika informasi ini tidak banyak dibahas secara detail. Nah, kali ini kami akan membahas sedikit mengenai hirarki keterampilan berbahasa anak untuk memberikan gambaran, sebenarnya anak kita sudah pada tahap yang mana?

Hierarchy of Language Skills

Seorang anak harus memiliki pondasi yang kuat sebelum naik ke tahap selanjutnya. Ketika orangtua memutuskan untuk mengajarkan tahapan yang lebih rumit, maka pondasi nya juga harus terus dikembangkan sehingga posisi pondasi selalu lebih kuat

hirarki keterampilan berbahasa,  Hierarchy of Language Skills
Hirarki Keterampilan Berbahasa

Menamai (Labelling)

Menamai merupakan kemampuan paling dasar seorang anak untuk belajar berbahasa. Jika anak masih batita, maka kemungkinan terapis akan mendahului nya dengan menamai benda berdasarkan bunyinya (sound-object association). Setelah, anak sudah mampu membedakan dua jenis bunyi dan memahami bahwa setiap bunyi memiliki makna. Maka sound-object ini dihilangkan dan mulai mengenalkan benda berdasarkan nama sebenarnya. Ketika sedang makan kita gunakan strategi paralel talk, misalnya: (mau makan pagi).

“Sudah selesai mandi. Sekarang kita makan ya. Kita ambil sendok dan piring. Ini sendok. Ini piring. Sekarang kita ambil nasi di dalam penanak nasi. Awww, panas. Kipas-kipas dulu. Kipas-kipas. Sudah dingin. Ayo buka mulutnya, ini mulut, Buka mulutnya. AAaaa”.

Semua kata yang ditebali di atas merupakan gabungan dari “kosakata target” dengan memainkan “artikulator” (awww, aaaa), dan “gestur” (kipas-kipas sambil goyang kipas tangan). Makanya, cukup sulit juga jika artikel ini dibatasi pada kegiatan labelling saja. Karena kita memang dikejar untuk belajar simultan (bebarengan) beberapa teori sekaligus.

Fungsi (Function)

Fungsi atau kegunaan dapat kita ajarkan kepada anak dalam seluruh aktivitas ketika bersama anak. Coba diperhatikan kembali contoh mau makan pagi di atas, pada tahap labelling, kita belum membahas fungsi dari masing-masing benda. Iya kan?

Nah, kegiatan ini bisa dilakukan pada waktu yang berbeda. Kali ini kita naik ke langkah selanjutnya dengan masih menggunakan contoh yang sama, (mau makan pagi).

“Sudah selesai mandi. Sekarang kita makan. Kita ambil piring ya. Piring itu tempat menaruh nasi dan lauk. Ambil sendok juga. Sendok untuk mengambil nasi. Mana penanak nasi nya? Itu penanak nasi, tempat menyimpan nasi. Penanak nasinya panas.”

Bagaimana, cukup berbeda kan? Sebenarnya tanpa membaca artikel ini, tahap labelling dan function pasti sudah Ayah dan Bunda lakukan. Bedanya, kalau dulu belum sadar, sekarang jadi makin tahu. Tahap function ini sebenarnya bisa juga dilakukan dengan menggunakan buku cerita anak. Pilih buku dengan sedikit teks. Buku ini akan membebaskan Ayah dan Bunda untuk mendongeng dengan bebas. Setiap benda yang ditunjuk anak di dalam buku dapat diterangkan fungsi nya.

Asosiasi

Asosiasi bertujuan untuk menghubungkan satu benda dengan benda lain yang sama-sama digunakan ketika beraktivitas. Misalnya: ada piring, maka ada sendok. Piring dan sendok merupakan dua benda yang saling berhubungan dalam satu aktivitas.

Anak sudah memahami puluhan kosakata yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Setelah itu, bisa mulai diajarkan kepada anak mengenai asosiasi ini. Bisa menggunakan flashcard yang membeli atau bisa juga membuat sendiri.

Atribut

Atribut bertujuan untuk menambahkan sifat dari benda. Pada tahap ini, orangtua dapat mulai mengenalkan warna, bentuk, ukuran, suhu, preposisi, dll; sebagai bagian dari critical elements. Anak akan kita latih untuk mendengar dua kata agar nanti si anak juga mengimitasi dua kata. Misalnya, bola merah, susu dingin, sapi besar, dll.

Kategorisasi, Konsep, dan Antonim

Tahap Hierarchy of Language Skills selanjutnya adalah kategori, konsep, dan antonim. Pada tahap ini, pekerjaan kita akan berjalan secara simultan sehingga dimaklumi akan memakan waktu yang cukup panjang.

Kategorisasi

Kategorisasi bertujuan untuk membuat kosakata baru yang sifatnya generalistik (kosakata umum) dari kumpulan kosakata yang saling berasosiasi (berhubungan). Contoh (1): Peralatan Makan merupakan kosakata umum. Peralatan makan dapat disebut kategori. Peralatan makan memiliki anggota yaitu piring, sendok, garpu. Mama Alkha akan membuat pernyataan dulu seperti, “Alkha, yuk kita ambil peralatan makan. Peralatan makan itu, apa saja? Ada piring, ada sendok, ada garpu. Benar..!!!”. Kosakata kategori ini terus menerus diulang-ulang hingga anak memahami nya.

Contoh (2): Kendaraan merupakan kosakata kategori yang memiliki anggota yang sangat banyak yaitu mobil, ambulan, mobil polisi, mobil pemadam, kereta api, kapal, pesawat, helikopter, pesawat jet. Kendaraan-kendaraan tersebut dapat Ayah dan Bunda temukan mainan nya di pasar. Anak akan sangat mudah mengenali dan mengingat setiap nama kendaraan itu. Ketika anak semakin banyak memahami kosakata kategori, maka Ayah dan Bunda dapat mempersempit kategori. Contoh (3): Kendaraan yang awalnya kategori yang berdiri-sendiri dipersempit dengan membagi menjadi kendaraan darat, kendaraan laut, dan kendaraan udara. Untuk mendapatkan kemampuan membuat kategori yang lebih sempit, maka anak harus memiliki kosakata tambahan untuk menambah jumlah anggota kategori itu. Kendaraan darat (mobil, ambulan, mobil polisi, mobil pemadam, kereta api, becak, sepeda, motor), kendaraan laut (kapal, sampan, perahu), kendaraan udara (pesawat, helikopter, pesawat jet, balon udara).

Kategori yang telah dipahami anak dapat menjadi bagian dari critical elements. Ayah dan Bunda memiliki kesempatan untuk memastikan pemahaman anak ketika mendengar sebuah kalimat perintah sederhana. Anak kemudian melakukan instruksi tersebut dalam kondisi fokus dan konsentrasi. Misalnya kita menyediakan 4 mainan yang disusun dari kiri secara berurutan berupa kereta api, pesawat, (diberi jarak agak lebar), helikopter dan mobil polisi kemudian memberi perintah, “Alkha, ambil kendaraan darat yang di sebelah kanan”. Perintah tersebut merupakan contoh dari penerapan 2 critical elements, yaitu kategori dan preposisi.

Konsep

Konsep merupakan deskripsi sederhana dari kosakata yang dapat dijelaskan dengan mudah kepada anak. Biasanya kami membuat merancang kalimat untuk menjelaskan kosakata baru melalui kosakata yang telah dipahami anak. Misalnya: kendaraan darat merupakan kendaraan yang jalannya di darat. Sehingga untuk menjelaskan darat, anak juga harus memahami laut dan udara.

Konsep tentang bertanya dan menjawab juga dapat Ayah dan Bunda kenalkan. Pertanyaan 5W+H (What, Who, Where, When, Whom, How) yang dalam bahasa Indonesia berarti; Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Punya siapa, Bagaimana membutuhkan waktu untuk dipahami anak. Ayah dan Bunda dapat mulai dengan kata tanya Apa, Siapa dan Dimana, sebagai permulaan.

Konsep baru yang dipelajari anak juga akan berkembang ketika bersekolah di PAUD. Secara filosofis, Auditory Verbal Therapy menyarankan agar anak bersekolah untuk mendapatkan pengalaman berbahasa natural dari anak-anak lain. Hal ini menjadi tantangan bagi orangtua untuk selalu membersamai anak belajar konsep dan kosakata baru sesuai subtema yang menjadi pokok bahasan di sekolah. Ayah dan Bunda dapat meminta pengajar untuk menyediakan buku penghubung guru dan orangtua yang berisi kata kunci kegiatan setiap hari. Sehingga pada sore atau malam hari nya, kita bisa membuat permainan atau membacakan buku pengetahuan bergambar yang mendukung materi di sekolah.

Mama Alkha banyak menemukan buku dengan konsep yang sangat bagus dengan harga yang relatif murah. Sehingga kita tidak perlu menjelaskan melalui Youtube, smartphone, atau televisi ketika membersamai anak belajar konsep baru. Misalnya, ada lho buku tentang proses terjadinya hujan, proses terjadinya halilintar. Ada juga buku mengenai profesi guru, polisi, dokter, perawat, tentara, dll.

Antonim

Antonim biasa disebut lawan kata. Dengan belajar antonim, anak akan memperluas konsep kosakata sekaligus menambah kosakata baru. Ketika anak mampu mengingat lawan kata, maka otomatis akan menambah auditori memori dan memperkaya kosakata nya.

Mama Alkha biasanya menggunakan kalimat pertanyaan semacam ini, “Lawan kata tinggi, apa?”. Jawaban yang diharapkan dari anak adalah, “rendah”. “Lawan kata gemuk, apa?”. Jawaban yang diharapkan ialah “kurus”.

Anak pada awalnya anak berpikir, “Lawan kata?”. Anak akan mulai memikirkan pola setiap jawaban yang diajarkan orangtua. Akhirnya anak memahami bahwa “lawan kata” digunakan untuk menyatakan hal yang berkebalikan dari kosakata yang disebutkan oleh penanya.

Persamaan

Persamaan merupakan kemampuan seorang anak untuk mengelompokkan objek-objek ke dalam kategori. Contoh: Di atas sebuah meja, kita menaruh 1 buah mainan dengan kategori kendaraan, 1 buah mainan dengan kategori orang-orangan, 1 buah mainan dengan kategori sayur-mayur, dan 3 buah mainan dengan kategori pakaian (kacamata, jam tangan, kaos kaki) ? Anak kita tanya sebuah pertanyaan sederhana yang sebenarnya kompleks, “Mana yang sama?”. Harapan nya anak dapat menyebutkan nama kategori kemudian mengatakan masing-masing nama benda. Misalnya, “Ini, ini, ini, sama. Ada kacamata, ada jam tangan, ada kaos kaki. Semuanya, pakaian”.

Bagaimana, semakin menantang kan? Sabar… Pelan-pelan kita ajari anak. Kita ajari anak sambil bermain yaaaaa…

Perbedaan

Perbedaan merupakan kemampuan untuk mengeluarkan objek-objek yang tidak berada dalam kategori yang sama. Dengan contoh yang sama dengan di atas, kita minta anak untuk menyebutkan masing-masing kategori mainan yang sama dan tidak sama. Misalnya, “ini kereta api, kendaraan. Ini wortel, sayur. Tidak sama”.

Multi-Arti

Multi-Arti merupakan sebuah pemahaman akan kata dengan menyesuaikan konteks dan kejadian. Misalnya, kata ‘baru’. Memiliki beberapa arti, (1) barang yang selesai diproduksi, (2) dalam kegiatan. Kata-kata yang multi-arti sangat banyak. Sedang apa? Sedang dapat berarti (1) dalam kegiatan, (2) dapat berarti ukuran antara besar dengan kecil.

Kosakata multi-arti akan semakin banyak ditemukan ketika sedang berbicara bersama anak. Kenalkan anak dengan kata multi-arti sehingga anak memahami konteks penggunaan kata tersebut. Memahami banyak kosakata multi-arti berarti si anak sedang berbahasa secara natural dan memiliki kekayaan bahasa yang baik.

Analogi

Analogi merupakan perumpamaan yang menyamakan benda sebenarnya dengan benda yang ada disekitar kita. Misalnya, ‘Bulan Sabit’ bentuknya seperti ‘Pisang’. ‘Roda’ bentuknya seperti ‘Donat’. ‘Tempurung’ seperti ‘Tas’, dan sebagainya.

Analogi juga dapat berupa pengandaian yang membandingkan kondisi satu dengan kondisi yang lain menuju kesimpulan umum. Semakin anak berkreasi dengan analogi, artinya si anak sedang melakukan kreativitas yang baik. Terus kembangkan kemampuan berpikir analogis seperti itu dalam beberapa percakapan.

Idiom

Idiom merupakan susunan kalimat yang artinya tidak dapat ditebak tanpa memahami maknanya. Kalimat idiom baru muncul ketika anak sudah bersekolah dengan menyesuaikan kematangan kognitif nya.

Kita telah membahas mengenai Hirarki Keterampilan Berbahasa (Hierarchy of Language Skills) pada anak. Begitu kompleks nya tahapan ini harus dilalui anak satu persatu. Nah, sudah dimanakah anak kita sekarang?

Sumber:

https://slideplayer.com/slide/6470/
https://toplintas.com/contoh-paragraf-analogi/
https://www.kbbi.web.id/idiom
http://www.thespeechbubbleslp.com/2017/12/use-language-processing-hierarchy.html
https://www.teacherspayteachers.com/Product/Hierarchy-of-Language-Skills-for-Speech-Therapy-Intervention-FREE-2311067


Tinggalkan Balasan