Press "Enter" to skip to content

Ngobrol Dengan Turbo

Last updated on Maret 11, 2019

Belajar berbicara untuk anak yang menggunakan alat bantu dengar tentu tidak mudah. Saya ingat ketika dulu Alkha belajar membuka mulut agar mau mengeluarkan suara. Ternyata tidak sesederhana itu.

Saya berpendapat bahwa anak harus menyadari suara yang didengar merupakan hasil anak membuka mulut dengan sadar. Bahwa membuka mulut merupakan bagian dari dirinya dan bersuara atas kehendaknya.

Yang saya pikirkan waktu itu, bagaimana membuat sebuah permainan yang menyenangkan dengan Alkha. Sebuah adegan singkat, tanya jawab yang mengasyikkan menggunakan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif yang pernah didengar nya. Pernah lihat Kak Ria yang memainkan Susan dengan asyik nya, kita seolah dibawa kepada pembicaraan yang menarik, padahal sebenarnya Kak Ria sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Oke, saya membutuhkan sebuah boneka.

Sebuah boneka tangan yang bisa kita buka mulut nya lewat gerakan tangan. Waktu itu, tahun 2016, saya coba cari di toko boneka mall besar di Surabaya. Hasilnya, saya tidak temukan satupun. Sama sekali tidak ada memproduksi.

Baca juga :  Belajar Dari Ultraman Geed

Ngobrol Dengan Turbo

Hingga akhirnya di pertengahan 2017, saya menemukan sebuah buku di bazar buku Big Bad Wolf Surabaya berjudul Turbo Racing Team. Sebuah buku tentang siput bernama Turbo yang menggunakan roket agar bisa balapan.

Narasi nya tidak saya bacakan kepada Alkha. Cukup berat untuk dia. Dia belum memahami kata siput, cepat, lambat, roket, balap, dan sebagainya.

ngobrol dengan turbo

Saya buat Alkha menikmati pembicaraan kami (Papa Alkha dengan Siput Turbo). Saya mengajari si Turbo mengucapkan “Aaa” untuk pesawat, yakni salah satu pondasi diskriminasi suara, Ling’s Six Sounds. Dengan membedakan suara (suprasegmental), kami berbincang-bincang. Seringkali Alkha memukul si Turbo karena gemas dan takut digigit si siput yang bergigi besar.

Baca juga :  Membuka Diri Untuk Belajar AVT di Rumah

Seberapa Efektifkah Kegiatan Ini?

Jika diukur dari lama atensi (perhatian), yakni untuk usia 2-3 tahun adalah berkisar 5 menit, saya pikir metode ini berhasil. Lama Atensi merupakan waktu yang dapat dilakukan anak untuk berkonsentrasi, tidak melamun, dan mau berinteraksi. Semakin besar usia, maka lama atensi semakin panjang.

Akhir-akhir ini (2018), saya menemukan toko boneka di Surabaya yang menjual boneka tangan yang bisa dibuka mulut nya. Wow, amazing… Jika Ayah dan Bunda belum pernah mencoba metode ini, bisa lah uji coba di rumah. Harga boneka kisaran 30-60 ribu rupiah. Yuk, kita belajar kreatif di zaman milenial yang katanya 4.0 ini…

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya

Tinggalkan Balasan