Press "Enter" to skip to content

Menyertakan Teman Sebaya Ketika AVT Di Rumah

Last updated on Desember 29, 2018

Terapi AVT di rumah bersama Bunda akan menyenangkan ketika Ayah turut serta dalam permainan. Ayah dapat menjadi pemain cadangan ketika Bunda kewalahan ketika anak mulai cuek dan marah. Terapi di rumah dengan Bunda dan Ayah cukup umum dilakukan oleh orangtua lainnya. Tapi, perlu juga metode alternatif agar anak tidak bosan, yaitu menyertakan teman sebaya ketika AVT di rumah.

Menyertakan Teman Sebaya

Teman sebaya adalah seorang anak yang memiliki usia hampir sama dan familiar dalam keseharian anak yang memiliki gangguan pendengaran. Teman sebaya tidak perlu dibatasi apakah sama usia biologis nya (sama-sama 4 tahun) atau apakah sama usia dengar nya (sama-sama 3 tahun). Teman sebaya dapat Ayah dan Bunda tentukan secara fleksibel karena tiap keluarga memiliki karakteristik yang berbeda. Kakak atau adik atau sepupu dari anak yang memiliki gangguan pendengaran juga dapat dianggap teman sebaya.

Teman sebaya berfungsi sebagai sparring partner. Dalam dunia tinju, sparring partner merupakan sosok yang bertugas memberikan simulasi pertarungan sebenarnya kepada calon juara. Teman sebaya juga berfungsi sebagai role model. Role model ialah seseorang yang memberikan contoh agar anak yang memiliki gangguan pendengaran mau mendengarkan seksama.  Karena sang role model sebelumnya telah mendengarkan dan berhasil menyelesaikan permainan yang diberikan oleh Bunda.

Menyertakan teman sebaya ketika terapi AVT di rumah
Menyertakan Teman Sebaya Ketika AVT Di Rumah

Kriteria Dasar Memilih Teman Sebaya

Teman sebaya sebaiknya memiliki beberapa kriteria yang harus dimiliki:

  1. Memahami bermain bergiliran.
  2. Memahami makna diam dan mendengar dahulu.
  3. Memahami materi yang akan digunakan.
Baca juga :  Cara Mengajari Anak Mengenal Angka

Menyertakan teman sebaya ketika terapi AVT di rumah dapat dilakukan sesekali agar anak mendapatkan pengalaman bersama teman sebaya. Selain itu, anak-anak yang mula nya pemalu, bisa jadi anak lebih aktif, merasa memiliki saingan sehingga meningkatkan motivasi diri.

Bunda Sebagai Penengah

Menyertakan teman sebaya ke dalam terapi AVT di rumah harus dilandasi rasa keadilan kepada kedua anak. Tujuannya agar anak semakin memahami aturan permainan ketika sedang menjalankan kegiatan AVT. Bila anak-anak berebut mainan, maka Bunda harus menengahi dan mampu membuat suasana kembali kondusif. Bila anak yang bertugas menjadi sparring partner atau role model justru menghambat kegiatan, kemungkinan hal ini dikarenakan usia teman sebaya yang dipilih masih terlalu kecil. Bunda dapat mencari alternatif anak lain (saudara lain) yang lebih besar sehingga memahami aturan dasar permainan, yakni diam-mendengarkan dan bergiliran.

Permainan Yang Dapat Dilakukan

Beberapa permainan yang bisa digunakan bersama teman sebaya ialah:

  1. Bergiliran memasukkan mainan ke dalam keranjang bila mendengar suara atau Ling Six Sound. Hal ini bisa digunakan jika anak kurang termotivasi mendengar dan dapat digunakan pada tahap deteksi suara dan diskriminasi suara.
  2. Bergiliran melakukan permainan ketika dihadapkan pada tugas Auditory Memory 2 item atau lebih. Misalnya: Bunda menempatkan anak yang lebih tua  sebagai role model pada permainan Auditory Memory 2 item. “Mas Haikal, ambil pesawat dan mobil”. Setelah role model berhasil, maka giliran Alkha yang diberi tugas oleh Bunda. “Sekarang Alkha ambil kereta dan mobil”.
  3. Bergiliran melakukan aktivitas fisik. Misalnya: “Mas Haikal ambil bola merah kemudian lompat”. Setelah itu giliran Alkha. “Alkha ambil bola biru kemudian lempar”.
Baca juga :  Tips AVT - Mulailah Dengan Membuat Anak Tertawa

Beberapa permainan di atas akan sangat mengasyikkan jika dilakukan di rumah dalam suasana yang santai. Permainan serasa mengalir dan tak terasa target AVT dapat dilakukan dengan baik.

Walaupun demikian, beberapa orangtua tidak menyarankan program ini sebagai bagian dari rutinitas terapi AT di rumah, melainkan sebagai pengisi kegiatan di sela-sela AVT di rumah. Karena bisa jadi anak akan ketergantungan dengan peran sparring partner dan role model ini. Mereka berpendapat bahwa dalam sehari harus ada waktu khusus yang digunakan anak untuk terapi AVT satu lawan satu antara anak dengan orangtua sehingga target AVT dapat tercatat dengan jelas.

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya

Tinggalkan Balasan