Mengenalkan Bagian Tubuh Pada Anak

Mengenalkan bagian tubuh pada anak dengan gangguan pendengaran merupakan salah satu kegiatan awal dari AVT di rumah yang dapat dilakukan oleh orangtua. Bagian tubuh merupakan bahan berkomunikasi yang selalu dapat kita gunakan setiap saat. Kita bisa bermain, “di mana mata? di mana hidung?; baik di dalam mobil, di kereta, di mall, di mana saja.

Ketika anak telah mengenal bagian tubuh, maka kita dapat membantu anak untuk fokus atau konsentrasi pada bagian tersebut ketika sedang beraktivitas sehari-hari. “Alkha, dengar ya!!”, artinya kami sedang meminta si anak menggunakan sensor pendengaran yang dibantu alat bantu dengar dan atau implan koklea. “Alkha, donat ini bau nya enak”, artinya kami sedang meminta si anak menggunakan sensor penciuman melalui hidung nya.

Mengenalkan Bagian Tubuh Bagian Wajah Pada Anak

Mengenalkan anak dengan nama anggota tubuh dapat dilakukan dengan mengenalkan bagian wajah terlebih dahulu. Coba kita absen bagian mana saja itu? (1) Mata, Hidung, Mulut, (2) Telinga, Rambut, Alis, (3) Gigi. Beberapa teknik yang dapat kami sarankan ialah:

1. Memainkan Wajah Sendiri (Wajah Orangtua)

Secara tidak sadar, kita sudah mengenalkan kepada setiap anak mengenai anggota tubuh nya ketika dia berusia 10 bulan. Tapi bagi orangtua yang menyadari keterlambatan bicara ini di atas usia ini (termasuk kami), maka kita harus kejar kemampuan tersebut secepatnya.

Mengenalkan Bagian Wajah dengan Bernyanyi

Kita bisa lakukan permainan alamiah seperti bernyanyi, dan menyamakan bagian tubuh dengan memegang bersama-sama. Lagu Dua Mata Saya dengan modifikasi menjadi lebih pendek seperti ini juga cukup menarik bagi anak:

Dua mata saya

Hidung saya satu

Satu mulut saya, tidak berhenti makan

Bagaimana cara memainkan nya? Ingat teknik AVT, Bicara Dulu, Objek Kemudian. Kita harus menyebutkan nama yang sedang kita tekankan makna nya (highlight) sebelum menunjukkan objek nya.

Dua mata (setelah lagu sampai kata “mata”, jeda lagu, kemudian tangan kanan-kiri kita memegang kedua mata) dilanjutkan dengan kata “saya” untuk melanjutkan irama. Hidung (jeda lagu, kemudian tangan kanan memegang hidung) saya satu. Satu mulut (jeda lagu, kemudian tangan kanan memegang mulut) saya, tidak (jeda lagu, kemudian menggelengkan kepala) berhenti makan.

Irama lagu penting untuk dijaga karena hal ini juga sedang kita ajarkan kepada anak. Terapis AVT akan menyarankan teknik AVT melalui bernyanyi dengan tujuan nantinya anak dapat berbicara natural. Hal ini karena mereka terbiasa mendengar tinggi rendah nya nada.

2. Mengenalkan Bagian Wajah dengan Flashcard

Bagi anak-anak yang belum mengenal banyak mainan, penggunaan flashcard cukup memberikan hasil yang baik. Misalnya, Alkha dulu cukup mau belajar menggunakan flashcard pada usia kurang dari 2 tahun karena tidak banyak mainan yang kami miliki. Jika Ayah dan Bunda terlanjur memiliki banyak mainan, alangkah baiknya sembunyikan dan simpan mainan tersebut dari jangkauan tangan dan penglihatan anak.

Bila merujuk pada kegiatan menyamakan benda yang detail, maka flashcard terbaik ialah yang menyerupai gambar asli, baru kemudian beralih ke gambar kartun. Ayah dan Bunda bisa lihat apakah anak memiliki kecenderungan memiliki kesulitan memahami gambar kartun dari pengamatan sehari-hari.

Kita dapat menempelkan flashcard ke anggota tubuh kita yang sama. Jangan lupa, Bicara Dulu, Objek (atau Aksi) Kemudian. Contoh:

Bicara dulu: sambil memegang dan menunjuk flashcard “Alkha, lihat nih Papa punya Mata”,

Aksi: menutupkan flashcard mata ke mata kita sendiri.

Bicara dulu: sambil memegang dan menunjuk flashcard, “Alkha, mana mata monyet? Ini mata”.

Aksi: menutupkan flashcard mata ke mata boneka monyet.

3. Testing Menggunakan Flashcard

Kegiatan testing dapat dilakukan selama beberapa menit ketika anak sedang asyik bermain mengenal bagian wajah. Dengan menggunakan maksimal 3 flashcard, kita minta anak untuk mengambil satu setelah instruksi kita berikan. Bisa gunakan model language dari ayah dan bunda, atau boneka (jika terpaksa) untuk mengajari anak bagaimana testing ini dapat dilakukan.

Mama: “Papah, ambilkan Mata!”

Papa: “Mana mata ya? Ini mata”, menunjuk, baru kemudian ambil flashcard mata dan memberikan kepada Mama.

Mama: “Sekarang Alkha, ambilkan hidung!”. Ulang menggunakan instruksi yang lebih pendek. “Ambil hidung”. Ulang sekali lagi. Kemudian, bantu anak untuk mengambil flashcard hidung dan memberikan kepada Mama.

Setelah anak memahami bahwa setiap anggota tubuh memiliki nama, maka pekerjaan menjadi lebih mudah. Coba kenalkan anak dengan bagian tubuh yang ada di wajah seperti telinga, rambut, alis, dan gigi dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya tebak-tebakan anggota wajah, serta gosok gigi setiap pagi dan sore.

Mengenal Bagian Tubuh Secara Umum Pada Anak

Setelah anak menghafal nama-tubuh bagian-wajah, maka kita bisa mengenalkan bagian tubuh yang lebih umum seperti kepala, tubuh, tangan, dan kaki. Mainan yang kami gunakan cuma satu sih yaitu Mister Potato.

Mengenal Bagian Tubuh dengan Mainan Mister Potato

Mainan Mister Potato, saat kami mencari di toko mainan besar, sedang tidak diproduksi. Untungnya, Mama Alkha masih bisa mendapatkan mainan Mister Potato dengan kondisi preloved atau seken di marketplace. Tentu lebih murah daripada kondisi baru.

Mister Potato adalah karakter khayalan berupa kentang yang memiliki mata, hidung, mulut, telinga, tangan dan kaki. Kelucuan karakter ini dapat Ayah dan Bunda lihat pada film Toys Story. Bagian tubuh Mister Potato dapat dipisah-pisah sehingga kita dapat meminta anak merakit nya kembali sembari memberikan informasi pada anak. Misalnya, “Ayo, Alkha tubuh nya pasang dulu. Pasang mata nya. Ini tangan, pasang di sini”.

Melalui mainan ini, kita dapat lebih santai memberikan informasi auditori (auditory information),  melatih motorik halus anak, melatih kesabaran anak, dan mengembangkan kemampuan imajinasi nya. Simpan mainan ini setelah selesai digunakan untuk mengenal bagian tubuh agar anak selalu tertarik ketika memainkannya di lain waktu. Selain itu, sangat mungkin ada bagian yang hilang bila Mister Potato tidak disimpan dengan benar.

Mengenal Bagian Tubuh Khusus Pada Anak

Mengenalkan bagian tubuh secara lebih khusus (detail) dapat dilakukan pada tahun kedua perjalanan anak mendengar. Coba kita daftar yuk bagian tubuh ini:

Wajah (kumis, janggut)

Tubuh atas (pundak, lengan, siku, jari, jempol, telunjuk, tengah, manis, kelingking)

Tubuh bawah (paha, lutut, kaki, telapak kaki, mata kaki)

Untuk memudahkan, kita bisa menempel bagian tubuh di dinding agar kita tidak lupa bagian tubuh mana saja yang anak belum hafal. Materi nya bisa diunduh di sini.

Bernyanyi Lagu Kepala, Pundak, Lutut, Kaki

Lagu anak-anak memang mempermudah kita untuk mengenalkan beberapa materi AVT. Termasuk Lagu Kepala, Pundak, Lutut, Kaki ini dapat kita gunakan untuk mengenalkan bagian tubuh yang khusus. Kita dapat lakukan kegiatan bernyanyi sambil bergerak mengikuti irama bersama ayah, bunda, anak, kakak dan adik. Dengan memainkannya bersama-sama, anak akan makin termotivasi dan lebih mudah menghafal nama bagian tubuh ini.

Untuk memudahkan instruksi, kami sengaja menempel gambar tersebut di dinding sehingga anak dapat menghafal pola gerakannya. Selain melatih anak mendengar panjang, hal ini juga untuk melatih anak untuk beraktivitas berurutan (sequencing). Ayah dan Bunda bisa unduh, cetak, dan tempel sendiri materi tersebut di sini.

Bagian tubuh khusus yang lain bisa kita terangkan dalam aktivitas sehari-hari ketika ada kesempatan.

Selamat mencoba! 

Belajar Preposisi Di-Tengah

Belajar preposisi Di-Tengah merupakan preposisi lanjutan setelah anak memahami preposisi depan-belakang dan preposisi kanan-kiri. Preposisi Di Tengah dapat digunakan anak pada dua kondisi tersebut, yakni (1) berada di antara depan dan belakang; dan (2) berada di antara kanan dan kiri. Preposisi ini mudah diajarkan kepada anak dalam aktivitas maupun permainan.

Depan, Tengah, Belakang

Beberapa ide yang dapat kami berikan ialah (1) menggunakan mobil mini, (2) motor sungguhan

1. Mobil Mini Yang Dapat Diduduki Anak

Mobil mainan yang cukup besar dapat digunakan anak untuk belajar menggerakan mainan dengan menggunakan kaki. Selain memperkuat motorik kasar nya, kita dapat gunakan pula mainan ini untuk belajar presosisi Di Tengah. Caranya mudah, gunakan 2 buah boneka untuk ikut menumpang di mobil mini ketika anak sedang bermain.

Dengan menggunakan dialog sederhana antara anak dengan kedua boneka, kita buat anak memahami bahwa terkadang Boneka A duduk di depan, Boneka B duduk di tengah, dan Alkha duduk di belakang.

Kembali, dengan menggunakan dialog sederhana, boneka minta turun, kita ubah susunan nya untuk memastikan apakah anak memahami maksud dari preposisi di tengah ini. Misalnya, Boneka B duduk di depan, Alkha duduk di tengah, dan Boneka A duduk di belakang.

Untuk memastikan apakah anak memahami Preposisi Di Tengah ini, maka kita lakukan variasi informasi menggunakan motor sungguhan dan mobil sungguhan.

2. Naik Motor Bertiga

Ketika Papa, Mama dan Alkha naik motor bertiga, maka ini saat yang sangat tepat untuk mengajarkan kepada anak tentang preposisi Di Tengah, artinya anak berada di antara depan dan belakang. Pada artikel Preposisi Depan-Belakang, kita telah menggunakan media sepeda motor. Jadi ketika kita memutuskan menggunakan media motor kembali, maka kita harus dengan jelas memberikan informasi baru ini. Karena ada konsep yang berubah dalam kegiatan ini bila dibandingkan konsep yang dijelaskan pada preposisi depan-belakang.

Sebelum naik motor, kita bisa memberikan informasi seperti, “Alkha duduk di tengah, Papa duduk di depan, dan Mama duduk di belakang, ya? Di tengah (sambil menunjuk area tengah)” Maka, anak-anak yang sedang senang duduk di depan akan menolak. Kita dapat terus gali keinginan anak. Berikan kesempatan pada nya untuk menentukan siapa yang duduk di depan, tengah dan belakang. Setelah semua sepakat, baru berangkat. Pada waktu yang lain, kita bisa coba cara yang sama untuk memastikan apakah anak benar-benar memahami preposisi di tengah.

Kiri, Tengah, Kanan

Beberapa permainan yang dapat kami usulkan kepada Papa dan Mama ialah: (1) Mainan Lego Brick dan Mainan Mobil, (2) Papan tulis dan spidol board marker.

1. Mainan Lego Brick dan Mainan Mobil

Untuk mengajarkan ini, sebaiknya anak ditemani dua orang dewasa (Papa dan Mama). Akan lebih memudahkan pengajaran ketika salah satu orang dewasa dapat menjadi model (contoh) yang dapat ditiru anak. Jadi Papa dan Mama ikut serta dalam permainan. Jika terpaksa, kita gunakan model boneka.

Letakkan tiga buah susunan Lego di depan anak. Minta Ayah untuk menabrak menara Lego di sebelah kanan. Setelah terjatuh, gantian instruksi Anak untuk menabrak Lego di sebelah kiri. Setelah itu, Bunda menabrak menara Lego di tengah.

Ketika akan melakukan, kita ucapkan dulu aksi yang akan kita lakukan. Gunakan jumlah kata dalam kalimat instruksi 1 tingkat dari kemampuan si anak. Misalnya, jika anak baru berkata 1 kata, “Tabrak”, maka kita gunakan 2 kata, “Tabrak Kanan”, baru kemudian mobil yang kita pegang ditabrakkan ke menara Lego sebelah kanan. Biarkan menara Lego terjatuh, sehingga anak masih dapat memperhatikan posisi masing-masing menara ketika dia mendapatkan giliran. Lakukan untuk bagian tengah dan kiri.

Cukup mudah, bukan?

2. Papan Tulis dan Spidol Board Marker

Pada anak-anak yang sudah cukup besar, mereka mulai memahami gambar tangan. Kita bisa mulai dengan membuat gambar di papan tulis kecil. Misalnya, “Papa mau gambar mobil di sebelah kanan”. “Alkha mau gambar apa di sebelah kiri? Rumah? Ikan? Pesawat?” Setelah anak memilih, kita ulangi aksi yang akan kita lakukan kemudian gambar. Terakhir, lakukan untuk menggambar objek pada bagian tengah.

Bisa juga dibuat batas tipis yang membagi papan tulis menjadi tiga, kiri-tengah-kanan. Semua hal yang mungkin memudahkan anak untuk memahami konsep, dapat Ayah dan Bunda coba. Lakukan terus dalam waktu yang berbeda sehingga anak konsisten memahami Preposisi Di Tengah.

Selamat mencoba!

Belajar Preposisi Kanan-Kiri

Preposisi kanan dan kiri merupakan salah satu preposisi yang dapat menjadi materi critical elements ketika kita belajar AVT. Preposisi ini dapat diajarkan setelah preposisi atas-bawah dan preposisi depan-belakang dipahami oleh anak. Sebetulnya, Praktisi AVT akan memasukkan preposisi ini dalam salah satu materi nya. Artikel ini berusaha meyakinkan bahwa kegiatan sederhana di rumah dapat mempercepat pemahaman anak terhadap sebuah konsep preposisi.

Preposisi Kanan dan Kiri sama seperti Preposisi Depan dan Belakang, membutuhkan orientasi kemana anak menghadap. Oleh karena itu, pada tahap awal kita gunakan permainan yang membutuhkan peran orangtua berada di belakang anak atau di samping anak, baru kemudian berhadap-hadapan. Beberapa permainan yang dapat Ayah dan Bunda coba ialah:

  1. Mendorong Mobil-Mobilan
  2. Fokus Pada Tangan Kanan
  3. Menabrak Lego dengan Mobil-Mobilan
  4. Mau yang Kanan atau yang Kiri?

1. Mendorong Mobil-Mobilan

Jika anak sudah mampu duduk dan menyetir sebuah mobil-mobilan besar, kita bisa mendorong nya dan mengajari anak untuk berbelok ke kanan dan ke kiri. Ketika anak mentok ke dinding kita bisa mengucapkan kata “Stop!”, dan ketika mobil akan berjalan kita bisa gunakan kata “Maju!”.

2. Fokus Pada Tangan Kanan

Muslim mempercayai bahwa penggunaan tangan kanan untuk hal-hal seperti salaman, dadah, makan, menulis, menggunakan tangan kanan merupakan sunah Nabi dan mendapatkan pahala ketika dikerjakan. Oleh karena itu, kita bisa fokus pada tangan kanan terlebih dahulu hingga anak paham bahwa tangan kanan merupakan tangan yang berada di sebelah kanan nya. Setelah anak cukup memahami, kita lanjutkan dengan pengenalan tangan kiri nya.

3. Menabrak Lego dengan Mobil-Mobilan

Menabrak Lego dengan mobil-mobilan kecil menjadi aktivitas yang cukup disenangi anak. Anak usia 2 tahun ke atas menyukai kegiatan merakit dan membongkar (assemble and disassemble). Untuk pemilihan Lego, gunakan yang berukuran minimal duplo atau digunakan untuk usia 2+ atau 3+. Pilih Lego yang ukurannya cukup besar sehingga tidak mungkin ditelan anak.

Kita buat dua menara yang cukup tinggi, kemudian kita hancurkan menara itu menggunakan mobil hotwheel hingga ambruk berkeping-keping, “Tabrak yang Kanan” dan “Tabrak yang Kiri”. Semakin mengasyikkan kegiatan maka anak semakin mudah memahami nya.

4. Mau Yang Kanan atau Mau Yang Kiri?

Jika anak sudah memahami permanensi objek (Teori Piaget tentang Perkembangan Kognitif), maka kita bisa gunakan permainan ini. Kita dapat menggunakan jajan atau hotwheels yang disembunyikan di dalam genggaman salah satu tangan. Minta anak untuk menebak dimana jajan atau mainan tersebut disembunyikan. “Di kanan atau di kiri?”.

Pada anak yang sedang belajar mendengar, dia akan memulai dengan dengan menunjuk atau menarik tangan yang diinginkan. Tapi pada anak yang sedang belajar berbicara, kita bisa mengajarkan kepada nya untuk berbicara sebelum kita membuka genggaman tangan itu.

Silakan mencoba!

Belajar Membedakan Benda Berukuran Besar dan Kecil

Belajar membedakan benda berukuran besar dan kecil merupakan critical elements yang dapat diajarkan kepada anak pada awal belajar mendengar dan berbicara. Banyak media yang kami pergunakan untuk belajar membedakan benda berukuran besar dan kecil. Di antaranya ialah (1) mainan hewan besar dan kecil, (2) mainan kereta api besar dan kecil, (3) boneka monyet besar dan boneka monyet kecil, (4) susu kotak besar dan susu kotak kecil, (5) bola-bola air, dan (6) papan tulis dan spidol untuk menggambar.

Setidaknya ada 6 media yang kami gunakan untuk mengajarkan kepada anak kata besar dan kata kecil. Sesuai dengan prinsip AVT, kegiatan berbeda dengan tema yang sama akan memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan kata yang ditarget dalam berbagai peristiwa. Anak akan mengingat setiap peristiwa sehingga anak yakin untuk menunjuk atau mengucapkan kata pada setiap instruksi yang dia dengar.

1. Mainan Hewan Besar dan Kecil

Mainan hewan besar dan kecil dapat mudah kita temukan di toko mainan sekitar rumah. Biasanya dijual dalam bentuk paket. Umumnya, setiap paket berisi binatang dengan ukuran yang sama. Nah, setidaknya kita harus membeli dua paket mainan binatang dan kemudian memilah binatang yang serupa bentuk dan warna nya. Setidaknya ada beberapa binatang yang dapat kita temukan di sini, yaitu: Sapi, Ayam, Bebek, Domba, Harimau, Jerapah, dan Gajah.

Untuk melakukan kegiatan ini, anak hendaknya sudah memahami nama setiap binatang. Setidaknya, beberapa binatang ternak seperti Sapi, Ayam, dan Bebek dapat lebih mudah anak pahami karena binatang-binatang ini ada di sekitar kita tinggal. Jika belum, ajak anak ke beberapa tempat yang menunjukkan binatang-binatang ternak ini berada.

Di waktu sore setelah mandi, kita buat permainan yang sederhana saja. Kita dudukkan anak untuk melihat dua Sapi yang sama bentuknya. Minta anak untuk menyamakan nya saja. Setelah setiap binatang disamakan, maka kita ajak anak untuk membedakan dua jenis Sapi ini. “Ini sapi, ini sapi. Sama. Yang ini Sapi Besar, yang ini Sapi Kecil”. Ketika kita melihat padaHirarki Keterampilan Berbahasa Anak, maka sebenarnya kita sedang mengajarkan kepada anak atribut dari sebuah benda.

2. Mainan Kereta Api Besar dan Kecil

Mainan kereta api besar dan kecil dapat mudah kita temukan juga di toko mainan sekitar rumah. Sama seperti pada mainan hewan besar dan kecil, kita buat permainan yang mengasyikkan. Misalnya, mainan kereta api kecil yang sudah bersambung rapi dan sedang ditarik-tarik anak, tiba-tiba ditabrak dengan mainan kereta api besar. Anak akan bersemangat mengikuti permainan dan kita dapat mulai mengajarkan kepada nya tentang kereta api besar dan kereta api kecil.

3. Boneka Monyet Besar dan Kecil

Boneka merupakan salah satu media yang dapat kita bawa kemana-mana. Pada artikel lain, kami sudah menulis artikel yang menjelaskan tentang kegunaan boneka pada terapi Auditori Verbal di rumah. Walau Alkha seorang anak laki-laki, namun boneka masih juga kami kenalkan. Karena boneka merupakan jenis mainan yang tidak menyakiti anak. Karena setiap hari anak melihat boneka, sosoknya menjadi dekat dengan anak. Boneka sering kali dipeluk, disuapi, ditendang, dilempar, dan sebagainya.

Jika memungkinkan, Ayah dan Bunda dapat mencari boneka yang sama dalam bentuk, tapi berbeda ukuran. Dengan demikian, kita memiliki banyak kesempatan untuk membandingkan boneka besar dan boneka kecil. Misalnya, “Alkha, Papa pinjam Monyet yang besar”. Ketika anak memberikan boneka yang kecil, maka kita bisa terus ajak anak untuk berkomunikasi, “Bukan ini. Yang itu, Monyet Besar”. Bila anak ngotot hanya mau memberikan Monyet Kecil, maka kita bisa memilih untuk mengikuti kemauan nya, “Yaudah, Papa monyet yang kecil. Alkha monyet yang besar”. Atau, kita terus buat anak tertantang dengan keinginan kita, “Ga mau, Papa mau nya Monyet Besar aja. Monyet Kecil buat Alkha, Monyet Besar buat Papa”

4. Susu Kotak Besar dan Kecil

Ketika anak melepaskan diri dari ASI dan belum bersedia minum susu botol, maka kita dapat mengenalkan susu kotak. Susu kotak yang menurut Mama Alkha terbaik ialah Susu Ultrajaya yang putih. Alkha dulu sempat mau meminum susu putih nya sebelum akhirnya memilih Susu Ultrajaya yang cokelat. Dulu, Alkha menghabiskan susu kotak berukuran 125mL satu karton (40 buah) dalam satu minggu. Harga yang mirip dengan konsumsi susu bubuk kalengan. Bedanya, susu kotak memudahkan kita ketika bepergian. Mengingat Alkha yang harus melakukan perjalanan cukup jauh untuk fitting Alat Bantu Dengar ke luar kota dan sebagainya.

Jika anak menyukai susu kotak ini, maka suatu ketika, kita bisa membeli susu kotak dengan bentuk yang sama, tapi dengan ukuran paling besar. Dari susu kotak ini, kita bisa juga mengenalkan susu kotak kecil dan susu kotak besar. Saking besarnya, bisa kita tambahkan ungkapan, “Susu Kotaknya Besar Sekali. Yang ini kecil”.

Beberapa anak membutuhkan benda dengan perbedaan ukuran nya cukup ekstrim hingga memori nya bersedia menerima informasi yang kita berikan. Selain susu kotak, Ayah dan Bunda bisa juga menggunakan botol promosi Yakult. Kami pernah menemukan botol promosi Yakult yang berukuran ekstra besar. Bisa kita gunakan pula dalam permainan Besar dan Kecil ini.

5. Bola-Bola Air

Bola-bola air sebenarnya adalah nutrisi atau pupuk yang biasa kita gunakan pada bagian bawah vas bunga atau vas tanaman berair. Bola-bola air yang berukuran butiran kecil akan membesar ketika terkena air hingga pada ukuran tertentu.

Kita membutuhkan dua kelompok bola air, bola air besar dan bola air kecil. Untuk itu, kita rendam sebagian bola air beberapa jam lebih awal daripada bola air kedua. Alhasil, kita mendapatkan 2 bola air yang berbeda ukuran. Nah, kita minta anak untuk menyendok atau menjumput atau mengambil dengan tangan, bola-bola air dan memisahkan antara yang besar dan kecil pada wadah yang berbeda. Dengan bermain bersama Orangtua, maka anak akan menikmati permainan ini.

6. Papan Tulis dan Spidol

Pada anak yang sudah cukup memahami gambar ilustrasi, kita dapat menggunakan papan tulis dan spidol. Kita dapat menggambar sebuah mobil yang besar di sebelah kanan, dan mobil yang kecil di sebelah kiri. Kita minta anak untuk memilih mana yang besar, mana yang kecil. Kita juga dapat membuat gambar bunga besar dan bunga kecil, kemudian meminta anak untuk memilih. Pada anak dengan kemampuan bahasa ekspresif yang lebih tinggi, dia akan meminta sebuah gambar benda, misalnya pesawat. Maka sebisa-bisanya lah kita menggambar pesawat. Bahkan jika terlampau jelek pun, kita bisa menganalogikan sebagai benda yang lain. “Seperti sendok, ya.” Hahaha.


Sudah ada enam ide yang dapat Ayah dan Bunda praktekkan di rumah. Perlu sekitar 1-2 minggu bagi Alkha untuk memahami kosakata besar dan kecil ini. Ketika kita terus menerus pergunakan kata ‘atribut’ besar dan kecil pada benda yang berikan, maka anak sedikit demi sedikit akan memahami. Selamat mencoba.

Boneka Sebagai Alternatif Modeling Anak Berbicara

Boneka merupakan mainan sepanjang masa setiap anak. Boneka bagi anak anak merupakan replika versi lucu dari sebuah benda atau makhluk hidup yang enak dipandang, berbahan halus, dan bernilai edukatif tinggi. Boneka dapat menjadi alternatif media belajar anak pengguna alat bantu dengar atau implan koklea yang sedang belajar mendengar dan berbicara. Boneka hanya mampu menjadi alternatif media karena modeling (memberi contoh) terbaik anak ialah orang dewasa atau saudara seusia yang memahami tata cara AVT di rumah, terutama teknik turn taking (bergiliran dalam berbicara). Perlu diketahui bahwa turn taking merupakan kemampuan komunikasi sosial yang mulai dipahami sejak anak berusia 10-12 bulan, lihat ISD.

Bila Bunda hanya berdua bersama anak, kami pikir keberadaan boneka cukup penting. Karena boneka menjadi sosok orang ketiga sebagai pengganti model berbicara. Dalam kegiatan AVT di klinik, biasanya Praktisi AVT dan Orangtua akan mengajari anak bagaimana turn taking (bergantian berbicara) ini berjalan. Dalam penerapan AVT di rumah; orangtua berlaku sebagai terapis, boneka menjadi sosok  yang diajari, sedangkan anak akan memperhatikan dan mencoba kita ikutsertakan dalam permainan. Ketika anak merebut giliran si boneka untuk melakukan suatu perintah, maka orangtua yang bertugas mengarahkan anak untuk menunggu giliran.

Boneka Tangan dan Boneka Utuh

Boneka tangan dan boneka utuh, menurut kami, kedua nya jika memungkinkan dapat dimiliki orangtua. Dulu, tahun 2017, kami tidak menemukan boneka tangan di toko mainan anak. Untung nya, kami menemukan Buku Turbo Racing yang memiliki bagian boneka tangan yang menempel pada sampul buku itu. Tahun 2019 ini, kami banyak menemukan boneka tangan di Surabaya. Boneka tangan yang mulutnya dapat dibuka-ditutup dapat digunakan untuk mengajarkan kepada anak agar anak mau membuka mulut nya ketika anak bersuara.

Boneka utuh merupakan boneka yang menyerupai bentuk aslinya. Untuk boneka jenis ini, kami memilih boneka monyet yang memiliki kepala, badan, tangan, kaki, mulut, hidung, dan telinga seperti manusia. Bahkan kami memiliki dua boneka monyet dengan bentuk yang sama hanya berbeda ukuran untuk mengajarkan konsep ukuran pada anak.

Boneka Monyet Kecil dan Boneka Monyet Besar

Kelebihan Boneka Dibandingkan Orang-Orangan Plastik

Boneka memiliki kelebihan dibandingkan mainan sejenis dari bahan plastik. Diantaranya ialah:

  1. Tidak menyakiti anak jika diusap di kulit anak.
  2. Tidak menyakiti tangan dan kaki anak ketika dipukul atau tertendang.
  3. Mudah dipeluk dan mudah dipelukkan.
  4. Mudah dibentuk (salaman, dadah, kiss bye, dll)

Boneka Sebagai Alternatif Modeling Anak Berbicara

1. Bermain Turn Taking

Turn Taking merupakan kegiatan saling bergantian menjalankan tugas atau instruksi orangtua ketika menjalankan terapi AVT di rumah. Terutama AVT dalam bentuk testing. Karena testing membutuhkan peran aktif anak, maka kita harus mampu mengelola sifat moody (tergantung suasana) hingga anak mampu memahami jadwal harian.

Ketika orangtua akan mengajarkan anak beberapa kosakata baru atau critical elements dengan menggunakan 2-4 buah benda, kadang anak tidak cukup tertarik pada mula nya, maka kita bisa menggunakan boneka sebagai pengganti si anak untuk melaksanakan instruksi tersebut. Misalnya ketika mengajarkan kosakata baru, “Monyet, ambil mobil dan motor (dari 3 benda, yakni mobil, motor, pesawat).

2. Modeling Berbicara Verbal dan Modeling Kerja

Boneka juga bisa digunakan sebagai model anak dalam menjawab pertanyaan verbal dan modeling reaksi dari instruksi. Misalnya:

  • Pengajaran 1 Kata Kerja: “Monyet sudah makan?
  • Memperluas Kosakata (memilih dari 2 benda): “Monyet mau makan nasi atau mie?”
  • Memodelkan reaksi dari instruksi 2 benda: “Monyet ambil piring dan sendok nya”.

3. Sparring Partner, Pemicu Semangat Anak

Boneka dapat menjadi sparring partner ketika tidak ada anak lain yang cukup memahami tata cara bergantian (turn taking). Setelah boneka monyet berhasil dalam 1 kali permainan, maka kita tawarkan kepada anak untuk ikut bermain. Kita bangkitkan rasa penasaran anak sehingga anak tidak mau kalah dengan si monyet. Biasanya, jika kita cukup baik membawakan kegiatan, maka pada percobaan ke 3-4 bersama si monyet, maka anak akan bersedia ikut bermain dan menunggu giliran.

Bagaimana Ayah dan Bunda, sudah punya bayangan bagaimana memainkan boneka sebagai alternatif modeling anak berbicara? Ayah dan Bunda bisa memberi komentar di bawah jika menemukan ide lain nya.