Tips AVT – Mulailah Dengan Membuat Anak Tertawa

Ada kalanya ketika kita merasa sulit untuk memulai terapi AVT di rumah, sedangkan jawaban dari setiap orangtua berbeda-beda antara satu dengan yang lain, maka hal ini membuat kita menjadi semakin bimbang dengan kegiatan yang sedang dilakukan. Benar atau tidak ya? Pernak-pernik dalam kegiatan AVT di klinik kadang membuat kita resah. Jika itu terjadi, maka Ayah dan Bunda lakukan kegiatan yang dianjurkan fanpage Let’s Play The Speech and Language Way ini. Kita cukup memulai terapi di rumah dengan cara membuat anak tertawa. Setiap orangtua pasti memiliki cara masing-masing untuk membuat anak tertawa.

Membuat Anak Tertawa

Membuat anak tertawa merupakan tahap awal dari memulai komunikasi antara orangtua dengan anak. Tertawa akan mencairkan suasana dan anak akan lebih mudah menerima informasi apapun ketika mereka memperhatikan orang yang bisa membuat nya tertawa.

Seorang ayah bertanya kepada kami bahwa dia merasa tidak mampu mengajari anak nya di rumah. Jadi kami bertanya, “Kira-kira, kegiatan apa yang bisa membuat dia tertawa?”. Si Ayah kemudian mencoba bernyanyi dengan bahasa nya sendiri kemudian mata anak mulai melihat sang Ayah. Jadi, saya katakan kepadanya, “Mulai saja dari situ saja!”.

Let’s Play The Speech and Language Way

Lakukan Langkah ABC

Membuat anak tertawa merupakan salah satu metode dari langkah pertama dalam Langkah ABC (John Tracy Clinic, 2015). Apa saja Langkah ABC itu? A adalah Attention (Atensi/ Perhatian), B adalah Books (buku cerita anak), C adalah Conversation (percakapan).

Atensi (Perhatian)

Atensi dapat kita ciptakan dengan menimbulkan rasa penasaran dengan apa yang terjadi antara orangtua dengan anak. Hal itu dapat kita bangun dengan memberikan aktivitas atau tingkah laku yang dapat membuat anak tertawa. Kita bisa bernyanyi bersama dan memberikan anak kesempatan untuk merespon nyanyian itu. Beberapa lagu yang terkenal ala Indonesia ialah Pok Ame-Ame, Cicak-Cicak Di Dinding, Nina Bobok, dan sebagainya.

Menggunakan Facial Cues juga bisa digunakan pada anak-anak yang masih kecil. Membuat bentuk-bentuk wajah, alis, mulut yang unik sehingga anak bisa tertawa. Misalnya, coba Ayah membuat beberapa perbedaan raut wajah antara senyum, terkejut, sedih setiap kali sebuah buku ditutupkan ke wajah Ayah sendiri. Walaupun bagi orang dewasa kegiatan itu tidak lucu, tetapi bagi anak bisa menjadi hal yang sangat keren. Ketika atensi anak sudah kita dapatkan, maka kita bisa ajak mereka mulai belajar mendengar dan berbicara.

Books (Buku Cerita Anak)

Buku cerita yang penuh gambar dapat membuat anak tertarik untuk memperhatikan. Pilih buku sesuai dengan minat dan usia anak. Bayi mungkin menyukai buku dengan banyak bulu dan tekstur, sedangkan batita (bawah tiga tahun) menyukai buku yang memiliki banyak bagian yang bisa dibuka, digeser, dan diputar. Balita mungkin bisa diajak mendeskripsikan gambar, menebak apa yang dapat terjadi (pengandaian), menyebutkan karakter yang ada dalam sebuah buku, dan bercerita tentang isi buku sesuai dengan kemampuan nya. Mengenalkan anak dengan buku sangat banyak manfaatnya bagi anak.

Membaca buku dengan variasi nada akan membuat mendengar-melalui-buku menjadi hal yang dinantikan anak setiap sore. Coba lakukan perubahan pitch sambil menunjuk pada karakter tertentu. Misalnya karakter orang gemuk dengan suara berat / pitch rendah / frekuensi rendah, sedangkan karakter binatang kecil dengan suara melengking / pitch tinggi / frekuensi tinggi.

Buku mengenai situasi lingkungan bisa juga dideskripsikan dengan nada-nada yang berbeda pula, seperti buku Busy Railway dari Penerbit Campbell. Ketika kita menemukan sebuah kereta api yang berjalan, kita bisa dengungkan suara lokomotif yang bergerak, “Uuuuuuu”, sambil menarik bagian kereta yang dapat ditarik. Ketika ada kereta api datang, kita bisa turunkan palang kereta api dengan setengah berteriak, “Awasss!! Ada kereta api datang!!”. Pilihan buku yang tepat dapat membantu orangtua supaya tidak kehabisan ide untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi antara orangtua kepada anak.

Conversation

Conversation atau percakapan dapat dimulai dengan topik tentang apa yang sedang ayah dan bunda sedang lakukan; ketika pergi keluar rumah, kita bisa ceritakan tentang apa yang kira-kira dapat kita temukan di lokasi tujuan; kita juga dapat menceritakan kepada nya, kenapa kita harus melakukan beberapa rutinitas setiap hari.

Untuk anak batita, kita bisa pergunakan hand cue dan strategi take turn sehingga anak mencoba memberikan respon kepada orangtua ketika melihat mainan baru. Selain itu, kita bisa mengenalkan kosakata yang termasuk dalam Sound-Object Associations sehingga batita dapat melakukan percakapan kepada orangtua.

Jadi tidak salah ketika orangtua adalah terapis terbaik bagi anak. Karena orangtua mengerti bagaimana cara membuat anak tertawa, orangtua dapat memahami bahasa anak, mengetahui cara menangani diri nya ketika marah. Jadi kita lakukan hal yang pertama dan sederhana yakni selalu membuat anak tertawa selama belajar mendengar dan berbicara. Selamat mencoba…!!!

Sumber:
FB Fanpage Let’s Play: The Speech-and-Language Way

John Tracy Clinic Module 2015

Meningkatkan Kosakata Anak Dengan Masak Bersama

Meningkatkan kualitas kosakata anak dapat dilakukan dengan dengan berbagai cara. Dan kegiatan tersebut akan semakin mengasyikkan jika digabungkan dengan kegiatan yang disenangi orangtua nya. Salah satu cara yang Mama Alkha paling suka ialah memasak bersama anak. Bisa memasak nugget, telur dadar, orak-arik dan lain-lain. Kali ini, Mama Alkha ingin berbagi resep kue gulung sederhana untuk meningkatkan kosakata anak dengan masak bersama.

Mengembangkan Kualitas Kosakata Anak

Harus diakui bahwa menambah kosakata anak dengan gangguan pendengaran pada awal kali belajar terapi auditory verbal merupakan kegiatan yang melelahkan dan seolah-olah tidak terlihat hasil nya. Nah, kami cukup sering menyarankan kepada orangtua untuk menulis, mendaftar, dan menghitung kosakata sehingga sedikit demi sedikit akan terlihat kemajuan si anak. Bagi anak-anak yang sudah mau diajak berkomunikasi sederhana seperti Alkha (saat ini sudah menjalani terapi AVT rutin 2,5 tahun), maka yang dapat kami lakukan ialah mengembangkan kosakata yang sudah dia miliki.

Jika kita belajar bahasa, ada yang disebut kata umum dan kata khusus. Kata umum dapat bermakna luas, sedangkan kata khusus bermakna sempit. Contoh kata umum ialah Memasak, kata khusus nya ialah menggoreng (nugget), merebus (air), menanak (nasi), membumbui (sayuran), menguleg (sambal), mengulen (adonan padat), memblender (buah), memixer (adonan cair) merupakan kata-kata khusus nya. Kualitas kosakata tidak dapat serta merta dapat dipahami anak jika orangtua tidak dengan sengaja mengajarinya dalam beberapa kesempatan. Jika Papa Alkha senang mengembangkan kualitas kosakata pada hal-hal yang kelaki-lakian, misalnya mobil, peralatan tukang; maka Mama Alkha lebih menyukai untuk meningkatkan kosakata anak dengan masak bersama.

Memasak Kue Gulung Bersama Anak

Memasak merupakan kegiatan yang dulu sangat disenangi Mama Alkha sebelum fokus kepada terapi AVT. Saat ini, Mama Alkha sedang tertarik dengan menu diet keto yang sehat, enak, dan murah; sedangkan Alkha yang berada pada usia intuitif (4 tahun ke atas) sangat senang untuk mengeksplorasi banyak benda mekanis, termasuk peralatan yang ada di dapur. Dua hal ini ketika dikombinasikan akan menjadi kegiatan AVT yang menyenangkan. Banyak resep sederhana yang bisa dilakukan bersama anak. Jika Papa Alkha baru bisa mengajarkan resep memasak mie rebus (haha); maka Mama Alkha memilih memasak kue gulung bersama anak.

Kali ini, kue gulung yang akan dibuat membutuhkan peralatan dan bahan berupa:

Alat Memasak:
1 buah Cooper Merk Mitochiba
1 buah loyang
2 lembar kertas roti
2 buah sendok
1 parutan keju

Bahan Masakan:
Cream cheese merk Arla
Keju merk apa saja
Gula Diabetasol
Nutrigel Coklat
Dark Coklat Bubuk Merk Java

Meningkatkan Kosakata Anak Dengan Masak Bersama

Meningkatkan Kosakata Anak Dengan Masak Bersama

Kosakata apa yang bisa kita gunakan pada kegiatan memasak bersama anak? Beragam kata benda yang sebagian jarang diucapkan sehari-hari, misalnya cooper / blender / mixer, loyang, oven listrik, adonan, keju, nutrijel, coklat, gula. Kata kerja seperti berputar, tekan, aduk-aduk, coba, buka, campur, tambahkan, angkat, masukkan, diparut, awas, hati-hati. Kata sifat seperti berisik, rata, halus (tekstur), enak, encer, panas. Preposisi seperti di atas, di bawah, ke dalam. Dan masih banyak lagi kosakata bahasa reseptif yang bisa didengar anak selama proses memasak kue gulung ini berlangsung.

Tips AVT Mama Alkha

Sadar, Sabar dan Senang

Memasak bersama anak harus dilakukan dengan penuh kesadaran, kesabaran dan kesenangan. Sadar bahwa anak-anak dengan gangguan pendengaran masih memiliki keterbatasan kosakata. Selain itu, kita harus sabar ketika ada sesuatu yang tertumpah dan tercecer. Karena bisa jadi anak masih belum mampu mengendalikan otot-otot dengan sempurna. Beberapa di antara mereka masih kesulitan menggambar coretan melingkar, kesulitan menggunting, kesulitan menjepit benda kecil. Orangtua juga harus belajar senang ketika mengajari anak, terutama bagi ibu-ibu muda yang masih ingin pacaran setelah menikah. Oleh karena itu, kita siasati dengan membuat kegiatan sesuai hobi yang disukai.

Gunakan Paralel Talk

Kegiatan memasak mudah dipahami anak karena mereka belajar secara visual dan taktil. Mereka melihat sesuatu dan mengerjakan sesuatu dengan didampingi seorang Mama tak lelah memberi tahu kegiatan yang sedang dia kerjakan. Hal ini adalah salah satu strategi AVT paling populer yakni Paralel Talk.

Berikan Afeksi

Berikan penghargaan kepada anak karena telah membantu orangtua memasak. Hal ini akan semakin meningkatkan kepercayaan diri mereka. Pada akhirnya, kegiatan AVT menjadi lebih mudah karena anak mendapatkan timbal balik atas perbuatan baik yang sudah dilakukan.

Belajar Memahami Frasa Lebih Tinggi

Belajar memahami frasa lebih tinggi merupakan salah satu dari banyak frasa superlatif. Frasa superlatif lainnya yang lazim didengar anak ialah, lebih besar, lebih gemuk, lebih berat, lebih kasar, dan lain-lain.

Kali ini kita membahas tentang frasa lebih tinggi. Kami membayangkan cara pengajaran yang sederhana dengan menggunakan perbandingan antara satu benda dengan lainnya. Dari sana bisa dianalisis dengan sederhana, mana yang lebih tinggi di antara kedua benda. Dan jika lebih dari dua benda, maka kita bisa melakukan pengurutan.

Kami melakukan pencarian melalui pinterest dan google search. Voila, ketemu deh. Sebuah website yang membagikan material kertas siap cetak (printable sheet) sebagai alat untuk mengukur tinggi badan. Nantinya, kita bisa tempel foto atau nama dari Ayah, Bunda, Anak, Kakak, Adik, bahkan boneka kesayangan pun bisa kita ukur tinggi badan nya.

Langsung kita cek website sparklebox.co.uk ya…

Belajar Memahami Frasa Lebih Tinggi

Setelah bermain ukur tinggi badan, maka di waktu yang akan datang, kita bisa mulai melakukan tanya jawab dengan anak.

Beberapa pertanyaan yang bisa kita gunakan, misalnya:

  1. Siapa yang paling tinggi, Papa atau Alkha?
  2. Lebih tinggi Papa atau lebih tinggi Alkha?
  3. Coba diurutkan dari yang paling tinggi. Papa, Mama, Alkha, dan seterus nya.

Cetak, Potong, Tempel

Kegiatan cetak, potong, dan tempel adalah kegiatan yang sangat disukai anak-anak.

  1. Pilih karakter ukuran tinggi badan.
  2. Unduh file dokumen nya, buka melalui software PDF, kemudian cari menu print (cetak).
  3. Pastikan printer mencetak tanpa pembesaran (scaling bernilai nol). Jika sudah, tekan tombol print (cetak). Mudah kan?
  4. Pada kertas yang bertulisan cut (potong), Ayah dan Bunda silakan potong.
  5. Nanti kita lem ke atas bagian yang lain hingga sepanjang 160 cm.
  6. Mudah kan?

Oke, sekarang waktunya Ayah dan Bunda untuk mencoba di rumah. Karena kami sudah lho…. 😀

Belajar Kata Seandainya

Kata “seandainya” merupakan sebuah kata yang sangat tekstual dan lebih sering kita dapatkan di buku sekolah dibandingkan dalam percakapan sehari-hari. Belajar Kata Seandainya memang bukan prioritas utama, tapi akan bagus jika dapat menambah kosakata nya sejak anak masih kecil.

Kata seandainya memiliki padanan kata yang biasa kita gunakan, “Bayangkan”, “Jika”, “Misalkan”, “Kalau”, walaupun makna nya tidak sama persis.

Dalam bahasa Jawa, konsep pengandaian muncul dengan kalimat, “Bayangno tho!”, “Pikiren jal…!!”, ya walaupun konteks nya tidak sama persis. Tapi kalimat pengandaian itu sebenarnya sangat sering kita gunakan sehari-hari.

Belajar Kata Seandainya Melalui Buku

Materi paling bagus yang saat ini dapat kami temukan ialah buku cerita berbahasa Indonesia karangan Iput dan Oyas. Fabel (cerita binatang) dengan judul Odong-Odong Dongeng Monyet dan Harimau ini berisi beberapa lembar narasi fiksi yang sederhana dengan plot lurus dan diakhiri dengan akhir yang bahagia (happy ending).

Berkisah tentang seekor monyet yang menginginkan teman yang kuat dan seekor harimau yang menginginkan teman yang rajin. Kedua ingin berteman karena saling membutuhkan. Lama-kelamaan, monyet mendapatkan pekerjaan yang semakin lama semakin berat sehingga dia mencari akal untuk mengubah harimau. Kemudian, kita diajak untuk berandai-andai mengenai suatu kejadian disertai akibat yang mungkin terjadi.

belajar kata seandainya
Odong-Odong Cerita : Monyet dan Harimau

Papa Alkha sangat terkesan dengan fabel ini. Sangat menarik untuk dibacakan kepada balita. Persis seperti yang kami harapkan karena menggunakan materi pengandaian “ala Indonesia”. Pengandaian ala-Indonesia itu sarat pada pendidikan perilaku atau psikologis. Logika kausalitas (hubungan antara sebab dan akibat) akan coba dipahami oleh anak. Sebuah keputusan yang kurang tepat akan mengakibatkan hasil yang kurang baik. Bukan kah demikian?

Nah, anak dapat belajar kata seandainya sejak dia mulai berpikir imajinatif dan abstrak, menurut Teori Perkembangan Kognitif oleh Piaget, dimulai sekitar usia 4 tahun. Walaupun saat ini, anak belum memahami, saya yakin buku cerita semacam itu akan diminati. Sama seperti beberapa buku yang dulu hanya dibuka, sekarang jadi buku favorit nya.

Belajar Preposisi Depan-Belakang

Preposisi Depan-Belakang merupakan kata abstrak yang juga cukup sering kita gunakan bersama anak. Misalnya ketika kita akan naik motor, kita akan meminta anak memilih antara duduk di depan, atau duduk di belakang. Sama seperti preposisi atas-bawah, belajar preposisi depan-belakang juga dikenalkan bersama karena kedua nya bertolak belakang / lawan kata.

Tujuan pengajaran preposisi ialah:

  1. Anak dapat berkembang secara natural dan memahami perintah sederhana di rumah dan di sekolah.
  2. Anak dengan gangguan pendengaran / tunarungu, dapat berlatih mendengar lebih panjang. Teori AVT berpedoman bahwa jika anak sudah cukup memahami kalimat sepanjang auditory memory 1 item, maka kita berbicara dengan panjang kata auditory memory 2 item.

Belajar Preposisi Depan-Belakang

Belajar preposisi depan-belakang harus menggunakan benda yang memiliki perbedaan antara bagian-depan dengan bagian-belakang. Jika melihat tubuh kita, depan artinya bagian muka ke arah depan, sedangkan belakang artinya bagian punggung ke arah belakang. Jadi, objek bantal dan guling tidak dapat kita jadikan sebagai subjek karena benda-benda ini tidak memiliki “muka” dan “punggung”.

Belajar Preposisi Depan-Belakang dapat terjadi pada dua kejadian, yakni subjek berada di dalam objek, dan subjek berada di luar objek. Nah, bingung ya? Kami jelaskan dengan contoh ya…

1. Subjek berada di dalam objek
Contoh mudah untuk menjelaskan ini ialah ketika Alkha duduk di dalam mobil di bagian depan.

2. Subjek berada di luar objek
Contoh nya ialah Alkha berdiri di depan bumper mobil.

Kedua kejadian ini harus kita kenalkan karena keduanya sama-sama umum terjadi di sekitar anak.

Material Yang Dapat Digunakan

Beberapa material yang dapat digunakan ketika AVT di rumah, yaitu:

  1. Sepeda Motor (Sebenarnya)
  2. Mobil (Sebenarnya)
  3. Mainan Mobil Jeep
  4. Boneka Kesayangan

1. Belajar Preposisi Menggunakan Sepeda Motor

Belajar preposisi depan-belakang dapat dilakukan dengan sepeda motor. Pengenalan ini tentu baru dapat dikenalkan ketika anak sudah mampu duduk tenang di atas motor. Caranya sederhana, yakni dengan meminta anak untuk duduk di depan sebelum anak naik ke motor, misalnya: “Alkha, ayo duduk di depan, Papa duduk di belakang”. Jika ada Mama Alkha yang membonceng, katakan pula bahwa Mama duduk di belakang. Berikan pemahaman kepada anak setiap kali anak akan diajak naik motor.

Selama dalam perjalanan, berikan keterangan kepada anak, bahwa dia duduk di depan, Papa duduk di belakang, Mama duduk di belakang. Bagaimana dengan noise (bising) yang ditimbulkan dari udara yang melewati alat bantu dengar atau cochlear implant nya? Mengenalkan anak dengan noise (bising) juga penting. Selama anak tidak melepas paksa ABD/CI nya, maka semua hal dapat dilakukan bersama anak. Jika khawatir anak tidak mendengar, maka Ayah dapat menepi, kemudian mulai lagi pemahaman preposisi depan-belakang lagi.

2. Belajar Preposisi Menggunakan Mobil

Belajar preposisi dengan menggunakan mobil sama seperti sepeda motor. Ketika anak duduk di depan, kita dapat mengatakan “Alkha duduk di depan, Papa duduk di depan, Mama duduk di belakang”. Jika ada Om atau Paman yang menyetir, sampaikan pula kepada anak, “Om duduk di depan, Alkha juga duduk di depan”.

3. Belajar Preposisi Menggunakan Mainan Mobil Jeep

Alat dan Bahan:

  1. Mainan Mobil Jeep
  2. Lego Karakter

Cara Bermain:

  1. Mainan mobil yang dapat digunakan tidak dibatasi pada jenis ini saja. Yang terpenting adalah mobil tersebut tidak memiliki atap dan kursi duduk depan dan belakang terekspos.
  2. Letakkan mobil di tengah meja. Posisi kan arah-mobil searah dengan arah-duduk si anak.
  3. Letakkan karakter papa-mama-anak di depan anak.
  4. Minta anak untuk meletakkan salah satu karakter untuk duduk di depan, misalnya: Papa mau duduk di depan.
  5. Jika terjadi kesalahan, ingatkan si anak. “Bukan, ini di belakang. Nah, ini duduk di depan”.
  6. Sabar dan terus berusaha hingga anak paham.

4. Belajar Preposisi Dengan Boneka Kesayangan

Alat dan Bahan:

  1. Boneka Monyet
  2. Beberapa mainan Mobil, Pesawat, atau yang disukai.

Cara Bermain:

  1. Letakkan boneka di lantai terpisah dengan anak. Arahkan monyet searah dengan anak. (“Punggung” monyet menghadap “muka” anak).
  2. Ayah atau Bunda bisa duduk di sebelah anak, atau memangku anak.
  3. Minta anak meletakkan mobil merah di depan boneka monyet. Jika terjadi kesalahan, langsung dibenarkan.
  4. Minta anak meletakkan mobil biru di belakang monyet. Jika terjadi kesalahan, langsung dibenarkan.
  5. Jika anak sudah cukup memahami, coba putar boneka monyet sehingga berhadapan dengan anak.
  6. Minta anak meletakkan mobil merah di depan monyet, dan mobil biru di belakang monyet. Kira-kira, anak memahami atau tidak dengan preposisi depan-belakang ini?

Sudah cukup banyak ide tentang belajar preposisi depan-belakang pada kegiatan ini, sekarang tugas Ayah dan Bunda untuk mencoba. Jangan lupa berikan afeksi kepada anak ketika berhasil menyelesaikan tugas.