Tips Agar Anak Mau Menggunakan Alat Bantu Dengar

Beberapa anak tidak bersedia menggunakan ABD setelah orangtua memakaikan alat tersebut di kanal telinga mereka. Bagaimana tips agar anak mau menggunakan Alat Bantu Dengar? Walaupun Alkha termasuk yang tidak lama melakukan penolakan, setidaknya saran ini bermanfaat untuk memberikan penjelasan bahwa ada hak anak yang harus dipenuhi sebelum tugas menggunakan alat bantu dengar dari Ayah dan Bunda bersedia mereka lakukan dengan senang hati.

Ayah dan Bunda yang berada pada tahap ini tentunya merasa sedih, marah, dan bingung mengenai cara agar anak mau menggunakan alat bantu dengar. ABD yang dibeli dengan harga mahal, menguras keuangan keluarga, dan membutuhkan energi yang luar biasa; masih dihadapkan pada penolakan anak menggunakan alat bantu dengar. Nah, bagaimana jika Ayah dan Bunda memposisikan diri sebagai si anak? Yang belum tahu apa tujuan menggunakan alat bantu dengar, bahkan belum berbahasa verbal. Yang dapat mereka lakukan ketika tidak menginginkan suatu hal ialah dengan menghindar, melepas ABD, hingga melempar ABD.

Ada beberapa hak anak yang Ayah dan Bunda perlu diperhatikan agar anak mau menggunakan Alat Bantu Dengar. Dengan memastikan beberapa hal ini, maka Ayah dan Bunda dapat yakin ketika akan melakukan persuasi kepada anak.

1. Alat Bantu Dengar Terlalu Keras

Pada dasarnya setiap anak yang baru menggunakan alat bantu dengar memiliki potensi untuk mengalami trauma dari keras nya suara yang masuk melalui telinga dan menstimulasi otak secara tiba-tiba. Oleh karena itu, umumnya audiolog anak akan memberikan fitting Alat Bantu Dengar sedikit di bawah garis-audiogram-yang-seharusnya untuk beberapa waktu. Biasa nya disesuaikan dengan jadwal fitting ulang ABD, yakni 3 bulan sekali. Oleh karena itu, pada tiga bulan pertama, Ayah dan Bunda seharusnya tidak perlu khawatir bahwa anak akan mendapatkan over-amplifikasi dari alat bantu dengar yang digunakan anak.

Jika Ayah dan Bunda bersikeras bahwa alat bantu dengar tersebut terlalu keras ( over-amplifikasi ), maka tugas Ayah dan Bunda ialah melakukan tes ASSR ulang pada rumah sakit atau klinik yang berbeda dengan klinik yang digunakan untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada anak. Ayo sayangi anak, jika memang belum yakin dengan hasil tes yang ada, lebih baik mengulang lagi ditempat lain. Bukankah tujuan kita membelikan ABD ialah agar anak mendapatkan benefit/ keuntungan menggunakan ABD, yakni mendengar suara dari bahasa (auditory-information) yang nantinya akan kita ajarkan kepada mereka melalui berbagai tips AVT. Hal ini penting diperhatikan Ayah dan Bunda agar anak mau menggunakan Alat Bantu Dengar.

2. Telinga Anak Kotor

Siapa orang yang mau menggunakan earphone ketika telinga nya gatal? Hehe. Orang dengan mobilitas tinggi yang sering menggunakan earphone kabel atau earphone bluetooth saja kadang tiba-tiba melepas alat itu kemudian mengambil cotton bud karena tiba-tiba telinga terasa gatal. Bahkan saking terburu-burunya langsung memasukkan jari kelingking nya ke dalam kanal telinga untuk meredakan rasa gatal. Itu ciri khas telinga yang kotor dan sudah waktu nya dibersihkan. Beruntungnya kita yang orang normal karena kondisi liang telinga yang terbuka, maka lendir kotoran telinga akan mengering bahkan jatuh sendiri.

Sebelum orangtua sadar anaknya mengalami gangguan pendengaran, Dokter THT anak akan memastikan bahwa keterlambatan pada bicara anak tidak disebabkan karena tersumbatnya lubang telinga. Telinga anak yang melakukan tes pendengaran (OAE, Timpanometri, BERA, ASSR) akan menjalani pembersihan telinga terlebih dahulu, demi mendapatkan hasil tes yang objektif. Jadi, bila anak kita coba pakaikan alat bantu dengar, mungkin dalam kisaran satu-dua bulan setelah tes, kita berasumsi telinga anak masih dalam kondisi bersih. Namun, bila tidak yakin, karena produksi kotoran telinga setiap orang berbeda satu dengan lainnya, maka Ayah dan Bunda dapat coba mengintip liang telinga anak ketika sedang tidur dengan bantuan senter. Jika terlihat ada kotoran telinga, alangkah baiknya bawa anak ke dokter THT untuk membersihkan telinga. Jika menggunakan cotton bud pada anak malah dikhawatirkan kotoran telinga akan semakin masuk ke dalam telinga.

3. Telinga anak lecet

Telinga anak yang baru menggunakan ABD bisa jadi mengalami lecet pada kulit telinga nya. Untuk mengurangi potensi lecet, Ayah dan Bunda mengolesi earmold dengan baby-oil, bisa juga diolesi V-Gel. Keduanya cocok dan direkomendasi oleh banyak orangtua. Bila telinga anak terlanjur mengalami lecet, maka sebaiknya berhenti menggunakan ABD sementara waktu dan konsultasi ke dokter THT.

4. Earmold Longgar

Earmold adalah cetakan telinga yang terbuat dari bahan plastik dan dibuat khusus menyesuaikan bentuk telinga anak agar suara yang dihasilkan alat bantu dengar tidak mengalami feedback sekaligus nyaman ketika digunakan. Earmold yang dibuat oleh hearing center biasanya menggunakan bahan yang halus dan nyaman digunakan. Earmold bisa dibuat dari bahan berwarna-warni, satu warna, transparan glossy, dan transparan butek.

Earmold yang longgar dapat dikarenakan beberapa hal. Satu, telinga anak tumbuh seiring bertambahnya usia. Dua, anak banyak gerak ketika proses mencetak earmold. Untuk nomor satu, semakin kecil si anak menggunakan ABD, maka sebuah earmold akan lebih cepat melonggar. Semakin besar, misalnya usia 3 tahun keatas, maka earmold butuh diganti sekitar 6 bulan sekali. Tapi semua tergantung tumbuh kembang anak. Nah, siilakan Ayah dan Bunda cek apakah earmold yang digunakan longgar atau tidak. Untuk nomor dua, jika earmold longgar atau rusak padahal earmold baru diterima, maka Ayah dan Bunda berhak meminta ganti ke hearing center untuk dibuatkan lagi mulai dari awal proses pencetakan.

Kali kedua ini, pastikan anak tidak menyentuh cetakan earmold yang masih basah. Duduklah tegak, pangku anak di depan Ayah atau Bunda. Rapatkan punggung anak ke perut Anda. Pegangi tangan dan kempit kedua kakinya. Bagian kepala dan telinga akan diurus oleh petugas yang mencetak earmold. Sambil menunggu cetakan earmold mengering, gendong anak sambil dipegangi kedua tangannya. Bila satu telinga sudah berhasil, baru lakukan untuk telinga sebelah nya.

5. Telinga anak mengalami peradangan telinga tengah / otitis media

Penolakan menggunakan alat bantu dengar pernah terjadi ketika Alkha sedang pilek batuk cukup lama. Ketika kami intip, ternyata pada bagian dalam telinga nya terlihat warna putih mengkilat, ternyata telinga nya mengalami otitis media. Bila itu terjadi, anak akan tidak nyaman menggunakan ABD. Satu-satunya cara ialah dengan memeriksakan telinga ke dokter THT, maka dokter akan memberikan obat tetes telinga dan obat pilek-batuk untuk meredakan produksi penyakit nya. Sementara waktu anak tidak menggunakan ABD hingga sembuh.

6. Alat Bantu Dengar tidak berfungsi baik

Alat Bantu Dengar yang Ayah dan Bunda miliki merupakan barang elektronik yang bisa rusak sewaktu-waktu. Untuk itu, Ayah dan Bunda dapat melakukan pengecekan sendiri kualitas suara ABD anak. Caranya ialah dengan menggunakan stetoclip yang dapat di beli di Hearing Center, atau dapat pula membuat sendiri dari stetoskop yang dipotong ujungnya.

Alat Bantu Dengar yang masih baru akan sangat jarang mengalami kerusakan. Namun bila ABD yang Ayah dan Bunda miliki ini merupakan ABD seken, maka pengecekan berkala sebaiknya terus dilakukan. Terlebih karena anak belum mampu memberikan respon dari suara yang “baik” dari Alat Bantu Dengar.

Stetoclip ini juga bisa digunakan untuk memastikan bahwa tingkat kekerasan suara yang dikeluarkan ABD kurang lebih sesuai dengan hasil Audiogram. Misalnya telinga kanan memiliki derajat gangguan dengar 90 dBHL akan bersuara lebih lembut daripada telinga kanan yang memiliki derajat gangguan dengar 110 dBHL. Jika sudah dipastikan bahwa ABD yang digunakan sesuai dengan derajat gangguan dengar nya dan bersuara jernih, maka dapat dikatakan bahwa Alat Bantu Dengar telah berfungsi baik.

Simpulan

Jadi, jangan terburu-buru berpikir anak sedang melawan keinginan orangtua yang menginginkan anak konsisten menggunakan ABD sejak bangun hingga mau tidur yaa!! Bisa jadi mereka tidak nyaman menggunakan ABD karena telinga mereka sakit, sedangkan mereka belum bisa menyampaikan nya. Selama anak belum mampu mengadvokasi dirinya sendiri, maka seluruh  tanggungjawab ini merupakan kewajiban orangtua. Jika tips agar anak mau menggunakan Alat Bantu Dengar sudah dilakukan, maka langkah selanjutnya ialah membiasakan anak menggunakan alat bantu dengar.

Sumber:
https://health.detik.com/ulasan-khas/d-2706236/sesering-apa-sebaiknya-membersihkan-telinga-menurut-dokter
http://www.grid.id/read/04708375/kenali-jenis-infeksi-otitis-media-waspadai-gejalanya-ternyata-mirip-flu?page=all

Tinggalkan Balasan