Hirarki Keterampilan Berbahasa Anak

Belajar bersama anak akan menyenangkan ketika kita bisa menyertai perkembangan bahasa nya dengan baik secara bertahap. Kali ini kita akan membahas Hirarki Keterampilan Berbahasa (Hierarchy of Language Skills) yang baru kami pahami setelah hampir tiga tahun mendamping Alkha belajar mendengar dan berbicara melalui Terapi Auditori Verbal. Sebetulnya teori ini lazim digunakan oleh banyak terapis ketika menangani anak dengan gangguan pendengaran, tetapi karena Terapis AVT tentu tidak memiliki waktu untuk berdiskusi dengan Ayah dan Bunda. Maka terapis hanya menjelaskan hal-hal yang sedang berhubungan dengan target AVT anak. Terlalu banyak informasi akan membuat orangtua muda kebingungan sehingga sangat lumrah jika informasi ini tidak banyak dibahas secara detail. Nah, kali ini kami akan membahas sedikit mengenai hirarki keterampilan berbahasa anak untuk memberikan gambaran, sebenarnya anak kita sudah pada tahap yang mana?

Hierarchy of Language Skills

Seorang anak harus memiliki pondasi yang kuat sebelum naik ke tahap selanjutnya. Ketika orangtua memutuskan untuk mengajarkan tahapan yang lebih rumit, maka pondasi nya juga harus terus dikembangkan sehingga posisi pondasi selalu lebih kuat

hirarki keterampilan berbahasa,  Hierarchy of Language Skills
Hirarki Keterampilan Berbahasa

Menamai (Labelling)

Menamai merupakan kemampuan paling dasar seorang anak untuk belajar berbahasa. Jika anak masih batita, maka kemungkinan terapis akan mendahului nya dengan menamai benda berdasarkan bunyinya (sound-object association). Setelah, anak sudah mampu membedakan dua jenis bunyi dan memahami bahwa setiap bunyi memiliki makna. Maka sound-object ini dihilangkan dan mulai mengenalkan benda berdasarkan nama sebenarnya. Ketika sedang makan kita gunakan strategi paralel talk, misalnya: (mau makan pagi).

“Sudah selesai mandi. Sekarang kita makan ya. Kita ambil sendok dan piring. Ini sendok. Ini piring. Sekarang kita ambil nasi di dalam penanak nasi. Awww, panas. Kipas-kipas dulu. Kipas-kipas. Sudah dingin. Ayo buka mulutnya, ini mulut, Buka mulutnya. AAaaa”.

Semua kata yang ditebali di atas merupakan gabungan dari “kosakata target” dengan memainkan “artikulator” (awww, aaaa), dan “gestur” (kipas-kipas sambil goyang kipas tangan). Makanya, cukup sulit juga jika artikel ini dibatasi pada kegiatan labelling saja. Karena kita memang dikejar untuk belajar simultan (bebarengan) beberapa teori sekaligus.

Fungsi (Function)

Fungsi atau kegunaan dapat kita ajarkan kepada anak dalam seluruh aktivitas ketika bersama anak. Coba diperhatikan kembali contoh mau makan pagi di atas, pada tahap labelling, kita belum membahas fungsi dari masing-masing benda. Iya kan?

Nah, kegiatan ini bisa dilakukan pada waktu yang berbeda. Kali ini kita naik ke langkah selanjutnya dengan masih menggunakan contoh yang sama, (mau makan pagi).

“Sudah selesai mandi. Sekarang kita makan. Kita ambil piring ya. Piring itu tempat menaruh nasi dan lauk. Ambil sendok juga. Sendok untuk mengambil nasi. Mana penanak nasi nya? Itu penanak nasi, tempat menyimpan nasi. Penanak nasinya panas.”

Bagaimana, cukup berbeda kan? Sebenarnya tanpa membaca artikel ini, tahap labelling dan function pasti sudah Ayah dan Bunda lakukan. Bedanya, kalau dulu belum sadar, sekarang jadi makin tahu. Tahap function ini sebenarnya bisa juga dilakukan dengan menggunakan buku cerita anak. Pilih buku dengan sedikit teks. Buku ini akan membebaskan Ayah dan Bunda untuk mendongeng dengan bebas. Setiap benda yang ditunjuk anak di dalam buku dapat diterangkan fungsi nya.

Asosiasi

Asosiasi bertujuan untuk menghubungkan satu benda dengan benda lain yang sama-sama digunakan ketika beraktivitas. Misalnya: ada piring, maka ada sendok. Piring dan sendok merupakan dua benda yang saling berhubungan dalam satu aktivitas.

Anak sudah memahami puluhan kosakata yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Setelah itu, bisa mulai diajarkan kepada anak mengenai asosiasi ini. Bisa menggunakan flashcard yang membeli atau bisa juga membuat sendiri.

Atribut

Atribut bertujuan untuk menambahkan sifat dari benda. Pada tahap ini, orangtua dapat mulai mengenalkan warna, bentuk, ukuran, suhu, preposisi, dll; sebagai bagian dari critical elements. Anak akan kita latih untuk mendengar dua kata agar nanti si anak juga mengimitasi dua kata. Misalnya, bola merah, susu dingin, sapi besar, dll.

Kategorisasi, Konsep, dan Antonim

Tahap Hierarchy of Language Skills selanjutnya adalah kategori, konsep, dan antonim. Pada tahap ini, pekerjaan kita akan berjalan secara simultan sehingga dimaklumi akan memakan waktu yang cukup panjang.

Kategorisasi

Kategorisasi bertujuan untuk membuat kosakata baru yang sifatnya generalistik (kosakata umum) dari kumpulan kosakata yang saling berasosiasi (berhubungan). Contoh (1): Peralatan Makan merupakan kosakata umum. Peralatan makan dapat disebut kategori. Peralatan makan memiliki anggota yaitu piring, sendok, garpu. Mama Alkha akan membuat pernyataan dulu seperti, “Alkha, yuk kita ambil peralatan makan. Peralatan makan itu, apa saja? Ada piring, ada sendok, ada garpu. Benar..!!!”. Kosakata kategori ini terus menerus diulang-ulang hingga anak memahami nya.

Contoh (2): Kendaraan merupakan kosakata kategori yang memiliki anggota yang sangat banyak yaitu mobil, ambulan, mobil polisi, mobil pemadam, kereta api, kapal, pesawat, helikopter, pesawat jet. Kendaraan-kendaraan tersebut dapat Ayah dan Bunda temukan mainan nya di pasar. Anak akan sangat mudah mengenali dan mengingat setiap nama kendaraan itu. Ketika anak semakin banyak memahami kosakata kategori, maka Ayah dan Bunda dapat mempersempit kategori. Contoh (3): Kendaraan yang awalnya kategori yang berdiri-sendiri dipersempit dengan membagi menjadi kendaraan darat, kendaraan laut, dan kendaraan udara. Untuk mendapatkan kemampuan membuat kategori yang lebih sempit, maka anak harus memiliki kosakata tambahan untuk menambah jumlah anggota kategori itu. Kendaraan darat (mobil, ambulan, mobil polisi, mobil pemadam, kereta api, becak, sepeda, motor), kendaraan laut (kapal, sampan, perahu), kendaraan udara (pesawat, helikopter, pesawat jet, balon udara).

Kategori yang telah dipahami anak dapat menjadi bagian dari critical elements. Ayah dan Bunda memiliki kesempatan untuk memastikan pemahaman anak ketika mendengar sebuah kalimat perintah sederhana. Anak kemudian melakukan instruksi tersebut dalam kondisi fokus dan konsentrasi. Misalnya kita menyediakan 4 mainan yang disusun dari kiri secara berurutan berupa kereta api, pesawat, (diberi jarak agak lebar), helikopter dan mobil polisi kemudian memberi perintah, “Alkha, ambil kendaraan darat yang di sebelah kanan”. Perintah tersebut merupakan contoh dari penerapan 2 critical elements, yaitu kategori dan preposisi.

Konsep

Konsep merupakan deskripsi sederhana dari kosakata yang dapat dijelaskan dengan mudah kepada anak. Biasanya kami membuat merancang kalimat untuk menjelaskan kosakata baru melalui kosakata yang telah dipahami anak. Misalnya: kendaraan darat merupakan kendaraan yang jalannya di darat. Sehingga untuk menjelaskan darat, anak juga harus memahami laut dan udara.

Konsep tentang bertanya dan menjawab juga dapat Ayah dan Bunda kenalkan. Pertanyaan 5W+H (What, Who, Where, When, Whom, How) yang dalam bahasa Indonesia berarti; Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Punya siapa, Bagaimana membutuhkan waktu untuk dipahami anak. Ayah dan Bunda dapat mulai dengan kata tanya Apa, Siapa dan Dimana, sebagai permulaan.

Konsep baru yang dipelajari anak juga akan berkembang ketika bersekolah di PAUD. Secara filosofis, Auditory Verbal Therapy menyarankan agar anak bersekolah untuk mendapatkan pengalaman berbahasa natural dari anak-anak lain. Hal ini menjadi tantangan bagi orangtua untuk selalu membersamai anak belajar konsep dan kosakata baru sesuai subtema yang menjadi pokok bahasan di sekolah. Ayah dan Bunda dapat meminta pengajar untuk menyediakan buku penghubung guru dan orangtua yang berisi kata kunci kegiatan setiap hari. Sehingga pada sore atau malam hari nya, kita bisa membuat permainan atau membacakan buku pengetahuan bergambar yang mendukung materi di sekolah.

Mama Alkha banyak menemukan buku dengan konsep yang sangat bagus dengan harga yang relatif murah. Sehingga kita tidak perlu menjelaskan melalui Youtube, smartphone, atau televisi ketika membersamai anak belajar konsep baru. Misalnya, ada lho buku tentang proses terjadinya hujan, proses terjadinya halilintar. Ada juga buku mengenai profesi guru, polisi, dokter, perawat, tentara, dll.

Antonim

Antonim biasa disebut lawan kata. Dengan belajar antonim, anak akan memperluas konsep kosakata sekaligus menambah kosakata baru. Ketika anak mampu mengingat lawan kata, maka otomatis akan menambah auditori memori dan memperkaya kosakata nya.

Mama Alkha biasanya menggunakan kalimat pertanyaan semacam ini, “Lawan kata tinggi, apa?”. Jawaban yang diharapkan dari anak adalah, “rendah”. “Lawan kata gemuk, apa?”. Jawaban yang diharapkan ialah “kurus”.

Anak pada awalnya anak berpikir, “Lawan kata?”. Anak akan mulai memikirkan pola setiap jawaban yang diajarkan orangtua. Akhirnya anak memahami bahwa “lawan kata” digunakan untuk menyatakan hal yang berkebalikan dari kosakata yang disebutkan oleh penanya.

Persamaan

Persamaan merupakan kemampuan seorang anak untuk mengelompokkan objek-objek ke dalam kategori. Contoh: Di atas sebuah meja, kita menaruh 1 buah mainan dengan kategori kendaraan, 1 buah mainan dengan kategori orang-orangan, 1 buah mainan dengan kategori sayur-mayur, dan 3 buah mainan dengan kategori pakaian (kacamata, jam tangan, kaos kaki) ? Anak kita tanya sebuah pertanyaan sederhana yang sebenarnya kompleks, “Mana yang sama?”. Harapan nya anak dapat menyebutkan nama kategori kemudian mengatakan masing-masing nama benda. Misalnya, “Ini, ini, ini, sama. Ada kacamata, ada jam tangan, ada kaos kaki. Semuanya, pakaian”.

Bagaimana, semakin menantang kan? Sabar… Pelan-pelan kita ajari anak. Kita ajari anak sambil bermain yaaaaa…

Perbedaan

Perbedaan merupakan kemampuan untuk mengeluarkan objek-objek yang tidak berada dalam kategori yang sama. Dengan contoh yang sama dengan di atas, kita minta anak untuk menyebutkan masing-masing kategori mainan yang sama dan tidak sama. Misalnya, “ini kereta api, kendaraan. Ini wortel, sayur. Tidak sama”.

Multi-Arti

Multi-Arti merupakan sebuah pemahaman akan kata dengan menyesuaikan konteks dan kejadian. Misalnya, kata ‘baru’. Memiliki beberapa arti, (1) barang yang selesai diproduksi, (2) dalam kegiatan. Kata-kata yang multi-arti sangat banyak. Sedang apa? Sedang dapat berarti (1) dalam kegiatan, (2) dapat berarti ukuran antara besar dengan kecil.

Kosakata multi-arti akan semakin banyak ditemukan ketika sedang berbicara bersama anak. Kenalkan anak dengan kata multi-arti sehingga anak memahami konteks penggunaan kata tersebut. Memahami banyak kosakata multi-arti berarti si anak sedang berbahasa secara natural dan memiliki kekayaan bahasa yang baik.

Analogi

Analogi merupakan perumpamaan yang menyamakan benda sebenarnya dengan benda yang ada disekitar kita. Misalnya, ‘Bulan Sabit’ bentuknya seperti ‘Pisang’. ‘Roda’ bentuknya seperti ‘Donat’. ‘Tempurung’ seperti ‘Tas’, dan sebagainya.

Analogi juga dapat berupa pengandaian yang membandingkan kondisi satu dengan kondisi yang lain menuju kesimpulan umum. Semakin anak berkreasi dengan analogi, artinya si anak sedang melakukan kreativitas yang baik. Terus kembangkan kemampuan berpikir analogis seperti itu dalam beberapa percakapan.

Idiom

Idiom merupakan susunan kalimat yang artinya tidak dapat ditebak tanpa memahami maknanya. Kalimat idiom baru muncul ketika anak sudah bersekolah dengan menyesuaikan kematangan kognitif nya.

Kita telah membahas mengenai Hirarki Keterampilan Berbahasa (Hierarchy of Language Skills) pada anak. Begitu kompleks nya tahapan ini harus dilalui anak satu persatu. Nah, sudah dimanakah anak kita sekarang?

Sumber:

https://slideplayer.com/slide/6470/
https://toplintas.com/contoh-paragraf-analogi/
https://www.kbbi.web.id/idiom
http://www.thespeechbubbleslp.com/2017/12/use-language-processing-hierarchy.html
https://www.teacherspayteachers.com/Product/Hierarchy-of-Language-Skills-for-Speech-Therapy-Intervention-FREE-2311067


Ling Six Sound Test Setiap Hari Di Rumah

Setelah anak menggunakan Alat Bantu Dengar, mulailah kita diperkenalkan dengan berbagai istilah yang cukup asing di telinga, salah satunya Ling Six Sound Test. Dalam bahasa Indonesia, Ling Six Sound berarti enam suara yang ditentukan Ling, atau Bapak Daniel Ling (1990).

Apa Yang Dimaksud Ling Six Sound Test ?

Ling Six Sound Test adalah metode sederhana yang digunakan untuk mengetahui seberapa baik pendengaran anak ketika menggunakan alat bantu dengar atau implan koklea. Tes Ling Six Sound melihat dari perilaku anak selama mendengarkan beberapa bunyi sederhana untuk memastikan apakah ada perubahan penerimaan suara dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, Tes Ling Six Sound sebaiknya dilakukan setiap pagi ketika akan menjalani kegiatan sehari-hari, berangkat terapi AVT, atau berangkat ke sekolah.

Bunyi Ling Six Sound tidak membutuhkan peralatan elektronik, cukup suara Ayah dan Bunda saja. Keenam bunyi Ling tersebut adalah “aaa”, “iii”, “uuu”, “mmm”, “shh”, and “sss”. Bunyi Ling ini sebenarnya berada pada rentang frekuensi 250 – 4000 Hz dan tersebar pada kelompok wicara rendah, sedang, dan tinggi. Jadi, bunyi Ling ini sudah cukup baik untuk memastikan apakah anak dapat mendengar suara wicara dengan cukup baik atau tidak.

Cara Ling Six Sound Test Setiap Hari

Jika Ayah dan Bunda sudah mulai belajar AVT di klinik, maka tugas kita (orangtua) adalah menggunakan Ling Six Sound setiap hari dengan cara:

  1. Pengaturan posisi duduk antara Ayah-Bunda dengan anak. Karena kita akan menguji pendengaran anak, maka posisi terbaik ialah Ayah-Bunda berada di sebelah si anak. Dan memilih pada bagian telinga yang memiliki gangguan pendengaran lebih rendah.
  2. Pergunakan suara yang natural dengan kekerasan suara yang cukup. Setiap bunyi diucapkan dengan nada yang sama, tidak meliuk-liuk (pictch nya lurus). Ucapkan satu persatu bunyi Ling sehingga anak dapat belajar membedakan suara.
  3. Pastikan Ayah dan Bunda tidak membuat gerakan wajah, alis, dan mulut yang membuat anak melihat pola yang sama pada masing-masing bunyi. Jika diperlukan, gunakan kertas atau tangan untuk menutupi bentuk mulut.
  4. Setelah satu bunyi Ling diucapkan, tunggu hingga anak memberikan respon berdasarkan usia nya. Usia anak (bayi, batita, balita) sangat mempengaruhi jenis respon.

Respon Anak Terhadap Ling Six Sound Berdasarkan Usia

Kami yang baru mengetahui Alkha memiliki gangguan pendengaran pada usia hampir dua tahun (batita) harus menyadari bahwa respon yang diberikan anak akan berbeda dengan anak yang lebih kecil (bayi), atau dengan yang lebih besar (balita dan prasekolah). Sebenarnya jika Ayah dan Bunda ingin lebih detail, bisa membaca tahapan perkembangan anak terintegrasi pada bidang pendengaran. Penjelasan sederhana seperti ini:

Respon Bayi

Jika bayi diberikan bunyi Ling, maka mereka akan memberikan respon berupa isyarat perilaku, seperti mengernyit (perubahan bentuk alis), menoleh, berhenti sejenak bila waktu itu sedang melakukan suatu aktivitas (minum susu atau sedang bermain sendiri). Jika bayi memberikan respon yang sama ketika bunyi Ling ini diucapkan, maka respon anak dapat dikatakan valid (tepat).

Respon Batita (Bawah Tiga Tahun)

Anak bawah tiga tahun sudah cukup mahir merespon bunyi ling dengan melempar sebuah mainan ke dalam keranjang, atau memasukkan cincin mainan ke pasak nya, atau menunjuk telinga jika mendengar bunyi Ling. Jika dilakukan melalui FFT dinamakan Conditioned Play Audiometry.

Respon Balita (Bawah Lima Tahun)

Anak bawah lima tahun sudah cukup mampu merespon bunyi ling dengan kemampuan yang lebih tinggi, yakni (1) diskriminasi suara (membedakan dua jenis bunyi berbeda) dan (2) mengidentifikasi suara (menentukan satu dari dua jenis bunyi). Balita lebih mampu menentukan bunyi yang mewakili benda, misalnya aah untuk pesawat, sss untuk ular. Anak yang sudah terlatih dapat menunjuk pada sebuah gambar yang mewakili bunyi yang didengarnya. Gambar-gambar itu disebut Flashcard Ling Six Sound.

Berlatih Ling Six Sound Sebagai Bagian Dari Tahap Deteksi Suara

Bila Ayah dan Bunda belum berkesempatan melakukan terapi AVT di klinik, maka sebaiknya kita mulai saja beberapa hal sederhana untuk meningkatkan kemampuan mendengar anak, yakni deteksi suara menggunakan Ling Six Sound. Anak yang baru mulai menggunakan alat bantu dengar atau implan koklea kita ajari agar fokus pada deteksi suara. Artinya, enam bunyi Ling yang terdengar harus dikonfirmasi “ada” dan “tidak-ada”. Respon anak berbeda-beda sesuai penjelasan di atas.

Siapkan permainan yang akan digunakan untuk deteksi suara, misalnya sekumpulan lego duplo dan keranjang merah. Kita duduk di sebelah anak. Berikan salah satu bunyi Ling, milsal nya “aaah”. Jika anak berusaha melihat bibir, biarkan saja, tak apa, kan kita sedang berlatih. Lalu, ajari anak untuk memasukkan lego tersebut ke dalam keranjang sebagai respon suara yang didengarnya. Ketika anak diperdengarkan bunyi ling lainnya, misalnya “uuu”,  bantu anak menyelesaikan permainan yang dipersiapkan.

Nah, jika anak belum memberikan respon seperti yang diharapkan, kita bisa gunakan Expectant Look. Caranya mudah, tunggu saja, sembari berikan wajah yang menginginkan anak untuk memberikan respon. Ayah dan Bunda buat ekspresi wajah seolah mau bilang, “Aku dengar suara, ayo masukkan lego ke dalam keranjang”. Nah, ekspresikan hal tersebut ke anak. Tunggu, sabar… Jika anak belum memahami, bantu lagi si anak.

Kita juga bisa memberikan “ketidakadaan suara” kepada anak. Berikan keheningan pada diantara Ling Sound ini. Tunggu. Dan berikan gelengan kepala, “Tidak ada suara” sambil berikan ekspresi sedih.

Nah, ketika anak sudah siap dengan deteksi suara, setelah beberapa kali berlatih, hilangkan semua petunjuk visual. Beri penghalang di depan mulut dengan menggunakan kertas atau tangan agar anak tidak lips reading dan semakin fokus dengan pendengaran nya.

Berlatih Ling Six Sound Sebagai Bagian Dari Tahap Diskriminasi Suara

Ayah dan Bunda dapat mengenalkan Ling Six Sound dengan cara melatih anak menggunakan objek visual. Biasanya, huruf aaa diwakili gambar pesawat, huruf iii diwakili gambar tikus, huruf uuu diwakili gambar kereta api, huruf mmm diwakili dengan gambar mobil, huruf sss diwakili gambar bayi bobok, huruf sshh diwakili gambar ular.

Bunda dapat memulai dengan mengenalkan huruf Aa, Uu, dan Mm karena ketiga huruf ini lebih mudah ditirukan. Sediakan ketiga kartu bergambar dihadapan si anak. Buat anak konsentrasi dengan berkata, “Dengar ya…!!!” sambil menunjuk telinga. Setelah itu posisikan gambar pesawat di depan mulut ibu dan bilang Aaaahhh. “Coba ayah…!!”. Sekarang posisikan kartu gambar pesawat di depan mulut ayah. Dan ayah pun bilang “Aaahhh”. Terakhir, posisikan kartu pesawat di depan mulut anak dan tunggu dia mengeluarkan suara. Suara apapun yang keluar pada tahap ini tidak perlu dikoreksi, justru berikan apresiasi atau tanggapan yang meriah seperti “Horee” dan tepukan tangan. Ulangi lagi dengan gambar yang lain. Lakukan hal ini hingga anak paham dan konsisten mengeluarkan suara yang sama.

Berlatih Ling Six Sound pada Tahapan Identifikasi Suara

Pada Balita yang sudah cukup mahir untuk membedakan suara, kita bisa berlatih identifikasi suara. Intinya adalah ketika ada salah satu suara dari Ling’s Six Sound ini muncul, maka anak akan memilih diantara objek visual yang ada di depannya. Mulailah dengan memberikan contoh kepada anak, “Ayo Papa, Mama mau Aaaaaa”. Kemudian Papa ambil objek pesawat. Jangan lupa untuk merayakan karena ini hal yang penting, “horeee”. Lanjut ke iiii, Papa ambil obyek tikus dan seterusnya. Pada giliran si anak, tentu dia masih belum cukup mahir. Bunda dapat turut membantu anak mengambil objek yang benar sehingga anak memahami instruksi yang Bunda berikan.

Flashcard Ling Six Sound Yang Berbeda-Beda

Jika Ayah dan Bunda mencari Flashcard Ling Six Sound di internet, maka akan mendapati flashcard yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Yang terpenting adalah konsistensi penggunaan gambar dalam flashcard karena yang kita ajarkan sebenarnya hanyalah frekuensi suara yang diwakili dengan simbol gambar. Jika Ayah dan Bunda akan memulai terapi AVT di klinik atau di hearing center, maka sebaiknya ditanyakan simbol Ling Six Sound yang mereka gunakan agar terdapat kesesuaian dengan AVT di rumah.

Download Flashcard Ling Six Sound

Beberapa jenis flashcard yang dapat Ayah dan Bunda unduh ialah:

1. Flashcard Ling Six Sound by Advance Bionic

Ayah dan Bunda bisa unduh flashcard tersebut dengan membuka halaman ini

https://advancedbionics.com/us/en/home/support/tools-for-schools.html

Cari pada bagian Educational Support → Tools for Using the Ling 6 Sounds to Verify Listening in the Classroom.

2. Flashcard Ling Six Sound by Cochlear

Ayah dan Bunda bisa unduh flashcard tersebut dengan membuka halaman ini

https://www.cochlear.com/in/home/support/rehabilitation-resources/early-intervention/other-early-intervention-resources

Cari pada bagian Ling-6 Sounds → Download Ling 6 Sounds.

3. Flashcard Ling Six Sound by Medel

Ayah dan Bunda bisa unduh flashcard tersebut dengan membuka halaman ini

https://www.medel.com/support/rehabilitation/rehabilitation-downloads

Cari pada bagian Ling Six Sound Cards → Download.


Sumber: Naskah Ling Six Sound Tiga Brand Implan Koklea di atas

PAUD : Buku Penghubung Guru-Orangtua

Menyekolahkan anak dengan gangguan pendengaran ke PAUD memang bukan perkara yang mudah. Untungnya, KB/TK Aurica memberikan masukan kepada pengajar di kelas untuk membuat buku penghubung guru-orangtua yang merupakan salah satu ide paling brilian yang kami dapatkan di sekolah itu.

Fungsi Buku Penghubung Guru-Orangtua

Buku penghubung guru-orangtua digunakan oleh guru untuk memberi informasi kepada orang tua berupa:

  1. Inti materi selama belajar pada hari itu.
  2. Memberikan penilaian secara objektif kemampuan dan ketidakmampuan anak ketika mengikuti materi pada hari itu.
  3. Menuliskan kata kunci yang  digunakan pada kegiatan belajar mengajar pada hari itu.
  4. Menuliskan materi yang akan diberikan pada minggu depan.

Buku penghubung guru-orangtua ini memudahkan Ayah dan Bunda untuk:

  1. Mengulang materi yang diberikan pengajar pada hari itu ketika di rumah.
  2. Menggunakan media alternatif yang memudahkan anak dalam memahami kata kunci pelajaran.
  3. Memberikan bekal pengetahuan tentang sub-materi yang nanti diberikan pengajar pada minggu yang akan datang.
buku penghubung guru-orangtua
Buku Penghubung Dari Bunda Pengajar

Anak Memahami Materi Pelajaran

Strategi menggunakan buku penghubung guru-orangtua bukan bertujuan agar anak dapat menyaingi teman-teman nya hingga menjadi yang nomor satu. Tapi bertujuan agar anak dapat mengimbangi kemampuan teman sekelas dalam memahami materi. Kemampuan mendengar anak dengan gangguan pendengaran tidak sama dengan anak dengan pendengaran normal, sangat mungkin apabila seorang anak mengalami kesalahan pengambilan kesimpulan dari kalimat panjang yang diucapkan pengajar. Belum lagi dengan adanya gangguan penyerta yang masih menjadi PR bagi anak dan orang tua, misalnya gangguan konsentrasi, gangguan oral dan wicara, gangguan keseimbangan, dll.

Buku penghubung menjadi sarana yang efektif untuk mendukung orang tua belajar bersama anak ketika di rumah. Menjadi bahan materi AVT di rumah yang seringkali dikeluhkan oleh orangtua, “Di rumah harus mengajari apa?”.

Buku penghubung guru-orangtua berbeda dengan materi LKS secara umum. Tidak selamanya guru akan berpedoman penuh pada materi LKS karena tentu pengajar akan secara fleksibel memberi pelajaran sesuai kemampuan anak didiknya. Buku penghubung guru-orangtua menurut saya pribadi dapat menciptakan perasaan kasih sayang dalam mendukung perkembangan akademik anak, baik guru kepada anak, dan antara guru dengan orangtua.

Strategi AVT Mendukung Akademik

Ketika anak sudah melewati tiga tahapan mendengar, yakni deteksi, diskriminasi, dan identifikasi, maka orang tua dan anak akan menjalani tahapan keempat, yakni Komprehensi. Pada tahap ini, biasanya anak sudah memasuki usia sekolah. Oleh karena itu, target komprehensi dibuat dengan menyesuaikan kebutuhan akademiknya.

Tingkat kesulitan menggabungkan strategi AVT dalam mendukung akademik akan bertambah seiring meningkatnya kelas anak ketika bersekolah. Keterbatasan kosakata yang menjadi kendala anak sebaiknya dipahami orangtua. Di samping menambah kosakata yang berhubungan dengan teks akademik, orang tua memikirkan cara pengajaran sebuah materi pelajaran secara lebih sederhana dan lebih logis sehingga mudah di pahami. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua mulai mempersiapkan mental dan membuka pikiran terhadap alternatif metode pengajaran anak agar mudah menerima pelajaran. Misalnya, mencoba (trial) jarimatika di sebuah tempat les untuk memudahkan anak berhitung, jika cocok maka metode tersebut dapat dilanjutkan.

Contoh materi sederhana untuk target komprehensi Alkha pada usia 4 tahun adalah memahami deskripsi sebuah objek. Misalnya, Sapi dideskripsikan sebagai “binatang yang menghasilkan susu”. Atau harimau sebagai “binatang buas yang makan daging”. Kedua nama binatang tersebut muncul baik dalam materi terapi AVT di tempat terapi maupun materi sekolah PAUD.

Bagaimana jika sekarang anak sudah SD? Silakan Ayah dan Bunda yang lebih dahulu berpengalaman dapat membagikan tips nya pada kolom komentar di bawah.

Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Kami sering bertanya-tanya, mengapa terkadang Alkha menolak ketika belajar walau sambil bermain? Apakah permainannya tidak menarik? Atau sebenarnya dia belum mampu mencerna permainan itu? Apakah membaca, menulis, dan berhitung dapat diajarkan sejak dini? Bagaimana cara mengajarkannya? Tulisan ini bukan untuk menjawab pertanyaan sebelumnya. Tulisan ini membahas tentang teori kemampuan perkembangan kecerdasan seorang anak, yakni Teori Perkembangan Kognitif Piaget.

Teori Perkembangan Cognitif Piaget
Sumber Gambar: Sprout & MinuteVideos,com

Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Teori Perkembangan Kognitif Piaget (Piaget’s Theory of Cognitive Development) berpendapat bahwa setiap orang harus melalui 4 tahap kemampuan berpikir (kognitif), yakni:

  1. Tahap Sensori-Motor
  2. Tahap Pre-Operasional
  3. Tahap Operasional Konkret
  4. Tahap Operasional Formal

Tahapan-tahapan ini harus dilalui satu persatu untuk mendapatkan apa yang dinamakan Kecerdasan Penuh Manusia.

1. Tahap Sensori-Motor

Tahap sensori-motor dimulai sejak usia 0-2 tahun. Pada tahap ini, kita mengembangkan pengalaman melalui 5 panca indera. Otak akan merekam semua yang dilihat, didengar, dibau, dirasa, dan disentuh. Pertama, kita mulai dari reflek sederhana kemudian akan mengembangkan perilaku-perilaku umum. Sejak usia 4 bulan, kita menjadi perhatian dengan bagian tubuh kita sendiri dan ketika lebih besar lagi, kita belajar untuk memainkan beberapa benda di sekitar kita secara sadar. Pada tahap ini, kita mengembangkan ingatan dalam mengerjakan sesuatu, atau dalam terminologi Piaget adalah kemampuan realisasi objek permanen (permanensi objek).

Sebelum itu, ibu akan memberitahu kita sebuah objek (misalnya boneka), kemudian disembunyikan, dan kita mengira itu hilang. Setelah kita mengetahui bahwa objek tersebut masih ada walaupun kita tidak melihatnya, kita menjadi sangat ingin tahu tentang segala hal. Kita ingin mencium bau bunga, merasakan makanan, mendengarkan suara, dan berbicara dengan orang lain yang tidak dikenal. Untuk mengekplorasi lebih banyak, kita bergerak, kita belajar untuk duduk, merangkak, berdiri, berjalan, bahkan berlari. Hal-hal ini akan meningkatkan mobilitas fisik sehingga meningkatkan perkembangan kognitif, tapi kita masih berpusat pada diri kita sendiri (ego-sentrik). Artinya kita masih melihat seluruh dunia dari sudut pandang kita sendiri.

2. Tahap Pre-Operasional

Tahap kedua dalam Teori Perkembangan Kognitif Piaget adalah Tahap Pre-operasional yang dimulai usia 2-7 tahun. Pada usia itu, kita mulai mengembangkan konsep kognitif secara simbolik dan mulai menggunakan intuisi. Kita menggunakan banyak fantasi dan percaya bahwa objek tersebut hidup, misalnya boneka beruang. Karena kita belum bisa menggunakan operasi berpikir yang khusus, Piaget menamakan ini sebagai Tahapan Pre-Operasional.

Pada tahap ini, kita belajar untuk berbicara dan memahami kata, gambar, dan gesture sebagai simbol dari sesuatu yang lain. Misalnya, kata “mooo” berarti gambar sapi; gesture tangan kanan terbuka dan bergerak kanan ke kiri bolak balik adalah simbol perpisahan.

Ketika kita menggambar keluarga, kita tidak menggambar masing-masing orang, tapi menggambarkan arti simboliknya, misalnya Papa sedang naik sepeda, Alkha naik mobil, Mama sedang memasak. Kita juga menyukai bermain peran, karena membuat kita merasakan sesuatu yang baru dan belajar sangat banyak dari sana, misalnya main dokter-dokteran, main superhero, main jadi monster, dan sebagainya.

Sekitar usia 4 tahun, kebanyakan dari kita akan sangat ingin tahu, sehingga makin banyak bertanya. Kita ingin mengetahui banyak hal. Artinya kita sedang menumbuhkan “penalaran primitif”. Piaget menamakan ini sebagai “Usia Intuitif”. Ketika menyadari bahwa banyak pengetahuan yang ada di sekitar, tetapi kita tidak tahu bagaimana cara mendapatkan nya.

Kemampuan berpikir kita masih pada tahap yang ego-sentris. Kita berpikir bahwa orang lain berpikir sebagaimana kita berpikir; dan kita tidak tahu bahwa sebenarnya orang lain melihatnya berbeda.

3. Tahap Operasional Konkret

Tahap Operasional Konkret dimulai pada usia 7-11 tahun. Pada masa itu, kita mendapati bahwa ada alasan dibalik segala sesuatu. Kita mengembangkan kemampuan berpikir logis, seperti Kemampuan Mengurutkan Objek dalam urutan tertentu. Kemampuan lainnya ialah kemampuan penalaran induktif. Contohnya, ketika kita mendapati seseorang suka makan biskuit, kita membuat kesimpulan dan generalisasi bahwa setiap orang juga suka makan biskuit.

Kemampuan selanjutnya adalah Kemampuan Konservasi. Kita akhirnya mengetahui, bahwa ketika dua buah gelas berisi air yang sama jumlahnya, kemudian salah satu dipindah ke gelas yang lebih tinggi, keduanya masih memiliki jumlah yang sama. Sedangkan ketika usia kita lebih kecil, kita menganggap bahwa gelas yang lebih tinggi punya jumlah yang lebih banyak. Pada tahap ini, kita juga memahami bahwa ketika 3+5 = 8, maka 8-3 = 5.

Kemampuan Klasifikasi Operasi. Otak kita belajar untuk mengatur kembali seluruh pemahaman yang didapatkan kemudian mengklasifikasikannya, kemudian membuat kerangka operasi mental yang konkret. Pada tahap ini, sekarang kita memahami bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang berkebalikan dengan sesuatu yang berkebalikan pula. Misalnya, ketika kita menekan tombol saklar lampu pada bagian bawah, maka lampu akan hidup; agar lampu mati, kita tinggal menekan kebalikannya, yakni tombol bagian atas.

Kita sangat senang dengan kemampuan mental baru ini. Kita gunakan dalam percakapan, aktivitas, bahkan ketika kita belajar menulis, termasuk belajar di sekolah. Hasilnya, kita mengetahui kemampuan diri kita dengan lebih baik lagi. Kita mulai menyadari bahwa pemikiran kita, perasaan kita itu unik dan berbeda dengan orang lain. Karena itu, sekarang kita jadi tertarik untuk mencoba kemampuan lain, yakni mencoba berada dalam posisi orang lain atau pemikiran orang lain.

4. Tahap Operasional Formal

Teori Perkembangan Kognitif Piaget terakhir ialah Tahap Operasional Formal yang dimulai usia 12 tahun ke atas. Ketika kita beranjak remaja, kita jadi lebih formal dalam melakukan sesuatu. Karena kita memiliki kemampuan untuk berpikir lebih rasional tentang konsep yang abstrak dan peristiwa dengan hipotesis. Contoh hipotesis ialah “jika aku tendang bola ke dinding dengan keras, kemudian memantul kembali terkena kepala ku, pasti rasanya sakit”.

Kemampuan berpikir kita yang lebih tinggi ini membawa kita untuk memahami konsep yang abstrak seperti kesuksesan dan kegagalan, rasa cinta dan kebencian. Kita mampu menggali lebih-dalam identitas diri sendiri (“Siapa aku?”, “Apa cita-cita ku?”) dan moralitas diri (membedakan baik dengan buruk). Kita juga semakin memahami kenapa seseorang berperilaku seperti mereka berperilaku (mereka nakal, mereka baik, mereka hedonis, mereka sederhana). Sehingga pada akhirnya kita dapat menjadi seseorang yang mawas diri dan welas asih.

Otak kita sekarang dapat melakukan cara berpikir deduktif, artinya kita dapat membandingkan dua pernyataan dan menyimpulkan secara generalisasi logisnya. Kemampuan mental baru ini memberi kita kesempatan untuk merancang kehidupan secara sistematis dan mampu membuat prioritas. Kita dapat membuat asumsi tentang peristiwa yang tidak berhubungan dengan kenyataan. Kita dapat melakukan kegiatan berpikir mendalam layaknya seorang filsuf yang “berpikir” tentang “apa itu berpikir”.

Selanjutnya, kita akan membuat pola berpikir egosentrik tentang “bagaimana orang melihat kita dan bagaimana orang akan memberikan respon?”. Hal ini terjadi secara terus menerus sepanjang waktu. Piaget percaya bahwa kita belajar sepanjang usia, tapi terus menegaskan bahwa kemampuan operasional formal merupakan tahapan terakhir dalam kemampuan berpikir manusia.

Siapa Jean Piaget itu?

Jean Piaget ialah seorang peneliti yang mula-mula tertarik burung gereja albino kemudian membuat tulisan riset nya pada usia 11 tahun (1907). Pada tahun 1920, dia mulai mengerjakan Test Standar Kecerdasan. Dia menyadari bahwa anak kecil membuat kesalahan yang konsisten, dimana tidak dilakukan oleh remaja. Dia menyimpulkan bahwa anak kecil dan remaja pasti berpikir secara berbeda. Kemudian dia menghabiskan hidupnya dalam studi perkembangan kecerdasan pada anak.

Tulisan di atas merupakan narasi orisinil dari video Sprout tentang Piaget’s Theory of Cogntive Development dari video ini dan Papa Alkha tambahkan redaksional yang tidak merubah inti simpulannya.

Teori Perkembangan Kognitif Piaget kan cuma sekedar teori?

Nah, bentuk-bentuk tes kemampuan kognitif ini dapat Ayah dan Bunda simak pada video di bawah. Ada beberapa hal yang menarik, yakni ketika seorang anak melakukan kesalahan memilih gelas yang tinggi dengan alasan dia berpikir bahwa isinya lebih banyak. Ketika dihadapkan pada mental-map 3 dimensi, anak yang belum mampu memperkirakan lawan bicaranya dapat melihat apa saja. Ada anak yang belum mampu membuat kerangka berpikir abstrak. Kesalahan itu secara konsisten terjadi karena anak belum melewati tahapan tersebut.

Bagaimana? Teori Perkembangan Kognitif Piaget ini cukup menarik kan? Jika kita sedang merancang cara terapi Terapi Auditori Verbal di rumah melalui sebuah permainan yang mengasah kemampuan kognitif, maka sesuaikan dengan kemampuan atau usia si anak. Cek dan ricek materi yang kita berikan. Bisa jadi materi yang sedang kita ajarkan ini belum mampu diolah oleh nya karena usianya masih belia.

Sumber:
Youtube - Piaget's Theory of Cognitive Development
Youtube - Piaget Stages of Development

Pinterest Sumber Inspirasi AVT Di Rumah

Pinterest merupakan sebuah merk situs yang berasal dari gabungan dua kata, yakni “pin” dengan “interest“, pin your interest. Dalam bahasa Indonesia, bisa diterjemahkan bebas sebagai “pilah dan pilih hal-hal yang menarik bagimu”. Pinterest bekerja dengan cara crawling (menjelajah) satu demi satu website yang memiliki ratusan gambar. Yang menarik ialah banyak sekolah TK di Amerika yang mempromosikan kreativitas pengajar nya melalui media pinterest berupa desain jadwal kelas, infografis kelas, foto kegiatan motorik kasar, dan foto kegiatan motorik halus. Banyak sekali informasi yang berhubungan dengan metode dan teknik pendidikan anak, maka tidak salah apabila Pinterest sumber inspirasi AVT di rumah.

Strategi Awal AVT

Pada dasarnya, Terapi Auditory Verbal merupakan terapi yang bertujuan untuk mengoptimalkan sisa pendengaran dengan menggunakan alat bantu dengar dan implan koklea. Strategi-strategi AVT, seperti mendengar tanpa melihat bibir, mendengar secara berulang-ulang (repetisi), motherese, expectant look; sangat kental digunakan oleh Terapis dan orangtua ketika anak baru berusia mendengar satu-dua tahun. Saat itu, anak masih belajar mengenal suara, belajar mengeluarkan suara, dan memahami kosakata.

Setelah AVT yang berfokus hanya-melalui-pendengaran dianggap berhasil, maka terapi dapat dilakukan dengan bantuan sensor-sensor lain, seperti sensor visual (mata), sensor taktil, dan sensor propioseptif. Dengan membuat kegiatan AVT yang menggabungkan beberapa sensor dalam terapi, maka anak mendapat stimulasi pada seluruh sensor sehingga diharapkan anak lebih mudah mengingat instruksi di dalam kegiatan terapi.

Menggunakan Prinsip AVT Ketika Di Rumah

Seorang Ayah membuat gambar mobil pada sebuah kertas. Kemudian si anak dipangku agar tidak lips reading. Si Ayah membiarkan anak mencoret-coret gambar menggunakan crayon. Mendekatkan mulut ke alat bantu dengar atau implan koklea, si ayah terus menerus berbicara tentang mobil yang memiliki roda. Mobil itu berwarna merah sesuai dengan warna crayon yang dipegang. Ketika crayon terlepas dan jatuh, si Ayah akan berkata, “Owh owh” untuk memberi contoh kepada anak cara merespon suatu kejadian. Kemudian tertawa bersama anak sebagai bentuk dari afeksi (perhargaan). Apakah si Ayah telah menerapkan strategi Terapi Auditory Verbal di rumah? Ya, si ayah sedang menggunakan strategi AVT ketika di rumah.

Pinterest Sumber Inspirasi AVT di Rumah

Memulai Belajar Melalui Pinterest

Untuk memulai dan mempermudah menjelajahi ide-ide terapi AVT di rumah, Ayah dan Bunda dapat mendaftar secara gratis ke website Pinterest. Setelah itu, follow akun Papa Alkha. Di sana kami pin beberapa macam bahan belajar yang cocok diterapkan ketika di rumah. Nantinya, Pinterest akan mengirimkan gambar melalui notifikasi di Hp android tentang berbagai macam gambar yang memiliki kemiripan dengan hashtag (#) yang telah di-pin Ayah dan Bunda karena follow akun Papa Alkha. Mudah kan? Timbang harus mengisi kata-kunci (keywords) terlebih dahulu yang dalam bahasa Inggris.

Pinterest, sumber inspirasi AVT di rumah, berisi banyak gambar dan foto aktivitas yang menarik. Bila menemukan gambar anak sedang memukul balon menggunakan raket dari piring, artinya si anak sedang dilatih mengembangkan sensor propioseptif nya. Bila menemukan gambar anak sedang meniup bola pingpong dengan jalur dari playdoh (malam), artinya dia sedang dilatih mematangkan pendukung organ wicara nya. Memainkan playdoh sendiri merupakan kegiatan untuk mengembangkan sensor taktil. Bila menemukan gambar anak sedang berdiri di dalam kertas berwarna, sedangkan ada anak lain berdiri di atas kertas berwarna lain, artinya dia sedang dilatih sensor vertibular nya.

Permainan Bertujuan

Kalau begitu, seluruh kegiatan permainan semuanya mendukung terapi? Iya, benar. Mudah kan? Main-main bisa dianggap terapi. Bedanya, Ayah dan Bunda dulu tidak tahu. Tapi sekarang jadi punya gambaran, bahwa seluruh aktivitas kita bersama anak memiliki tujuan yang lebih besar lagi. Setiap anak itu unik, bisa jadi si anak tertarik ke kegiatan yang dominan pada salah satu sensor, padahal sensor lain belum distimulasi secara aktif. Karena Ayah dan Bunda sudah tahu, yuk kita belajar lebih banyak lagi. Kita cari tahu, sensor apa yang belum berkembang matang, lalu kita buat permainan nya untuk mendukung sensor tersebut.

Bagaimana, Ayah dan Bunda sudah mendapatkan gambaran tentang Pinterest sumber inspirasi AVT di rumah? Sumber inspirasi ada banyak, kesulitan kita biasanya ada pada tahap pelaksanaan (eksekusi). Untuk mempersiapkan bahan permainan juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Jadi, semoga Ayah dan Bunda senantiasa diberikan kesehatan sehingga dapat mendampingi putra-putri nya untuk semakin banyak memahami bahasa.

Sumber:
https://pinterest.com