Cara Mengatasi Ketergantungan Gadget Pada Anak

Mama Alkha akan berbagi trik tentang bagaimana cara mengatasi ketergantungan gadget pada anak. Nah, harus Papa Alkha akui bahwa saya adalah orang yang bertanggungjawab sebagai sosok yang mengenalkan gadget secara berlebihan. Jadi, kami ucapkan banyak terimakasih kepada Mama Alkha yang menyelamatkan saya dan sukses menghilangkan kebiasaan ini dari diri Alkha. Oiya, artikel ini permintaan dari Kak Manges, lho….

Pada dasarnya, seorang anak kecil tidak boleh mengenal smartphone terlalu dini. Sudah banyak informasi di internet bahwa usia minimal ialah 14 tahun atau telah memasuki usia sekolah menengah pertama (SMP). Itupun masih dalam durasi yang terbatas. Beberapa orangtua yang kami anggap menyayangi Alkha memberikan peringatan kepada kami tentang bahaya ketergantungan gadget pada anak. Gadget seperti smartphone, PSP, komputer, televisi, dll.

Memahami Bahaya Gadget Pada Anak

Ada hal yang menurut Mama Alkha harus kita bersama yakini.
Dari keyakinan tersebut maka akan muncul kemauan Orangtua untuk merubah anak.

  1. Gadget akan membuat anak semakin terlambat bicara. Karena itu, menyelesaikan masalah gadget sejak dini akan semakin baik bagi anak.
  2. Gadget akan menimbulkan ketergantungan atau kecanduan pada anak. Ciri khas kecanduan ialah ketika anak dijauhkan dari barang yang dimaksud, maka anak akan marah hingga tidak terkendali.
  3. Orangtua akan dianggap sebagai musuh oleh anak (pada awalnya saja kok). Karena anak belum memahami tentang bahaya gadget pada cara kerja otaknya.
  4. Mendidik anak TIDAK dengan memukul, menendang, dan hal-hal lain yang berbahaya bagi anak.
  5. Mendidik anak dilakukan dengan konsistensi. Aturan yang dibuat harus disepakati bersama antara anak dengan orangtua. Bila akan merubah peraturan harus memberikan pengertian kembali mengapa aturan harus dirubah.
  6. Anggota keluarga lain harus patuh dan ikut serta dalam aturan yang dibuat untuk melatih konsistensi anak.
  7. Orangtua menyediakan alternatif permainan yang tidak mengandung layar elektronik.
  8. Buku cerita merupakan media terbaik yang dapat digunakan untuk mengalihkan perhatian mulai dari anak hingga remaja dan dewasa.
  9. Orangtua selalu membawa mainan dan atau buku selama bepergian.
  10. Lebih baik menghindari lokasi publik yang banyak anak seusianya diperbolehkan orangtua bermain gadget.
  11. Jika berada dalam komunitas orangtua, jika memungkinkan berikan informasi mengenai bahaya gadget dan metode penanganan nya.
  12. Setidaknya, walaupun serta merta dilakukan, masukan dari kita dapat dipertimbangkan lebih matang lagi ketika di rumah dan dibahas bersama keluarga besar.

Cara Mengatasi Ketergantungan Gadget Pada Anak

Bagaimana cara Mama Alkha mengatasi ketergantungan gadget pada anak? Pertama, kami diuntungkan dengan keberadaan Mama Alkha yang menyewa sebuah tempat di Surabaya. Bagi orangtua lain yang sedang membaca tulisan ini bisa menyesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing. Tips ini dari pengalaman Mama Alkha. Kami pikir Ayah dan Bunda dapat mengambil manfaat dari artikel ini :

  1. Sediakan buku-buku cerita anak sesuai dengan usia anak. Pada anak yang masih kecil, mereka lebih menyukai cerita jenaka. Sedangkan anak pra sekolah, mereka menyukai buku-buku tentang kemandirian (self help).
  2. Sediakan mainan yang membantu anak menggunakan motorik halus. Misalnya, pada anak pra TK, Ayah dan Bunda dapat mengajak anak untuk mencoret-coret kertas; menggunting, mengelem dan menempel; mengecap tangan dengan cat, meremas pom-pom basah, mencapit bola kemudian memindahkan ke tempat lain, menuang dari teko ke gelas dan berkembang dari teko ke botol, dan sebagainya.
  3. Sediakan waktu bagi anak selama anak terjaga. Jika tidak memungkinkan menjaga sendiri, Ayah dan Bunda dapat melibatkan pengasuh anak untuk menemani bermain.
  4. Pada anak pra TK, Bunda dapat mengajak anak untuk masak bersama. Anak lebih bersedia makan masakan nya sendiri lho.
  5. Buat aturan bersama dalam penggunaan gadget. Mama Alkha memberi kebebasan bermain kepada Alkha bermain gadget khusus hari Minggu saja. Oleh karena itu, ajari anak untuk mengenal hari dan menunggu hari.
  6. Bagaimana ketika Bunda kehabisan ide? Maka Bunda dapat mengajak anak berbelanja kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah nya. Habiskan waktunya dengan jalan-jalan ke tempat lain.
  7. Menyertakan anak ke PAUD atau TK juga akan memberikan banyak ide dan waktu luang untuk beristirahat membersamai anak. Ayah dan Bunda dapat meminta materi sekolah yang diajarkan pada hari itu melalui buku penghubung. Pada sore atau malam hari nya, kita dapat mengulang kembali materi pelajaran yang diajarkan Bu Guru.
  8. Ayah dapat membantu Bunda untuk belajar bersama anak. Kita bantu Bunda menghabiskan waktu anak hingga tertidur. Bisa dengan mengajak anak membaca buku, bermain peran, bercakap-cakap, membuat mainan dari kardus, menggambar di papan tulis, mewarnai sebuah gambar, mendorong mobil-mobilan, mengulang materi pelajaran yang ada di sekolah, dan sebagainya.
  9. Jika ada saudara dari anak kita yang sedang dilatih konsistensinya, maka semua aturan dipukul rata kepada semua anak dan orangtua. Semua anggota keluarga TIDAK menggunakan gadget. Berangsur-angsur, ditanamkan aturan tambahan bahwa yang boleh menggunakan gadget ialah orang dewasa (di atas 14 tahun, SMP; atau di atas 16 tahun, SMA). Kita bisa berikan informasi logis nya, bahwa orangtua memiliki pembeli, atau orang yang harus dihubungi. Kakak yang sudah mandiri dan besar harus menghubungi teman-teman nya untuk mengerjakan PR bersama, dan lain sebagainya. Lambat laun anak akan memahami aturan tambahan ini.

Gunakan Strategi AVT Selama Bermain

Karena anak tidak tergantung secara visual, maka kemampuan auditori anak (pendengaran) harus mereka gunakan. Maka, kita dapat gunakan bahasa-bahasa sederhana yang natural ketika berbicara dengan anak. Berbahasa natural ialah kita menggunakan kata termasuk imbuhan dan konjungsi nya dan menggunakan suprasegmental ketika dibutuhkan. Misalnya, setelah kita lelah bermain dan akan memberesi mainan, kita gunakan kalimat, “Ayo mainan nya dimasukkan ke dalam kardus”, daripada kalimat “Masukkan kardus!”.

Strategi AVT akan lebih mudah diterima anak ketika anak tidak fokus pada gadget nya. Oleh karena itu, segera kita kurangi ketergantungan gadget pada anak sekarang juga. Tentu pengurangan nya dilakukan secara bertahap sehingga terlihat alami bagi anak ya…..

Tinggalkan Balasan