Mereka Yang Bisa Berbicara Verbal

Mereka, Tunarungu yang bisa berbicara verbal, berasal dari keluarga yang terus berusaha dan berupaya agar anak nya mendapat manfaat dari penggunaan alat bantu dengar. Ketika metode intervensi dini (rutin terapi) dikenalkan pada orangtua yang sedang kebingungan dengan penanganan kepada anak gangguan pendengaran, maka timbul rasa tak percaya sekaligus muncul sebuah harapan bagi anak untuk tumbuh dalam masyarakat yang mayoritas berbahasa verbal. Hingga saat ini, banyak orangtua yang masih meragukan prinsip dari terapi mendengar lebih dulu. Padahal prinsip tersebut telah diterapkan sudah lama sekali dan banyak dari mereka yang sudah dewasa. Beberapa diantaranya bersedia tampil ke depan publik untuk memberikan edukasi kepada orangtua muda bahwa ada jalan bagi mereka untuk mengenalkan bahasa verbal kepada anak-anak yang terlahir dengan kelainan pendengaran.

Kami coba ulas secara singkat beberapa anak yang sekarang sudah dewasa dan bersedia menunjukkan keterbatasannya melalui media buku, blogging, dan Youtube. Sumber yang kami sebutkan berasal dari browsing internet ya, sehingga artikel ini pasti banyak kekurangan karena bukan berupa wawancara langsung. Suatu saat, pasti Ayah dan Bunda dapat bertemu mereka karena pada dasarnya salah satu passion dari anak-anak tunarungu yang bisa berbicara verbal ialah berbagi dengan orangtua.

1. Kak Shafa

Kak Shafa adalah seorang anak yang menginspirasi banyak orangtua di seluruh Indonesia. Saat ini, Kak Shafa telah lulus sebagai seorang sarjana kedokteran lho. Hebat bukan?

Ayah dan Bunda dari Kak Shafa selalu mengoptimalkan penggunaan alat bantu dengar sejak kecil. Ketika itu, awal 90-an, teori tentang AVT masih belum mapan, namun beliau telah mengenalkan variasi suara dan bahasa verbal sejak belia. Tentu ada sosok terapis wicara yang menemani perkembangan wicara dari Kak Shafa.

Bunda Khoriyatul selalu mendampingi Kak Shafa ketika ada tantangan komunitas, misalnya ketika ada sedikit kekurangtahuan informasi dari civitas akademik tentang hak disabilitas yang sama seperti orang normal. Pernah masuk ke dalam koran online juga lho… Orangtua terus berusaha melakukan advokasi selama hal itu dibutuhkan. Sangat menginspirasi, bukan?

shafa-saatnya-tunarungu-bicara
Shafa, Saatnya Tunarungu Bicara

Inspirasi tentang orangtua Kak Shafa telah dibukukan ke dalam sebuah novel yang enak untuk dibaca. Novel tentang masa kecil nya dengan judul, Shafa, Saatnya Tunarungu Bicara. Masa kecil seorang anak merupakan hal yang penting untuk ditiru / di-modeling dan dipahami orangtua. Karena masa kecil merupakan masa menumbuhkan motivasi, sedangkan masa remaja merupakan masa merawat semangat.

2. Kak Vazza

Kak Vazza adalah penulis sekaligus vlogger youtube. Ayah dan Bunda wajib subscribe channel youtube nya karena Kak Vazza berbagi banyak hal mengenai teknik penguasaan artikulasi. Tips-tips dari Kak Vazza tentu sangat berguna untuk menambah informasi bagi Ayah dan Bunda.

Beberapa karya novel fiksi karya Kak Vazza yang telah terbit dapat ayah dan bunda cari di toko buku dengan judul Empat Cinta Menatap Opera, Cinta Is Not A Crime, SmaraLove Luna, dan beberapa lainnya. Hebat ya?

Kak Vazza sekarang berdomisili di sekitar Samarinda lho. Ayah dan Bunda harus bergabung ke komunitas yang Kak Vazza ikuti untuk turut berkampanye tentang pentingnya intervensi dini pada anak tunarungu. Di luar Jawa, informasi mengenai rehabilitasi anak masih sangat kecil. Jadi tugas besar ini sedikit banyak merupakan tugas komunitas dan masyarakat pemerhati anak.

Vlog pertama Kak Vazza dapat Bunda tonton pada video dibawah ini. Sekali lagi, jangan lupa like dan subscribe nya.

No Obstacles Enjoying Music For Deaf by Kak Vazza


3. Kak Andiani

Kak Andiani merupakan inspirasi bagi banyak orangtua, terutama yang melakukan terapi di Yayasan Aurica, Surabaya. Kak Andiani telah berprestasi secara akademik sejak kecil. Memiliki kesenangan untuk menulis hingga salah satu artikel masa kecilnya dimuat dalam website Unicef Indonesia dengan judul Susahnya Mencari Sekolah Bagi Mereka. Artikel tersebut bercerita tentang orangtua yang kesulitan mencari sekolah umum yang bersedia menerima anak-anak tunarungu sebagai siswanya.

menggali-kecerdasan-melalui-bermain-aplikasi-avt
Buku Menggali Kecerdasan Melalui Bermain

Kak Andiani bersama Bunda nya, Bu Sinta; dan Bu Elly pada awal tahun 2019 ini memberikan kado berupa buku untuk orangtua yang haus ilmu Terapi Auditory Verbal. Buku berjudul Menggali Kecerdasan Melalui Bermain Aplikasi Auditory Verbal Therapy (AVT) Dalam Permainan sangat layak untuk dimiliki orangtua yang sedang mencari referensi praktis dan panduan terapi dalam bahasa Indonesia.

4. Kak Haydar

Kak Haydar adalah seorang anak tunarungu yang sukses berbahasa verbal melalui implan koklea. Ayah dan Bunda dari Kak Haydar berusaha mencari tahu mengenai intervensi anak dengan gangguan pendengaran sejak usia 2 tahun. Implan koklea pun dilakukan di luar Indonesia karena teknologi pendengaran (implan koklea) belum diadopsi di rumah sakit pada awal tahun 2000-an. Saat ini, Kak Haydar tumbuh sebagai remaja yang bersekolah pesantren setara SMA dan telah hafal sebagian isi Al-Quran secara verbal. Luar biasa, bukan?

Orangtua Kak Haydar sering memberikan motivasi kepada orangtua yang sedang dipersimpangan jalan untuk memilih alat bantu pendengaran secara objektif. Sebuah keputusan besar bagi kebanyakan orangtua yang masih muda. Ada sebuah wawancara eksklusif bersama keluarga Haydar di sebuah stasiun radio di Surabaya. Ayah dan Bunda bisa menyimak wawancara tersebut di youtube.


Tunarungu Yang Bisa Berbicara Verbal

Papa Alkha baru bisa cerita sedikit tentang mereka, tunarungu yang bisa berbicara verbal. Sebenarnya, masih banyak remaja dan orang dewasa lain yang berbahasa verbal di luar sana. Jika Papa Alkha ambil kesimpulan, anak tunarungu membutuhkan orangtua yang bersedia meluangkan tenaga dan pikiran nya belajar AVT di rumah. Para orangtua tersebut memiliki critical thinking yang tinggi sehingga aplikasi AVT dalam kegiatan sehari-hari dapat dilakukan. Jika ayah dan bunda baru mulai belajar AVT, Papa Alkha sarankan untuk FOKUS pada beberapa hal:

1. Pastikan alat pendengaran yang digunakan telah sesuai dengan derajat gangguan pendengaran nya.
2. Catat pengalaman AVT ketika terapi di klinik. Tiap anak memiliki kemampuan kecepatan memahami yang berbeda.
3. Terapkan strategi AVT setiap waktu bersama anak ketika di rumah.
4. Jika mengalami kebimbangan, cari tahu jawabannya hingga tidak ada keraguan. Bisa dengan berselancar di google, komunitas orangtua, dokter, audiologi, terapis, dan sebagainya.

Selamat Hari Buku Sedunia

Selamat Hari Buku Sedunia…. Setiap tanggal 7 Maret, kita selalu memperingati Hari Buku Sedunia. Buku merupakan penemuan yang paling canggih dalam peradaban umat manusia. Konon buku mulai ada sejak 2400 SM dengan menggunakan bahan kertas Papirus yang cara menyimpan nya dengan cara digulung. Kemudian pada 200 SM, orang China membuat kertas dengan bahan bambu yang kemudian diadopsi ke seluruh dunia. Pada awal abad ke-11 Masehi, orang Eropa mulai membuat kertas dengan menggunakan mesin yang lebih tahan lama.

Dengan buku, manusia tidak perlu lagi melakukan penelitian yang berulang, tapi menyempurnakan penemuan yang sudah ada (research). Pemikiran filsafat dapat terus berkembang dan melahirkan konsep-konsep baru yang saling berbantah dan pada akhirnya muncul teori-teori terkuat dan populer yang dapat bertahan hingga saat ini.

Mengenalkan cinta membaca buku kepada anak di Indonesia merupakan hal yang sulit. Indeks literasi orang Indonesia harus disadari tidaklah tinggi. Menurut PISA, Indonesia menempati urutan 64 dari 72 negara, sedangkan menurut The World Most Literate Nation Study, Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 negara. Kebanyakan, buku dianggap sebagai barang komplementer (pelengkap). Hanya orang dewasa yang menyukai membaca buku yang mendapatkan manfaat-manfaat buku. Itupun karena tuntutan pekerjaan dan pendidikan.

Buku Cerita Anak

Buku cerita anak merupakan buku yang memuat kisah-kisah penuh hikmah sehingga anak mendapatkan pelajaran ketika membaca buku. Buku cerita anak memiliki banyak sekali variasi konsep cerita, bahan, dan penggunaannya. Saking banyaknya buku cerita anak, segala hal bisa diajarkan orangtua melalui buku. Ketika orangtua akan mengenalkan kasar dan lembut ada buku yang berfokus pada tekstur, atau istilahnya buku bertekstur. Ada pula buku yang untuk mengenalkan transportasi. Ada pula buku tentang profesi dan sebagainya.

BBW (Big Bad Wolf) merupakan salah satu pameran buku terbesar yang telah diadakan kesekian kalinya di Jakarta dan Surabaya. BBW banyak sekali memberikan manfaat kepada orangtua yang kekurangan ide mengajari anak kosakata baru ketika di rumah. BBW menawarkan buku berkualitas dengan harga terjangkau. Walau demikian, keterjangkauan harga ini masih dianggap relatif mahal bagi kebanyakan orangtua. Mungkin mereka belum tahu, bahwa buku berkualitas berbahan baik (hardcover) bisa dijual sebagai buku seken di marketplace, iya -yang online-online itu. Tidak sedikit pula lho kami membeli buku seken tersebut. Karena beberapa buku yang memiliki konten bagus seringkali tidak lagi diproduksi kembali.

Beberapa buku menarik hati Alkha dan berhasil menambah kosakata malah kami dapatkan dari buku-buku BBW. Buku buatan dalam negeri berbahan karton belum banyak digunakan sebagai material buku anak. Pada beberapa tahun terakhir ini, mulai muncul penerbit yang menjual buku berbahan karton yang menarik untuk anak. Untuk memudahkan Ayah dan Bunda menemukan buku yang menarik hati anak, maka kami coba ulas buku-buku itu ke dalam kategori yang khusus membahas tentang buku, yaitu papaalkha.com/books. Semoga kategori ini dapat membantu memberikan referensi kepada Ayah dan Bunda ketika memilih buku sesuai target kosakata yang sedang diajarkan. Tetapi, sabar ya, review buku juga butuh waktu untuk menulis nya juga kan… Hehe.

Jadi, sekali lagi kami ucapkan, Selamat Hari Buku Sedunia.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Buku

https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/news-analysis/18/04/20/p7gq3m282-indonesia-dilanda-kedangkalan-literasi-part1

https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170910122629-445-240706/mengapa-literasi-di-indonesia-sangat-terendah/

Selamat Hari Pendengaran Sedunia 2019

Papa Alkha mengucapkan “Selamat Hari Pendengaran Sedunia”. Setiap tanggal 3 Maret kita akan memperingati Hari Pendengaran Sedunia. Jutaan orang saat ini mengalami gangguan pendengaran atau penurunan pendengaran mulai dari orang tua hingga bayi baru lahir. Tema WHO kali ini adalah “Periksa pendengaran mu” (Check Your Hearing !). Kami coba lakukan editing pada material promosi tema WHO 2019, kira-kira Ayah dan Bunda bisa membaca gambar dibawah ini, tidak?

Hari Pendengaran Sedunia 2019

Banyak orang dewasa yang menganggap memeriksakan pendengaran sebagai sebuah hal yang tidak mendesak. Padahal kurang pendengaran akan menyebabkan kualitas hidup menjadi turun. Komunikasi menjadi sulit untuk dipahami.

Banyak balita yang terlambat mendapatkan penanganan setelah dinyatakan mengalami gangguan pendengaran. Hal ini dapat menurunkan potensi anak untuk tumbuh dan berkembang. Di negara maju, skrining bayi lahir telah menjadi standar baru penanganan bayi baru lahir.

Tes Pendengaran Sederhana Melalui Aplikasi Android

Salah satu langkah konkret WHO adalah bekerja sama dengan
HearXGroup.com dan meluncurkan sebuah aplikasi android untuk tes pendengaran secara mandiri. Tes pendengaran ini tentu tidak dapat menggantikan tes pendengaran yang dilakukan di klinik kesehatan karena smartphone dan komputer tidak pernah dikalibrasi seperti audiometer milik mereka.

hearWHO
hearWHO

Kelemahan dari aplikasi HearWHO adalah orang yang menjalani tes harus menggunakan headphone dan sudah memiliki kemampuan deteksi suara sehingga alat ini tidak cocok digunakan balita. Walaupun demikian, kampanye periksa pendengaran mu harus terus dipopulerkan kepada seluruh orang dewasa yang dirasa mengalami penurunan pendengaran, sedangkan untuk bayi baru lahir, lebih cocok untuk mempopulerkan skrining bayi baru lahir.

Jadi, periksakan pendengaran mu, jika Anda merasa banyak suara percakapan yang semakin tidak jelas. Dan periksakan pendengaran anak mu, jika dia tidak kaget suara geluduk, atau kaget pintu ditutup dengan keras. Selamat hari pendengaran dunia!

Ngobrol Dengan Turbo

Belajar berbicara untuk anak yang menggunakan alat bantu dengar tentu tidak mudah. Saya ingat ketika dulu Alkha belajar membuka mulut agar mau mengeluarkan suara. Ternyata tidak sesederhana itu.

Saya berpendapat bahwa anak harus menyadari suara yang didengar merupakan hasil anak membuka mulut dengan sadar. Bahwa membuka mulut merupakan bagian dari dirinya dan bersuara atas kehendaknya.

Yang saya pikirkan waktu itu, bagaimana membuat sebuah permainan yang menyenangkan dengan Alkha. Sebuah adegan singkat, tanya jawab yang mengasyikkan menggunakan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif yang pernah didengar nya. Pernah lihat Kak Ria yang memainkan Susan dengan asyik nya, kita seolah dibawa kepada pembicaraan yang menarik, padahal sebenarnya Kak Ria sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Oke, saya membutuhkan sebuah boneka.

Sebuah boneka tangan yang bisa kita buka mulut nya lewat gerakan tangan. Waktu itu, tahun 2016, saya coba cari di toko boneka mall besar di Surabaya. Hasilnya, saya tidak temukan satupun. Sama sekali tidak ada memproduksi.

Ngobrol Dengan Turbo

Hingga akhirnya di pertengahan 2017, saya menemukan sebuah buku di bazar buku Big Bad Wolf Surabaya berjudul Turbo Racing Team. Sebuah buku tentang siput bernama Turbo yang menggunakan roket agar bisa balapan.

Narasi nya tidak saya bacakan kepada Alkha. Cukup berat untuk dia. Dia belum memahami kata siput, cepat, lambat, roket, balap, dan sebagainya.

ngobrol dengan turbo

Saya buat Alkha menikmati pembicaraan kami (Papa Alkha dengan Siput Turbo). Saya mengajari si Turbo mengucapkan “Aaa” untuk pesawat, yakni salah satu pondasi diskriminasi suara, Ling’s Six Sounds. Dengan membedakan suara (suprasegmental), kami berbincang-bincang. Seringkali Alkha memukul si Turbo karena gemas dan takut digigit si siput yang bergigi besar.

Seberapa Efektifkah Kegiatan Ini?

Jika diukur dari lama atensi (perhatian), yakni untuk usia 2-3 tahun adalah berkisar 5 menit, saya pikir metode ini berhasil. Lama Atensi merupakan waktu yang dapat dilakukan anak untuk berkonsentrasi, tidak melamun, dan mau berinteraksi. Semakin besar usia, maka lama atensi semakin panjang.

Akhir-akhir ini (2018), saya menemukan toko boneka di Surabaya yang menjual boneka tangan yang bisa dibuka mulut nya. Wow, amazing‚Ķ Jika Ayah dan Bunda belum pernah mencoba metode ini, bisa lah uji coba di rumah. Harga boneka kisaran 30-60 ribu rupiah. Yuk, kita belajar kreatif di zaman milenial yang katanya 4.0 ini…

Belajar Dari Ultraman Geed

“Lagi-lagi Ultraman”, keluh Mama Alkha jika mendapati kami sedang belajar dari Ultraman Geed. Jika sudah demikian, yang Papa Alkha lakukan hanya tersenyum (nyengir) saja. Saya dengan Mama Alkha cukup berbeda dalam memahami makna terapi AVT di rumah. Saya beraliran santai-pragmatis. Sedangkan Mama Alkha aliran yang serius-terarah. Oleh karena itu, saya merasa “belajar” bisa dari apa saja. Mungkin, sebaiknya Mama Alkha membuat blog sendiri tentang tips AVT di rumah yang berkaitan dengan akademik ya. Hehehe…

Alkha pada dasarnya anak yang selalu ingin tahu. Hal ini yang membuat saya tergoda untuk mengajaknya bermain dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan gembira. Tapi, saya juga galak lho, jadwal setelah Magrib nya Mama Alkha juga saya support. Misalnya sholat magrib berjamaah (apapun posisi dia; tiduran, sujud, duduk bersila, pokoknya di samping imam -maklum, sedang muncul sifat rebellion nya), lanjut membaca iqra jilid 1 (baru sampai /tsa/, membaca flashcard, kemudian latihan auditory memory 4 item. Setelah itu ya main, entah main laptop atau hp, bermain peran (perang-perangan), baca buku, dll.

Dan kalau siang, kegiatan apa yang bisa dilakukan? Padahal targetnya dia bisa mampu mengucap huruf /t/, /k/, /g/, /f/, /tsa/. Dan tidak mungkin bagi saya untuk menyuruhnya bicara /tsa/ berulang-ulang. Makanya, saya buat dia yang minta sendiri tanpa saya harus perintah dengan keras. Saya menciptakan “kebutuhan” agar mudah dipersuasi. Sama kan seperti seorang pedagang yang menjual barang dagangan. Nah, saya itu persis seperti sales.

Saya ambillah hal-hal yang disukai anak-anak. Karena saat ini, Alkha sedang senang dengan Ultraman, maka saya unduhkan beberapa video di Youtube tentang Ultraman Geed yang berbahasa Indonesia. Ultraman Geed saya pikir lebih asyik daripada Ultraman Orb. Ultraman Orb itu yang keren pedang nya, Pedang Orb Bintang. Wkwkwk, ketahuan saya juga menikmati proses ini….

Pedang Ultraman Orb Bintang Dari Kardus
Pedang Ultraman Orb Bintang Dari Kardus

Kardus, Material Andalan Berkreasi

Di rumah, kardus bekas sangat melimpah karena saya juragan kardus. Selain alasan bisa ambil gratis, kardus itu mudah dibentuk, mudah dipotong, mudah dilem, dan product life cycle nya rendah (intinya 3-7 hari mainan nya kan rusak). Akhirnya “kebutuhan” itu terus ada dan berkelanjutan. Kreasi kardus–> rusak –> negosiasi bikin apa–> bikin lagi–>input bahasa bertarget.

Pertama, siapkan dulu peralatan nya. Yakni (1) lem kertas, (2) cutter besar yang ada kunci nya (3) penggaris besi.

Kedua, persiapkan bahan nya. Yakni (1) kardus bekas, cari yang tebal, (2) print out / hasil cetak yang akan dibuat permainan nya. Nah, material nya bisa diunduh / download pada file di bawah ini, kemudian cetak di kertas ukuran F4.

Unduh File Karakter Ultraman Geed dan Perubahannya ( Ultraman Geed, Ultraman Api Abadi, Ultraman Acro, Ultraman Magnificent, Ultraman Mega Master)

Unduh File Pedang Ultraman Orb Bintang (Dua Sisi)

Unduh File Pedang Ultraman Mega Master (Dua Sisi)

Ketiga, kita persiapkan materi Belajar dari Ultraman Geed bersama Alkha. Pilih pola kalimat yang akan kita ucapkan untuk mengajak anak sesuai dengan kemampuan kosakatanya. Misalnya, saya akan bertanya “Mau potong-potong kardus pakai gambar ultraman yang mana?”. Setelah memilih sendiri, mencetaknya, dan menempel di kardus. Kita siap potong dengan cutter.

Mau Potong Kardus, Kalau…

Selama memotong, saya berhenti. “Papa capek, kalau Alkha mau bilang /ts/, Papa mau potong lagi”. Tanpa membantah dia mencoba menggigit ujung lidahnya dan mendorong keluar udara lewat mulut nya. Hujan liur bertaburan, saya anggap sebagai upah jerih payah usaha ini. Pasti ada hasilnya, walaupun tidak hari ini. Sama seperti dulu saya ajari Alkha mengucapkan huruf /ch/ untuk becak.

Dulu saya mengajari huruf /ch/ selama 3 minggu setiap pagi. Setiap melihat becak, saya mengucap “Bechak, beeechak”. Pengucapan nya seperti frasa viral di sosial media, “bechek naik ojhek”. Entah apa yang didengar Alkha lewat Cochlear Implant yang digunakan nya. Yang pasti dia tertawa saja berusaha menirukan nya. Dan akhirnya, bisa. Bisa karena biasa, bisa karena repetisi (pengulangan).

Imitasi Kalimat Panjang

Belajar imitasi kalimat panjang memang harus dilatihkan bertahap. Hal ini terasa ketika suatu hari Alkha diminta Mama Alkha mengucapkan “Selamat ulangtahun dokter Harim”. Beliau dokter yang memasangkan implan koklea yang dipakai Alkha. Bila dikaji, ucapan selamat tersebut terdiri dari 4 kata; kata Selamat terdiri dari 3 suku-kata, kata Ulangtahun terdiri dari 4 suku-kata. Bagi Alkha yang masih belajar auditory memory 4 item, mengucapkan kalimat panjang masih belum dapat dilakukan dengan baik. Teorinya, (1) jumlah kata sekali ucap, akan sebanyak jumlah auditory memory. (2) jumlah suku-kata yang mampu diucap dalam satu kata, akan sebanyak jumlah auditory memory.

Belajar dari Ultraman Geed, terdapat dua frasa yang menarik dalam film itu. Tokoh utama (Riku Asakura) menggunakan jargon (1) Diam saja tidak ada guna nya!, (2) satu, dua, tiga, satukan kekuatan, Geeeedd….!!!. Dua jargon ini saya gunakan untuk berlatih bicara panjang, “Lagi-lagi Ultraman”, ungkap Mama Alkha agak kesal. Senyuman terbaik pun saya lempar padanya. Jika penasaran dengan jargon atau tagline yang dimaksud, bisa lihat frasa tersebut pada video berdurasi 30 detik ini.

Bagaimana Perkembangannya?

Pada awalnya, Alkha kesulitan melakukan imitasi panjang. Kosakata yang terdiri dari tiga-empat suku kata, masing-masing diucap menjadi 2 suku kata saja. Misalkan pada kata Satukan, Kekuatan, dan Gunanya hanya diucapkan Satu, Kuatan (3 suku kata, ada /k/ dan /t/ yang belum bisa), dan Guna. Pelan-pelan, karena saking tertariknya dengan karakter Ultranab Geed ini, Alkha akhirnya mau mengucap 3 kata dengan lengkap.

Kami mengikuti pedoman, jika kemampuan imitasi panjang nya sudah baik, maka kalimat lain yang lebih kompleks akan lebih mudah diajarkan. Misalkan, Bismillah (3 suku kata), arrahman (3 suku kata), arrahim (3 suku kata). Bismillah-irrahman-irrahim ini sangat tergantung pada repetisi setiap mau makan, minum, dan membaca iqra’.

Saran Buat Ayah dan Bunda

Kegiatan kami ini menggunakan strategi dasar AVT berupa Self Talk, Paralel Talk, Open Ended Question. Pendidikan yang kami lakukan masih sangat bisa dikembangkan. Bahkan kami menemukan banyak orangtua lain yang jauh lebih pro-aktif. Bedanya, mereka belum sempat mendokumentasikan kegiatan-kegiatan nya. Banyak metode pengajaran di Youtube, bisa juga coba diterapkan dan dimodifikasi.

Setiap anak itu unik. Bisa dibayangkan mulai dari siapa orangtua nya (berbeda), bagaimana reaksi ketika dilahirkan (berbeda), bagaimana perlakuan pasca dilahirkan (ASI atau Susu atau yang lain, apa jenis MPASI nya, kapan mengunyah, kapan merangkak, kapan duduk, kapan jalan) (berbeda). Oleh karena itu, memodifikasi permainan selama Terapi Auditori Verbal secara mandiri di rumah merupakan hal yang wajar dilakukan. Jadi, kami doakan Ayah dan Bunda selalu diberikan kemudahan berpikir dan rejeki yang luas. Aminn..