Belajar Preposisi Di-Tengah

Belajar preposisi Di-Tengah merupakan preposisi lanjutan setelah anak memahami preposisi depan-belakang dan preposisi kanan-kiri. Preposisi Di Tengah dapat digunakan anak pada dua kondisi tersebut, yakni (1) berada di antara depan dan belakang; dan (2) berada di antara kanan dan kiri. Preposisi ini mudah diajarkan kepada anak dalam aktivitas maupun permainan.

Depan, Tengah, Belakang

Beberapa ide yang dapat kami berikan ialah (1) menggunakan mobil mini, (2) motor sungguhan

1. Mobil Mini Yang Dapat Diduduki Anak

Mobil mainan yang cukup besar dapat digunakan anak untuk belajar menggerakan mainan dengan menggunakan kaki. Selain memperkuat motorik kasar nya, kita dapat gunakan pula mainan ini untuk belajar presosisi Di Tengah. Caranya mudah, gunakan 2 buah boneka untuk ikut menumpang di mobil mini ketika anak sedang bermain.

Dengan menggunakan dialog sederhana antara anak dengan kedua boneka, kita buat anak memahami bahwa terkadang Boneka A duduk di depan, Boneka B duduk di tengah, dan Alkha duduk di belakang.

Kembali, dengan menggunakan dialog sederhana, boneka minta turun, kita ubah susunan nya untuk memastikan apakah anak memahami maksud dari preposisi di tengah ini. Misalnya, Boneka B duduk di depan, Alkha duduk di tengah, dan Boneka A duduk di belakang.

Untuk memastikan apakah anak memahami Preposisi Di Tengah ini, maka kita lakukan variasi informasi menggunakan motor sungguhan dan mobil sungguhan.

2. Naik Motor Bertiga

Ketika Papa, Mama dan Alkha naik motor bertiga, maka ini saat yang sangat tepat untuk mengajarkan kepada anak tentang preposisi Di Tengah, artinya anak berada di antara depan dan belakang. Pada artikel Preposisi Depan-Belakang, kita telah menggunakan media sepeda motor. Jadi ketika kita memutuskan menggunakan media motor kembali, maka kita harus dengan jelas memberikan informasi baru ini. Karena ada konsep yang berubah dalam kegiatan ini bila dibandingkan konsep yang dijelaskan pada preposisi depan-belakang.

Sebelum naik motor, kita bisa memberikan informasi seperti, “Alkha duduk di tengah, Papa duduk di depan, dan Mama duduk di belakang, ya? Di tengah (sambil menunjuk area tengah)” Maka, anak-anak yang sedang senang duduk di depan akan menolak. Kita dapat terus gali keinginan anak. Berikan kesempatan pada nya untuk menentukan siapa yang duduk di depan, tengah dan belakang. Setelah semua sepakat, baru berangkat. Pada waktu yang lain, kita bisa coba cara yang sama untuk memastikan apakah anak benar-benar memahami preposisi di tengah.

Kiri, Tengah, Kanan

Beberapa permainan yang dapat kami usulkan kepada Papa dan Mama ialah: (1) Mainan Lego Brick dan Mainan Mobil, (2) Papan tulis dan spidol board marker.

1. Mainan Lego Brick dan Mainan Mobil

Untuk mengajarkan ini, sebaiknya anak ditemani dua orang dewasa (Papa dan Mama). Akan lebih memudahkan pengajaran ketika salah satu orang dewasa dapat menjadi model (contoh) yang dapat ditiru anak. Jadi Papa dan Mama ikut serta dalam permainan. Jika terpaksa, kita gunakan model boneka.

Letakkan tiga buah susunan Lego di depan anak. Minta Ayah untuk menabrak menara Lego di sebelah kanan. Setelah terjatuh, gantian instruksi Anak untuk menabrak Lego di sebelah kiri. Setelah itu, Bunda menabrak menara Lego di tengah.

Ketika akan melakukan, kita ucapkan dulu aksi yang akan kita lakukan. Gunakan jumlah kata dalam kalimat instruksi 1 tingkat dari kemampuan si anak. Misalnya, jika anak baru berkata 1 kata, “Tabrak”, maka kita gunakan 2 kata, “Tabrak Kanan”, baru kemudian mobil yang kita pegang ditabrakkan ke menara Lego sebelah kanan. Biarkan menara Lego terjatuh, sehingga anak masih dapat memperhatikan posisi masing-masing menara ketika dia mendapatkan giliran. Lakukan untuk bagian tengah dan kiri.

Cukup mudah, bukan?

2. Papan Tulis dan Spidol Board Marker

Pada anak-anak yang sudah cukup besar, mereka mulai memahami gambar tangan. Kita bisa mulai dengan membuat gambar di papan tulis kecil. Misalnya, “Papa mau gambar mobil di sebelah kanan”. “Alkha mau gambar apa di sebelah kiri? Rumah? Ikan? Pesawat?” Setelah anak memilih, kita ulangi aksi yang akan kita lakukan kemudian gambar. Terakhir, lakukan untuk menggambar objek pada bagian tengah.

Bisa juga dibuat batas tipis yang membagi papan tulis menjadi tiga, kiri-tengah-kanan. Semua hal yang mungkin memudahkan anak untuk memahami konsep, dapat Ayah dan Bunda coba. Lakukan terus dalam waktu yang berbeda sehingga anak konsisten memahami Preposisi Di Tengah.

Selamat mencoba!

Selamat Hari Buku Sedunia

Selamat Hari Buku Sedunia…. Setiap tanggal 23 April, kita selalu memperingati Hari Buku Sedunia. Buku merupakan penemuan yang paling canggih dalam peradaban umat manusia. Konon buku mulai ada sejak 2400 SM dengan menggunakan bahan kertas Papirus yang cara menyimpan nya dengan cara digulung. Kemudian pada 200 SM, orang China membuat kertas dengan bahan bambu yang kemudian diadopsi ke seluruh dunia. Pada awal abad ke-11 Masehi, orang Eropa mulai membuat kertas dengan menggunakan mesin yang lebih tahan lama.

Dengan buku, manusia tidak perlu lagi melakukan penelitian yang berulang, tapi menyempurnakan penemuan yang sudah ada (research). Pemikiran filsafat dapat terus berkembang dan melahirkan konsep-konsep baru yang saling berbantah dan pada akhirnya muncul teori-teori terkuat dan populer yang dapat bertahan hingga saat ini.

Mengenalkan cinta membaca buku kepada anak di Indonesia merupakan hal yang sulit. Indeks literasi orang Indonesia harus disadari tidaklah tinggi. Menurut PISA, Indonesia menempati urutan 64 dari 72 negara, sedangkan menurut The World Most Literate Nation Study, Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 negara. Kebanyakan, buku dianggap sebagai barang komplementer (pelengkap). Hanya orang dewasa yang menyukai membaca buku yang mendapatkan manfaat-manfaat buku. Itupun karena tuntutan pekerjaan dan pendidikan.

Buku Cerita Anak

Buku cerita anak merupakan buku yang memuat kisah-kisah penuh hikmah sehingga anak mendapatkan pelajaran ketika membaca buku. Buku cerita anak memiliki banyak sekali variasi konsep cerita, bahan, dan penggunaannya. Saking banyaknya buku cerita anak, segala hal bisa diajarkan orangtua melalui buku. Ketika orangtua akan mengenalkan kasar dan lembut ada buku yang berfokus pada tekstur, atau istilahnya buku bertekstur. Ada pula buku yang untuk mengenalkan transportasi. Ada pula buku tentang profesi dan sebagainya.

BBW (Big Bad Wolf) merupakan salah satu pameran buku terbesar yang telah diadakan kesekian kalinya di Jakarta dan Surabaya. BBW banyak sekali memberikan manfaat kepada orangtua yang kekurangan ide mengajari anak kosakata baru ketika di rumah. BBW menawarkan buku berkualitas dengan harga terjangkau. Walau demikian, keterjangkauan harga ini masih dianggap relatif mahal bagi kebanyakan orangtua. Mungkin mereka belum tahu, bahwa buku berkualitas berbahan baik (hardcover) bisa dijual sebagai buku seken di marketplace, iya -yang online-online itu. Tidak sedikit pula lho kami membeli buku seken tersebut. Karena beberapa buku yang memiliki konten bagus seringkali tidak lagi diproduksi kembali.

Beberapa buku menarik hati Alkha dan berhasil menambah kosakata malah kami dapatkan dari buku-buku BBW. Buku buatan dalam negeri berbahan karton belum banyak digunakan sebagai material buku anak. Pada beberapa tahun terakhir ini, mulai muncul penerbit yang menjual buku berbahan karton yang menarik untuk anak. Untuk memudahkan Ayah dan Bunda menemukan buku yang menarik hati anak, maka kami coba ulas buku-buku itu ke dalam kategori yang khusus membahas tentang buku, yaitu papaalkha.com/books. Semoga kategori ini dapat membantu memberikan referensi kepada Ayah dan Bunda ketika memilih buku sesuai target kosakata yang sedang diajarkan. Tetapi, sabar ya, review buku juga butuh waktu untuk menulis nya juga kan… Hehe.

Jadi, sekali lagi kami ucapkan, Selamat Hari Buku Sedunia.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Buku

https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/news-analysis/18/04/20/p7gq3m282-indonesia-dilanda-kedangkalan-literasi-part1

https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170910122629-445-240706/mengapa-literasi-di-indonesia-sangat-terendah/

Cara Mengatasi Ketergantungan Gadget Pada Anak

Mama Alkha akan berbagi trik tentang bagaimana cara mengatasi ketergantungan gadget pada anak. Nah, harus Papa Alkha akui bahwa saya adalah orang yang bertanggungjawab sebagai sosok yang mengenalkan gadget secara berlebihan. Jadi, kami ucapkan banyak terimakasih kepada Mama Alkha yang menyelamatkan saya dan sukses menghilangkan kebiasaan ini dari diri Alkha. Oiya, artikel ini permintaan dari Kak Manges, lho….

Pada dasarnya, seorang anak kecil tidak boleh mengenal smartphone terlalu dini. Sudah banyak informasi di internet bahwa usia minimal ialah 14 tahun atau telah memasuki usia sekolah menengah pertama (SMP). Itupun masih dalam durasi yang terbatas. Beberapa orangtua yang kami anggap menyayangi Alkha memberikan peringatan kepada kami tentang bahaya ketergantungan gadget pada anak. Gadget seperti smartphone, PSP, komputer, televisi, dll.

Memahami Bahaya Gadget Pada Anak

Ada hal yang menurut Mama Alkha harus kita bersama yakini.
Dari keyakinan tersebut maka akan muncul kemauan Orangtua untuk merubah anak.

  1. Gadget akan membuat anak semakin terlambat bicara. Karena itu, menyelesaikan masalah gadget sejak dini akan semakin baik bagi anak.
  2. Gadget akan menimbulkan ketergantungan atau kecanduan pada anak. Ciri khas kecanduan ialah ketika anak dijauhkan dari barang yang dimaksud, maka anak akan marah hingga tidak terkendali.
  3. Orangtua akan dianggap sebagai musuh oleh anak (pada awalnya saja kok). Karena anak belum memahami tentang bahaya gadget pada cara kerja otaknya.
  4. Mendidik anak TIDAK dengan memukul, menendang, dan hal-hal lain yang berbahaya bagi anak.
  5. Mendidik anak dilakukan dengan konsistensi. Aturan yang dibuat harus disepakati bersama antara anak dengan orangtua. Bila akan merubah peraturan harus memberikan pengertian kembali mengapa aturan harus dirubah.
  6. Anggota keluarga lain harus patuh dan ikut serta dalam aturan yang dibuat untuk melatih konsistensi anak.
  7. Orangtua menyediakan alternatif permainan yang tidak mengandung layar elektronik.
  8. Buku cerita merupakan media terbaik yang dapat digunakan untuk mengalihkan perhatian mulai dari anak hingga remaja dan dewasa.
  9. Orangtua selalu membawa mainan dan atau buku selama bepergian.
  10. Lebih baik menghindari lokasi publik yang banyak anak seusianya diperbolehkan orangtua bermain gadget.
  11. Jika berada dalam komunitas orangtua, jika memungkinkan berikan informasi mengenai bahaya gadget dan metode penanganan nya.
  12. Setidaknya, walaupun serta merta dilakukan, masukan dari kita dapat dipertimbangkan lebih matang lagi ketika di rumah dan dibahas bersama keluarga besar.

Cara Mengatasi Ketergantungan Gadget Pada Anak

Bagaimana cara Mama Alkha mengatasi ketergantungan gadget pada anak? Pertama, kami diuntungkan dengan keberadaan Mama Alkha yang menyewa sebuah tempat di Surabaya. Bagi orangtua lain yang sedang membaca tulisan ini bisa menyesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing. Tips ini dari pengalaman Mama Alkha. Kami pikir Ayah dan Bunda dapat mengambil manfaat dari artikel ini :

  1. Sediakan buku-buku cerita anak sesuai dengan usia anak. Pada anak yang masih kecil, mereka lebih menyukai cerita jenaka. Sedangkan anak pra sekolah, mereka menyukai buku-buku tentang kemandirian (self help).
  2. Sediakan mainan yang membantu anak menggunakan motorik halus. Misalnya, pada anak pra TK, Ayah dan Bunda dapat mengajak anak untuk mencoret-coret kertas; menggunting, mengelem dan menempel; mengecap tangan dengan cat, meremas pom-pom basah, mencapit bola kemudian memindahkan ke tempat lain, menuang dari teko ke gelas dan berkembang dari teko ke botol, dan sebagainya.
  3. Sediakan waktu bagi anak selama anak terjaga. Jika tidak memungkinkan menjaga sendiri, Ayah dan Bunda dapat melibatkan pengasuh anak untuk menemani bermain.
  4. Pada anak pra TK, Bunda dapat mengajak anak untuk masak bersama. Anak lebih bersedia makan masakan nya sendiri lho.
  5. Buat aturan bersama dalam penggunaan gadget. Mama Alkha memberi kebebasan bermain kepada Alkha bermain gadget khusus hari Minggu saja. Oleh karena itu, ajari anak untuk mengenal hari dan menunggu hari.
  6. Bagaimana ketika Bunda kehabisan ide? Maka Bunda dapat mengajak anak berbelanja kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah nya. Habiskan waktunya dengan jalan-jalan ke tempat lain.
  7. Menyertakan anak ke PAUD atau TK juga akan memberikan banyak ide dan waktu luang untuk beristirahat membersamai anak. Ayah dan Bunda dapat meminta materi sekolah yang diajarkan pada hari itu melalui buku penghubung. Pada sore atau malam hari nya, kita dapat mengulang kembali materi pelajaran yang diajarkan Bu Guru.
  8. Ayah dapat membantu Bunda untuk belajar bersama anak. Kita bantu Bunda menghabiskan waktu anak hingga tertidur. Bisa dengan mengajak anak membaca buku, bermain peran, bercakap-cakap, membuat mainan dari kardus, menggambar di papan tulis, mewarnai sebuah gambar, mendorong mobil-mobilan, mengulang materi pelajaran yang ada di sekolah, dan sebagainya.
  9. Jika ada saudara dari anak kita yang sedang dilatih konsistensinya, maka semua aturan dipukul rata kepada semua anak dan orangtua. Semua anggota keluarga TIDAK menggunakan gadget. Berangsur-angsur, ditanamkan aturan tambahan bahwa yang boleh menggunakan gadget ialah orang dewasa (di atas 14 tahun, SMP; atau di atas 16 tahun, SMA). Kita bisa berikan informasi logis nya, bahwa orangtua memiliki pembeli, atau orang yang harus dihubungi. Kakak yang sudah mandiri dan besar harus menghubungi teman-teman nya untuk mengerjakan PR bersama, dan lain sebagainya. Lambat laun anak akan memahami aturan tambahan ini.

Gunakan Strategi AVT Selama Bermain

Karena anak tidak tergantung secara visual, maka kemampuan auditori anak (pendengaran) harus mereka gunakan. Maka, kita dapat gunakan bahasa-bahasa sederhana yang natural ketika berbicara dengan anak. Berbahasa natural ialah kita menggunakan kata termasuk imbuhan dan konjungsi nya dan menggunakan suprasegmental ketika dibutuhkan. Misalnya, setelah kita lelah bermain dan akan memberesi mainan, kita gunakan kalimat, “Ayo mainan nya dimasukkan ke dalam kardus”, daripada kalimat “Masukkan kardus!”.

Strategi AVT akan lebih mudah diterima anak ketika anak tidak fokus pada gadget nya. Oleh karena itu, segera kita kurangi ketergantungan gadget pada anak sekarang juga. Tentu pengurangan nya dilakukan secara bertahap sehingga terlihat alami bagi anak ya…..

Mereka Yang Bisa Berbicara Verbal

Mereka, Tunarungu yang bisa berbicara verbal, berasal dari keluarga yang terus berusaha dan berupaya agar anak nya mendapat manfaat dari penggunaan alat bantu dengar. Ketika metode intervensi dini (rutin terapi) dikenalkan pada orangtua yang sedang kebingungan dengan penanganan kepada anak gangguan pendengaran, maka timbul rasa tak percaya sekaligus muncul sebuah harapan bagi anak untuk tumbuh dalam masyarakat yang mayoritas berbahasa verbal. Hingga saat ini, banyak orangtua yang masih meragukan prinsip dari terapi mendengar lebih dulu. Padahal prinsip tersebut telah diterapkan sudah lama sekali dan banyak dari mereka yang sudah dewasa. Beberapa diantaranya bersedia tampil ke depan publik untuk memberikan edukasi kepada orangtua muda bahwa ada jalan bagi mereka untuk mengenalkan bahasa verbal kepada anak-anak yang terlahir dengan kelainan pendengaran.

Kami coba ulas secara singkat beberapa anak yang sekarang sudah dewasa dan bersedia menunjukkan keterbatasannya melalui media buku, blogging, dan Youtube. Sumber yang kami sebutkan berasal dari browsing internet ya, sehingga artikel ini pasti banyak kekurangan karena bukan berupa wawancara langsung. Suatu saat, pasti Ayah dan Bunda dapat bertemu mereka karena pada dasarnya salah satu passion dari anak-anak tunarungu yang bisa berbicara verbal ialah berbagi dengan orangtua.

1. Kak Shafa

Kak Shafa adalah seorang anak yang menginspirasi banyak orangtua di seluruh Indonesia. Saat ini, Kak Shafa telah lulus sebagai seorang sarjana kedokteran lho. Hebat bukan?

Ayah dan Bunda dari Kak Shafa selalu mengoptimalkan penggunaan alat bantu dengar sejak kecil. Ketika itu, awal 90-an, teori tentang AVT masih belum mapan, namun beliau telah mengenalkan variasi suara dan bahasa verbal sejak belia. Tentu ada sosok terapis wicara yang menemani perkembangan wicara dari Kak Shafa.

Bunda Khoriyatul selalu mendampingi Kak Shafa ketika ada tantangan komunitas, misalnya ketika ada sedikit kekurangtahuan informasi dari civitas akademik tentang hak disabilitas yang sama seperti orang normal. Pernah masuk ke dalam koran online juga lho… Orangtua terus berusaha melakukan advokasi selama hal itu dibutuhkan. Sangat menginspirasi, bukan?

shafa-saatnya-tunarungu-bicara
Shafa, Saatnya Tunarungu Bicara

Inspirasi tentang orangtua Kak Shafa telah dibukukan ke dalam sebuah novel yang enak untuk dibaca. Novel tentang masa kecil nya dengan judul, Shafa, Saatnya Tunarungu Bicara. Masa kecil seorang anak merupakan hal yang penting untuk ditiru / di-modeling dan dipahami orangtua. Karena masa kecil merupakan masa menumbuhkan motivasi, sedangkan masa remaja merupakan masa merawat semangat.

2. Kak Vazza

Kak Vazza adalah penulis sekaligus vlogger youtube. Ayah dan Bunda wajib subscribe channel youtube nya karena Kak Vazza berbagi banyak hal mengenai teknik penguasaan artikulasi. Tips-tips dari Kak Vazza tentu sangat berguna untuk menambah informasi bagi Ayah dan Bunda.

Beberapa karya novel fiksi karya Kak Vazza yang telah terbit dapat ayah dan bunda cari di toko buku dengan judul Empat Cinta Menatap Opera, Cinta Is Not A Crime, SmaraLove Luna, dan beberapa lainnya. Hebat ya?

Kak Vazza sekarang berdomisili di sekitar Samarinda lho. Ayah dan Bunda harus bergabung ke komunitas yang Kak Vazza ikuti untuk turut berkampanye tentang pentingnya intervensi dini pada anak tunarungu. Di luar Jawa, informasi mengenai rehabilitasi anak masih sangat kecil. Jadi tugas besar ini sedikit banyak merupakan tugas komunitas dan masyarakat pemerhati anak.

Vlog pertama Kak Vazza dapat Bunda tonton pada video dibawah ini. Sekali lagi, jangan lupa like dan subscribe nya.

No Obstacles Enjoying Music For Deaf by Kak Vazza


3. Kak Andiani

Kak Andiani merupakan inspirasi bagi banyak orangtua, terutama yang melakukan terapi di Yayasan Aurica, Surabaya. Kak Andiani telah berprestasi secara akademik sejak kecil. Memiliki kesenangan untuk menulis hingga salah satu artikel masa kecilnya dimuat dalam website Unicef Indonesia dengan judul Susahnya Mencari Sekolah Bagi Mereka. Artikel tersebut bercerita tentang orangtua yang kesulitan mencari sekolah umum yang bersedia menerima anak-anak tunarungu sebagai siswanya.

menggali-kecerdasan-melalui-bermain-aplikasi-avt
Buku Menggali Kecerdasan Melalui Bermain

Kak Andiani bersama Bunda nya, Bu Sinta; dan Bu Elly pada awal tahun 2019 ini memberikan kado berupa buku untuk orangtua yang haus ilmu Terapi Auditory Verbal. Buku berjudul Menggali Kecerdasan Melalui Bermain Aplikasi Auditory Verbal Therapy (AVT) Dalam Permainan sangat layak untuk dimiliki orangtua yang sedang mencari referensi praktis dan panduan terapi dalam bahasa Indonesia.

4. Kak Haydar

Kak Haydar adalah seorang anak tunarungu yang sukses berbahasa verbal melalui implan koklea. Ayah dan Bunda dari Kak Haydar berusaha mencari tahu mengenai intervensi anak dengan gangguan pendengaran sejak usia 2 tahun. Implan koklea pun dilakukan di luar Indonesia karena teknologi pendengaran (implan koklea) belum diadopsi di rumah sakit pada awal tahun 2000-an. Saat ini, Kak Haydar tumbuh sebagai remaja yang bersekolah pesantren setara SMA dan telah hafal sebagian isi Al-Quran secara verbal. Luar biasa, bukan?

Orangtua Kak Haydar sering memberikan motivasi kepada orangtua yang sedang dipersimpangan jalan untuk memilih alat bantu pendengaran secara objektif. Sebuah keputusan besar bagi kebanyakan orangtua yang masih muda. Ada sebuah wawancara eksklusif bersama keluarga Haydar di sebuah stasiun radio di Surabaya. Ayah dan Bunda bisa menyimak wawancara tersebut di youtube.


Tunarungu Yang Bisa Berbicara Verbal

Kami baru bisa cerita sedikit tentang mereka, tunarungu yang bisa berbicara verbal. Sebenarnya, masih banyak remaja dan orang dewasa lain yang berbahasa verbal di luar sana. Jika kami ambil kesimpulan, anak tunarungu membutuhkan orangtua yang bersedia meluangkan tenaga dan pikiran nya belajar AVT di rumah. Para orangtua tersebut memiliki critical thinking yang tinggi sehingga aplikasi AVT dalam kegiatan sehari-hari dapat dilakukan. Jika ayah dan bunda baru mulai belajar AVT, maka kami sarankan untuk FOKUS pada beberapa hal:

1. Pastikan alat pendengaran yang digunakan telah sesuai dengan derajat gangguan pendengaran nya.
2. Catat pengalaman AVT ketika terapi di klinik. Tiap anak memiliki kemampuan kecepatan memahami yang berbeda.
3. Terapkan strategi AVT setiap waktu bersama anak ketika di rumah.
4. Jika mengalami kebimbangan, cari tahu jawabannya hingga tidak ada keraguan. Bisa dengan berselancar di google, atau bertanya ke komunitas orangtua, dokter, hearing acoustician, terapis, dan sebagainya.

Selamat Hari Pendengaran Sedunia 2019

Papa Alkha mengucapkan “Selamat Hari Pendengaran Sedunia”. Setiap tanggal 3 Maret kita akan memperingati Hari Pendengaran Sedunia. Jutaan orang saat ini mengalami gangguan pendengaran atau penurunan pendengaran mulai dari orang tua hingga bayi baru lahir. Tema WHO 2019 dalam Bahasa Indonesia adalah “Periksa pendengaran mu !” (Check Your Hearing !). Kami coba lakukan editing pada material promosi tema WHO 2019, kira-kira Ayah dan Bunda bisa membaca gambar dibawah ini, tidak?

Hari Pendengaran Sedunia 2019

Banyak orang dewasa yang menganggap memeriksakan pendengaran sebagai sebuah hal yang tidak mendesak. Padahal kurang pendengaran akan menyebabkan kualitas hidup menjadi turun. Komunikasi menjadi sulit untuk dipahami.

Banyak balita yang terlambat mendapatkan penanganan setelah dinyatakan mengalami gangguan pendengaran. Hal ini dapat menurunkan potensi anak untuk tumbuh dan berkembang. Di negara maju, skrining bayi lahir telah menjadi standar baru penanganan bayi baru lahir.

Tes Pendengaran Sederhana Melalui Aplikasi Android

Salah satu langkah konkret WHO adalah bekerja sama dengan
HearXGroup.com dan meluncurkan sebuah aplikasi android untuk tes pendengaran secara mandiri. Tes pendengaran ini tentu tidak dapat menggantikan tes pendengaran yang dilakukan di klinik kesehatan karena smartphone dan komputer tidak pernah dikalibrasi seperti audiometer milik mereka.

hearWHO
hearWHO

Kelemahan dari aplikasi HearWHO adalah orang yang menjalani tes harus menggunakan headphone dan sudah memiliki kemampuan deteksi suara sehingga alat ini tidak cocok digunakan balita. Walaupun demikian, kampanye periksa pendengaran mu harus terus dipopulerkan kepada seluruh orang dewasa yang dirasa mengalami penurunan pendengaran, sedangkan untuk bayi baru lahir, lebih cocok untuk mempopulerkan skrining bayi baru lahir.

Jadi, periksakan pendengaran mu, jika Anda merasa banyak suara percakapan yang semakin tidak jelas. Dan periksakan pendengaran anak mu, jika dia tidak kaget suara geluduk, atau kaget pintu ditutup dengan keras. Selamat hari pendengaran dunia!