Berikan Alat Bantu Dengar Sedini Mungkin

Mengetahui seorang anak tidak mampu mendengar merupakan cobaan yang luar biasa bagi sebuah keluarga. Seorang anak umumnya melakukan bubling pada usia 1 tahun dan mengerti dipanggil pada usia 2 tahun. Seorang Bunda seringkali bersabar menunggu karena beberapa anak biasanya mengalami keterlambatan bicara dan mulai mengeluarkan suara setelah 2 tahun. Jika memang bunda curiga dengan kondisi anak, maka sudah saat nya Bunda meminta Ayah untuk mengantarkan anak ke dokter anak atau dokter THT untuk meminta masukan. Boleh jadi anak tersebut memiliki gangguan pendengaran. Bila memang anak mengalami gangguan pendengaran, kami sarankan berikan alat bantu dengar sedini mungkin.

Anak yang memiliki gangguan pendengaran sangat berat tidak akan menoleh ketika dikagetkan, gemuruh halilintar ketika hujan juga tidak membangunkan si anak, klakson mobil yang berada di sampingnya tidak membuatnya berkedip, tapi getaran kasur, atau bergeraknya bayangan justru dicermati oleh nya. Dahulu kami kadang mengetes pendengaran anak, tapi rupanya memang kami baru menyadari bahwa respon yang dibuat akibat kami membuat banyak gerakan yang menimbulkan gerakan bayangan maupun hembusan angin. Jadi, apabila ayah dan bunda mencoba mengetes pendengaran si anak, pastikan tidak memberikan getaran atau gerakan ya..!

Baru terpikiran metode yang benar-benar efektif mengetes kemampuan dengar anak, yakni dengan menggunakan bel es atau kojek. Metode ini digunakan oleh dokter THT di Semarang ketika tahapan pra ASSR dilakukan, yakni tahap wawancara dengan orangtua. Ketika telinga kami; papa dan mama Alkha terasa sakit; si anak tampak tidak memberikan respon apapun dan masih sibuk dengan mainan nya sendiri. Langsung terasa bahwa ada hal yang salah dalam pendengarannya.

Bel es untuk mendeteksi gangguan pendengaran ketulian ketunarunguan secara sederhana
Bel Es dan Kojek

Membeli Alat Bantu Dengar

Membelikan ABD merupakan prioritas kami setelah hasil tes menunjukkan bahwa Alkha mengalami gangguan pendengaran sangat berat. Membelikan ABD bagi sebagian keluarga menjadi hal yang mudah, sebagian lagi menjadi hal yang berat. Saya pikir, seberat apapun kondisi keuangan keluarga, sebaiknya orangtua mulai berpikir untuk menyedikan alat bantu dengar, termasuk apabila meminta bantuan keluarga besar harus dilakukan untuk pembelian ABD yang tidak murah.

Membeli ABD tidak selalu paling mahal akan menghasilkan hasil yang bagus. Membeli ABD seharusnya ialah yang paling “pas” dengan gangguan pendengaran yang dialami si anak. Tingkat gangguan pendengaran anak dapat dilihat dari hasil tes BERA/ABR atau ASSR dari rumah sakit. Semakin berat gangguan pendengaran nya, umum nya harga ABD semakin mahal.

Untuk memilih alat bantu dengar yang sesuai, Ayah dan Bunda dapat melakukan survei dengan keluarga lain yang dirasa lebih paham. Informasi ini dapat Ayah dan Bunda dapatkan dengan bergabung ke grup Dunia Tak Lagi Sunyi. Pandangan obyektif sangat dibutuhkan dalam tahap ini. Pilih hearing center yang berpengalaman dan memiliki track record yang baik dalam penanganan anak dengan gangguan pendengaran. Tidak sedikit orang tua yang ketika membeli sama sekali tidak mengetahui penjelasan mengenai cara membaca audiogram, jenis-jenis gangguan pendengaran, jenis-jenis ABD, spesifikasi ABD yang sesuai dengan kebutuhan si anak, dan tahapan pasca menggunakan ABD itu apa saja.

Tinggalkan Balasan