Sound-Object Associations

Sound-Object Association adalah menghubungkan sebuah bunyi dengan objek atau aksi. Orangtua dari seorang anak dengan pendengaran normal sebenarnya tanpa sadar telah secara konsisten menggunakan asosiasi bunyi dengan benda atau aksi. Bayi sangat familier dengan bunyi yang sering didengar sebelum mereka memahami dan mampu berkata. Dalam terapi auditori verbal, Sound-Object Association sering digunakan oleh Praktisi AVT kepada anak dengan gangguan pendengaran ketika memulai belajar mendengar. Jika anak mampu menghubungkan bunyi dengan objek, maka inilah yang dinamakan onomatopeia. Bunyi nya sendiri dinamakan kosakata onomatopoetic.

Pentingnya Mengenalkan Sound-Object Association

Banyak alasan mengapa anak harus dikenalkan dengan hal ini:

  • Mengajarkan kepada anak agar memperhatikan bunyi-bunyian.
  • Mengajarkan kepada anak untuk mengakui bahwa bunyi-bunyi itu berbeda
  • Membantu anak memahami bahwa bunyi yang berbeda memiliki makna yang berbeda
  • Meningkatkan auditory imprints, atau dikenal sebagai auditory schema atau perseptual representasi tersimpan (stored perceptual representation), untuk bunyi yang spesifik atau fonem bahasa ujaran.
  • Menekankan parameter kritis yang digunakan dalam percakapan
  • Memulai turn-taking dan joint attention bersama anak.
  • Stimulasi kefasihan gerakan artikulator anak
  • Membantu anak bereksperimen membuat bunyi-bunyi yang berbeda
  • Menyatukan dan menyelaraskan perilaku fisik dan sosial ke dalam interaksi vokal
  • Mengembangkan komunikasi intensi (communicative intention)
  • Mengembangkan untuk mendengar ketika berbahasa
  • Menjadikan anak mampu menjadi komunikator sebelum dia memahami konsep berkomunikasi.

Anak yang masih kecil membutuhkan partisipasi aktif dalam proses belajar mendengar dan berbicara. Oleh karena itu, orangtua harus menggunakan mainan dan aksi ketika menggunakan asosiasi antara benda dengan bunyi nya. Aktivitas sound-object association memang sebaiknya dilakukan dengan kegiatan yang menyenangkan antara orangtua dengan anak dan tidak dilakukan dengan pasif (metode drill yang mengulang-ulang dalam satu waktu) (Stark, Ansel & Bond, 1988, dalam Rhodes, 2007). Yang terbaik adalah, seorang anak mendengarkan bunyi yang sama dalam berbagai konteks atau kejadian, sehingga otak anak akan merangkai kembali skema-auditori pada tiap-tiap bunyi (Norris & Hoffman, 1994). Untuk alasan itulah kita harus bervariasi dalam menggunakan masing-masing bunyi.

Langkah Praktis Sound-Object Associations

  1. Mulailah mengenalkan satu, dua, atau tiga sound-object associations ketika menerapkan nya dalam aktivitas pertama kali. Dan kenalkan dengan yang lain setelah yang tiga bunyi itu cukup dipahami si anak.
  2. Menurut Hasegawa dan Miyashita (2002 dalam Rhoades, 2007), bayi akan melakukan kategorisasi pada hal-hal yang mereka pelajari. Jadi, jika kita menggunakan pola yang sama, maka kita harus mengenalkan sound-object associations dalam kategori yang sama. Caranya ialah tidak mencampurkan kategori kendaraan dengan kategori binatang.
  3. Gunakan mainan yang mudah dikenali dan mudah ditemukan kembali. Misalnya, “moo” merupakan representasi dari mainan Sapi. Nah, cari mainan Sapi dengan posisi berdiri karena lebih mudah ditemukan di tempat lain. Jika mainan mobil, maka pilih yang jenis sedan dengan atap tertutup daripada sedan dengan atap terbuka. Tapi, jika memang mainan yang ada hanya sedan dengan atap terbuka, ya bisa digunakan. Tapi lebih baik menggunakan mainan dengan bentukan yang mudah kita temukan di sekitar kita.
  4. Anak usia 18 bulan lebih, mereka lebih mudah untuk diajari dengan mainan apapun, bentuk dan ukuran yang bermacam-macam tidak menjadi masalah.
  5. Hindari mainan yang dapat bersuara ketika digerakkan karena kita sedang mengenalkan bunyi yang khusus dari setiap mainan. Bunyi yang kita kenalkan berupa ujaran melalui mulut kita. Nah, jika mainan tersebut memiliki baterai, sebaiknya memang dilepas saja ketika mengenalkan sound-object associations ini.
  6. Jika anak berhasil pada sebuah objek mainan, maka variasikan mainan untuk setiap bunyi. Hal ini akan mengembangkan pemahaman anak tentang asosiasi benda dengan bunyi nya. Selain itu, menggunakan beberapa mainan ketika mengenalkan satu bunyi akan membuat anak terus tertarik dengan kegiatan ini.

Memberikan variasi pada alat peraga dapat membuat permainan menjadi lebih menyenangkan. Contoh alat peraga yang dimaksud misalnya pagar kayu, SPBU, hanggar bandara, rel kereta api, kandang sapi, sebuah gambar biru sebagai pengganti kolam kecil, dll. Dengan menggunakan tambahan alat peraga, maka orangtua dapat memiliki kesempatan untuk mengeluarkan suara yang sama dalam beberapa situasi. Dan menurut Plunkett, & Harris, 1999 (dalam Rhodes, 2007), anak-anak tampak nya lebih menyukai objek visual ketika mereka mendapatkan stimulasi auditori yang diasosiasikan bersama objek tersebut. Hal ini masuk ke dalam tahapan mendengar keempat, yakni Tahap Pemahaman walaupun masih sangat awal.

Strategi Hearing Always Comes First

Strategi paling efektif ketika mengenalkan sound-object associations adalah selalu berpedoman “mendengar dulu-baru mainan”. Orangtua harus memberikan bunyi terlebih dahulu sebelum memperlihatkan objek nya kepada anak. Orangtua harus mengenalkan juga bunyi-bunyi frikatif. Fonem ini voiceless, atau mirip seperti suara berbisik. Contohnya ialah /h/, /t/, /p/, /k/, /s/, /f/, /ch/, dan /sh/. Bunyi dengan frekuensi tinggi seperti ini memang agak sulit didengar oleh anak kecil atau bayi. Walaupun ada sound-object association yang mengandung konsonan, misalnya kodok (hap-hap-hap); tapi, mengenalkan bunyi frikatif tanpa vokal penting untuk diperdengarkan kepada anak. Untuk lebih jelas tentang bunyi fonik yang diucapkan secara voiceless, bisa baca artikel ini.

Tips Dalam Penggunaan Sound-Object Associations

  1. Perhatikan kemampuan anak selama menggunakan sound-object associations. Jika anak sudah mampu membuat suara dari benda, maka gunakan suara khas yang lain dengan aksi yang berbeda dengan benda yang sama. Misalnya, jika anak sudah mampu mengasosiasikan “toot toot” dengan sebuah kereta api yang bergerak, maka ketika kereta api berada dalam sebuah permainan, kita tambahkan bunyi “ch ch ch” ketika kereta api sedang dihidupkan mesin nya. Dan ketika berjalan, kereta api akan berbunyi “toot toot”.
  2. Pastikan pemahaman anak terhadap sound-object associations. Dari waktu ke waktu, kita selalu cek pemahaman anak terhadap objek. Pada bayi, hal ini kurang memungkinkan sih; tapi pada anak usia satu tahun atau lebih, mereka mulai mampu kita ajari untuk menentukan pilihan dari beberapa objek yang mereka sedang lihat. Misalnya, setelah puas bermain dengan garasi, beberapa mobil, sebuah pemadam api, beberapa pesawat. Kita minta anak untuk menyimpan atau memasukkan mainan ke dalam kotak setelah anak mendengar bunyi yang kita ujarkan. Orangtua dapat menyebutkan /Aaaah/ yang berarti pesawat, setelah itu ulurkan kotak tempat menyimpan. Kita tunggu respon si anak. Memastikan pemahaman (komprehensi) anak harus dilakukan secara natural, bermakna, dan menyenangkan. Jangan lupa untuk mencatat bunyi yang telah dipahami anak tanpa isyarat apapun.
  3. Tahu kapan harus move-on. Umumnya, ketika anak sudah memahami banyak kosakata bunyi, maka sudah saat nya kita untuk move-on atau pindah menggunakan “kata yang sebenarnya”. Misalnya, yang biasanya kita sebut “toot toot”, sekarang kita ucapkan sebagai “kereta api”. Kita tinggalkan penggunaan sound-object associations.
  4. Maklumi inkonsitensi. Anak kecil sangat wajar jika melakukan inkonsistensi. Target untuk bisa memahami 80% dari aktivitas yang telah kita lakukan sungguh tidak realistis. Selama anak sudah memberikan respon secara tidak sengaja (incidentally) setidaknya satu kali ketika melakukan aktivitas, maka dia sebenarnya sudah paham bahwa sebuah bunyi itu berhubungan dengan sebuah objek. Komprehensi dari bunyi-bunyi binatang dan bunyi-bunyi kendaraan merupakan tujuan kita. Pada tahap ini, seorang anak cukup bisa memahami bahwa setiap bunyi itu bermakna dan berbeda-beda, dan kegiatan ini akan membuat perubahan pada schema auditori nya.
  5. Jadilah kreatif. Aktivitas sehari-hari harus nya dapat dilakukan dengan bermacam cara. Dan menggunakan tema khusus dapat mengembangkan kreativitas kita. Misalnya, suara hantu “Ooooo” dapat kita gunakan selama Halloween, kita dapat klik lidah kita selama bermain dengan mainan koboi yang menunggang kuda, Santa Klaus berkata, “Ho ho ho” selama akhir Desember, “Mmmm” kita gunakan ketika perayaan yang banyak makanan, dalan lain-lain nya.
  6. Hindari beraktivitas secara membosankan dan jadilah fleksibel. Gunakan banyak mainan sekaligus dalam banyak konteks, variasikan penggunaan mainan secara menyenangkan setiap hari. Beli saja mainan edukatif murah yang berisi pesawat, atau kendaraan lain, juga binatang. Pada suatu hari, sebuah perahu bisa berlayar mengelilingi sebuah ember besar yang berisi air setengah penuh. Hari selanjutnya, perahu yang sama dapat berlayar secara imajenatif di atas sebuah kertas berwarna biru. Hari selanjutnya, orang-orangan yang kecil dapat naik ke perahu besar. Selain itu, mengenalkan sound-object associations dapat dilakukan dengan membaca buku cerita anak. Karena anak dapat cepat bosan dengan pengulangan (repetisi), maka bagian terberat dari orangtua memang untuk menjadi sosok yang kreatif.
  7. Pisahkan mainan yang khusus untuk terapi. Karena material terapi membutuhkan peran aktif orangtua, maka kita harus memisahkan dan menyimpan mainan untuk terapi dari mainan yang digunakan sehari-hari. Anak yang masih kecil akan menganggap mainan yang disimpan terasa spesial sehingga hal ini akan membuat mereka lebih mudah untuk mau diajak terapi di rumah bersama orangtua.
  8. Buat interaksi yang menyenangkan. Orangtua harus membuat aktivitas yang menyenangkan tanpa harus memaksa mereka untuk berbicara. Pada dasarnya, kita hanya ingin mereka untuk belajar mendengar saja. Kita tidak berharap agar mereka bisa berbicara jika masih dalam satu tahun usia mendengar. Dengan terus menerus memberikan latihan secara intensif dan menggunakan banyak situasi, maka anak akan mulai melakukan vokalisasi. Berbicara merupakan sebuah tindakan spontan yang terjadi setelah latihan-latihan dengan banyak bunyi telah kita lakukan.
  9. Transisikan dari bunyi ke “kata” secepat mungkin. Segera setelah anak dapat mengidentifikasi banyak objek berdasarkan asosiasi bunyi nya, maka transisi ke word-object association dapat dilakukan dengan memberikan nama kepada binatang dan kendaraan sesuai nama sebenarnya. Menunggu transisi dari bunyi ke “kata” akan menyebabkan kondisi yang dinamakan “overkill erases”. Yaitu kesulitan bagi seorang anak untuk melakukan transisi ke simbol dengan tingkatan lebih tinggi karena terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk tahapan sound-object associations. Bisa juga anak mengalami gangguan belajar seperti ASD atau APD.
  10. Ikuti urutan perkembangan akuisisi secara berurutan. Yakni:

Tahap 1 : Anak akan mengidentifikasi objek melalui bunyi.
Tahap 2 : Anak mungkin mengeluarkan suara, baik mengimitasi atau spontan
Tahap 3 : Anak akan mengidentifikasi objek ketika disebutkan nama dan bunyi nya
Tahap 4 : Anak akan mengidentifikasi objek berdasar nama.
Tahap 5 : Anak mungkin mengucapkan nama, bisa mengimitasi atau spontan

Bunyi-bunyi yang kita perdengarkan melalui sound-object association sudah cukup untuk mengekspos pendengaran anak dengan banyak fitur wicara, yaitu durasi, intensitas, pitch, voice dan voiceless, sebagai dasar mengucap vokal dan konsonan. Orangtua tidak perlu menambah bunyi lain nya ke dalam terapi AVT di rumah karena akan menghambat perkembangan pembelajaran leksikal (kosakata).

 

Artikel ini merupakan naskah translasi dari sumber tunggal dengan penyesuaian yang tidak mengubah isi utama nya agar orangtua di Indonesia lebih mudah memahami ketika menjalankan terapi auditory verbal secara mandiri. Untuk keperluan akademik, silakan membaca kembali artikel asli dari sumber yang kami sediakan URL nya.

Sumber:
Rhoades, E.A. (2007). Sound-object associations. In S. Easterbrooks, & E. Estes (Eds.), Helping children who are deaf and hard of hearing learn spoken language (pp. 181-188). Thousand Oaks CA: Corwin Press. Dengan URL  www.researchgate.net

 

Tabel Sound-Object Associatons

Bunyi & Mainan Karakteristik Masukan Untuk Orangtua
Aaaa [Pesawat] Stimulasi vokal dengan frekuensi rendah. Umumnya mudah untuk semua anak dengan gangguan dengar apapun Lakukan sebagai bunyi pertama. Gunakan suprasegmental (naik turun pitch dan panjang nya). Terbangkan pesawat naik dan turun untuk memainkan panjang pendeknya vokal. Perhatikan variasi suprasegmentan yang ujarkan anak. Jika anak menggunakan suara monoton, maka lagukan bunyi nya, besarkan intonasi dan gabungkan ritme sambil menggerakan seluruh tubuh.
Bah bah bah [Bis] Merangsang penggunaan bibir. Satu dari konsonan pertama yang bayi dengan pendengaran normal dapat produksi / ucap. Bunyikan dengan berbagai macam ritme dan sesuaikan dengan gerakan bis. Jika anak mengucapkan muhmuhmuh, anak ini bisa jadi calon kandidat implan koklea. Karena /b/ dan /m/ ini menggunakan bentuk bibir yang saqma, maka jangan biarkan anak melihat bibir. Buat supaya hanya suara yang terdengar ketika menggerakkan bis. Jika ingin menekankan pada perbedaan kenyaringan, gunakan bisa kecil untuk suara lembut, dan bis besar untuk suara keras.
Ooooo [Mobil ambulan, mobil pemadam api, mobil polisi] Merangsang penggunaan intonasi atau variasi nada. Biasanya favorit anak-anak. Lakukan naik-turun nada untuk mengimitasi suara sirine. Secara bertahap, panjangkan nada nya. Jika orangtua tidak dapat melakukan variasi pada nada, gunakan “iiii” saja. Selaraskan dengan gerakan mobil dalam memainkan bunyi. Jangan gunakan benda dengan bentuk lingkaran untuk merangsang bunyi “ooo” ini. Fokus pada bunyi tanpa petunjuk visual.
Brrr [Mobil] Merangsang penggunaan bibir. Bisa juga disebut meniup Raspberry. Orangtua mungkin lebih nyaman mempraktikan hal ini di rumah. Selaraskan bunyi raspberry dengan gerakan mobil baik dari panjang ujaran maupun nada. Terima usaha yang telah dicoba oleh anak untuk menggetarkan bibir atau lidah nya.
Ptptpt [Kapal] Beberapa terapis menggunakan bunyi p-p-p. Membiasakan anak mendengar bunyi dengan frekuensi tinggi. Bunyi harus dihasilkan dengan bisikan. Jadi minta bantuan terapis untuk membantu menunjukkan caranya sehingga tahu bagaimana mengucapkan p-p-p tanpa ada vokal di dalamnya. Jelaskan logika dari bunyi ini: Bunyi vokal membuat konsonan dengan frekuensi tinggi tidak terdengar. Padahal kita ingin menanamkan bunyi konsonan ke dalam otak anak. Selalu selaraskan antara bunyi dengan kapal yang bergerak. Jadi, ketika kapal diam dan tidak bergerak, maka bunyi p-p-p juga harus berhenti.
Chchch [Kereta Api] Merangsang konsonan yang berfrekuensi tinggi. Mendorong lidah ke atap mulut sehingga nantinya bisa digunakan untuk membandingkan bunyi “ch” dengan “sh” . Hindari penggunaan cho-choo, karena bunyi konsonan akan tertutup bunyi vokal, khususnya bagi anak yang sedang belajar mendengar. Minta terapis AVT untuk membantu orangtua dapat mengucap konsonan dengan frekuensi tinggi tanpa vokal. Gunakan mainan kereta api yang tidak mengeluarkan bunyi ketika dimainkan. Karena mainan dengan bunyi-bunyian akan sangat menggoda anak untuk memainkannya sehingga tujuan utama malah tidak tercapai. Bunyi kereta akan menyaingi suara yang kita keluarkan, dan anak lebih menyukai bunyi kereta api. Jadi, pilih mainan yang tidak berbunyi, ya.
Binatang
Mooo [Sapi] Merangsang penggunaan vokal dasar. Gunakan dengan suara dalam, hingga terasa nge-bass. Anak akan tertarik dengan perubahan bunyi. Jangan mainkan pitch, tapi mainkan panjang dan pendek saja. Selaraskan suara kita dengan gerakan sapi.
Klik-klik pada lidah [Kuda] Merangsang penggunaan artikulator lidah. Seorang anak mungkin ingin melihat mulut kita ketika kita membuat bunyi ini. Jadi, coba buat bunyi ini tanpa melihatkan gerakan artikulator (lidah). Anak mungkin belum bisa menirukan bunyi ini, tapi tujuan kita adalah memperlihatkan variasi bunyi-bunyian. Selaraskan dengan ritme dan kecepatan klik-klik gerakan kuda.
Miaw [Kucing] Mengajarkan transisi dua buah vokal. Buat bunyi seperti meongan kucing. Pastikan AW nya ini benar-benar terdengar jelas. Jika kita memainkan sapi dengan kucing, maka anak dapat memahami bahwa ada perbedaan antara bunyi “moo” dengan “miaw”.
Woof-woof, arf-arf, ruff-ruff [Anjing] Memperkenalkan voiceless, bunyi dengan frekuensi tinggi di belakang kata. Jangan gunakan “baw-baw” karena /b/ sudah digunakan di bis dan “aw” sudah ada pada kucing. Setiap bunyi harus secara tunggal berhubungan dengan mainan atau obyek. Bunyikan nada ini dengan lembut (tidak keras), sehingga frikatif /f/ nya dapat terdengar, khususnya bila kita bunyikan secara dekat dengan telinga. Jika membuat bunyi gonggongan, maka buat dari dalam dada.
Sssss [Ular] Mengajarkan anak untuk berbisik dan menggunakan konsonan voiceless. Selain itu, bisa digunakan untuk memastikan alat pendengaran bekerja dengan baik. Dikenal sebagai Ling Six Sounds. Biasanya, anak dengan pendengaran normal berusia kurang dari dua tahun belum mampu memproduksi bunyi ini. Bayi dan balita sangat menyukai bisikan yang dilakukan di dekat telinga. Anak dengan gangguan pendengaran dan telah menggunakan ABD dan hasil aided test nya di atas 35 dB kemungkinan sulit mendeteksi bunyi ini. Pastikan Anda bersuara di dekat telinga anak. Jika anak takut dengan ular, kita bisa gunakan obyek selang seperti bunyi air yang menyirami bunga atau APAR ketika memadamkan api, atau keran selang pom bensin ketika mengisi mobil mainan.
Kwek-Kwek [Bebek] Menekankan bunyi frikatif /k/ pada awal dan akhir kata. Gunakan nada rendah (bass). Bagus juga jika digunakan dengan variasi panjang bunyi. Buat bunyi kwek-kwek yang panjang atau pendek ketika bebek sedang beraksi. Jika anak tidak merespon bunyi ini, mungkin kita perlu mendekat ke telinga anak dan menekankan bunyi /k/ lebih jelas lagi.
Hap-hap-hap [Kelinci] Menghubungkan bunyi kepada aksi (lompatan kelinci) dan menekankan bunyi /h/ dan /p/. Mengembangkan perhatian anak antara ada dan tidak-ada suara. Gunakan suara dalam bisikan dan bersuara keras. Redupkan lampu dan berbisiklah dengan memainkan kelinci. Nyalakan lampu dan bersuaralah dengan menggerakkan kelinci. Bisikan akan membantu anak mendengar bunyi frekuensi tinggi, perubahan cahaya akan membantu kita untuk menekankan kepada anak konsep suara dan tidak ada suara.
Oing-Oing [Babi] Menekankan pada difthong dan ‘ng’ pada akhir kata. Kita gunakan lagu Old McDonald Had A Farm, atau kita bacakan buku cerita anak yang berkisah tentang binatang ternak termasuk babi.
Baa-a-a [Domba] Mengembangkan perhatian pondasi vokal anak. Dibutuhkan untuk membedakan “aaaah” dengan “a-a-a-a”. Perbedaan ini semakin mudah dibedakan dengan memanjangkan durasi vokal nya. Ini waktu yang tepat untuk menggabungkan mainan binatang (domba) dengan kendaraan (pesawat), misalnya kita gunakan perintah, domba kecil naik pesawat yang besar.
iiikkk [Tikus] Mengembangkan perhatian pada bunyi falsetto (melengking). Untuk bunyi dengan pitch sangat tinggi, kita bisa menggunakan mainan tikus. Selaraskan antara suara dengan gerakan tikus. Gunakan suara melengking ketika tikus bergerak mengelilingi lantai atau meja.
Bersiul [Burung] Mengajarkan penggunaan artikulator mulut. Kebanyakan anak-anak tidak bisa bersiul. Tapi mereka umum nya akan spontan berusaha menirukan dengan bersuara vokal “ooo” atau “iiii”. Coba untuk mengimitasi suara burung yang berkicau sangat keras hingga terdengar dari dalam ruangan yang sunyi.
Aksi
Mmmm [Menunjukkan rasa makanan yang enak] Mengajarkan produksi bunyi terisolasi ketika melihat makanan. Kita dapat berpura-pura sedang makan makanan, sembari itu, kita berkata, “Mmmm, ini enak”. Kita buat bunyi “mmm” ini secara natural dengan nada naik dan turun. Hindari penggunaan yang berlebihan pada bunyi ini. Hilangkan penggunaan nya setelah anak sudah mampu mengimitasi dengan baik bunyi “mmm”, misalnya si anak awalnya meniru “mmaaa” atau “mbaaa”.
Shhhh [Menunjukkan kita minta orang-orang tidak bersuara] Mengajarkan produksi bunyi terisolasi ketika ingin semua orang diam. Kita dapat berpura-pura dengan menggunakan boneka yang sedang tidur. Matikan lampu, dan taruh telunjuk di depan mulut dan bunyikan, “Shhh”. Bisa juga dengan memainkan kedua jari seperti orang jalan dari wajah hingga ke atas mulut agar anak perhatian dengan jari nya. Jika anak tidak mampu mendengar suara dari jarak 1 meter(3 kaki), dia mungkin kandidat implan koklea.
Srutup (smacking lips) [Menunjukkan menyedot atau sedang mencium] Merangsang penggunaan bibir sebagai artikulator. Gunakan seperti kita sedang meminumkan susu botol ke boneka bayi. Atau, kita gunakan mainan sapi dan kuda yang berjalan-jalan kemudian mencari air dan meminum nya. Hanya gunakan ketika aksi (menyedot atau mencium) dilakukan obyek.
T-t-t-t [Menunjukkan detikan jam dinding] Mengajarkan produksi bunyi terisolasi dari bunyi voiceless ketika ada jarum detik bergerak. Kita dapat menggunakan jari yang bergerak seirama dengan pergerakan detikan jam. Si anak seharusnya dapat mendengarkan bunyi detikan jam dalam jarak yang dekat. Jangan gunakan bunyi vokal (tidak boleh ta-ta-ta). Kita bisa juga sembunyikan jam dinding sembari membunyikan t-t-t-t dan kita mencari sumber bunyi itu. “Ada suara t-t-t-t, dimana ya?”
K-k-k-k, g-g-g-g [Menunjukkan batuk, atau gargling] Merangsang bagian belakang lidah sebagai artikulator. Mengajarkan produksi voice dan voiceless konsonan secara seimbang. Hati-hati, jangan tambahkan vokal pada bunyi k-k-k-k. Pura-pura sebuah boneka sedang terbatuk kemudian angkat, taruh di pundak dan tepuk-tepuk. Pura-pura ada boneka yang gargling setelah gosok gigi. Gargling itu bunyi yang muncul dari kita menahan air minum di dalam mulut kemudian menengadahkan kepala ke atas kemudian membuat gelembung dengan mengeluarkan angin dari dalam paru-paru melewati kerongkongan, maka akan berbunyi “Grlgrlgrl”. Nah, kita bisa perlihatkan kepada anak. Walau ada yang menganggap kurang sopan, tapi ini teknik yang baik untuk mengajarkan /g/ terisolasi.