Critical Elements

Critical Elements adalah bagian-bagian dari informasi, yang diberikan melalui ujaran kemudian didengar (auditorally atau audio-oral) lalu anak harus berusaha menggunakan kemampuan mengingat jangka pendek nya (short term memory).

Critical elements disusun berdasarkan konsep dasar yang telah dipahami anak. Konsep dasar tersebut dari yang paling sederhana ialah:
(1) Warna (mulai dari warna primer [merah, biru, kuning], warna sekunder [oranye, hijau, ungu], hingga warna baru [tosca, magenta, fuschia, dll] )
(2) Ukuran (mulai dari besar-kecil, sedang, paling besar-paling kecil)
(3) Bentuk (mulai dari persegi, lingkaran, segitiga, persegi panjang, oval, segilima, dll)
(4) Preposisi (atas-bawah, depan-belakang, kanan-kiri, dll)
(5) Kondisional (misalnya, kalau laki-laki ambil topi biru, kalau perempuan ambil topi kuning)
(6) Temporal (pertama, kedua, atau sebelum-sesudah).

Critical elements digunakan oleh Terapis AVT ketika melatih anak fokus mendengarkan instruksi. Semakin tinggi pemahaman anak, maka semakin kompleks critical element yang digunakan. Orangtua juga dapat mencoba mempraktekkan penggunaan critical element dalam kegiatan sehari-hari. Sama seperti yang dilakukan terapis, jika anak mengalami kesulitan dengan kalimat kompleks, maka ubah sedikit lebih sederhana.

Contoh¹ :

Untuk anak-anak yang belajar mendengar, kita dapat menggunakan stiker bergambar hari dan stiker bergambar bunga. Kemudian, kita berikan instruksi seperti ini, “Tempel bunga nya”. Nah, artinya kita sedang memberikan 1 critical element dari 2 item (barang).

Untuk anak-anak dengan tingkatan lebih tinggi, kita dapat gunakan stiker gambar hati, bunga, dan bintang dengan berbagai warna dan bentuk. Kemudian, kita bisa beri instruksi semacam ini, “Tempel bintang yang besar warna ungu”. Nah, artinya kita sedang menggunakan 3 critical elements (ukuran, warna, bentuk) dari banyak item (barang).

Critical Elements Dalam Permainan¹

Pertama, kita tentukan terlebih dahulu kemampuan anak yang akan kita ajak bermain. Jika anak tersebut baru memulai AVT, maka cukup gunakan 1-2 critical elements dengan variasi pada:
(1) meningkatkan jumlah item mulai dari 2 item sampai 4 item.
(2) membagi critical element berdasarkan perintah (direction)
(3) mengembangkan konsep auditory memory dan kemampuan berbahasa nya.

Kegiatan ini sangat berhasil ketika dilakukan satu-anak-satu-terapis, tetapi bisa juga dilakukan secara berkelompok. Jika dilakukan secara berkelompok, maka semua anak akan bekerja dengan versi mereka masing-masing dengan menggunakan material yang sama.

Persiapan Bahan:
(1) Orangtua dan Praktisi AVT dapat menggunakan material yang dapat dibeli, atau bisa juga membuat sendiri dari material dasar seperti kertas dan lem.
(2) Bisa juga dengan menggunakan permainan mewarnai sebuah karakter atau pemandangan alam dengan menggunakan krayon atau cat warna.

Cara Penggunaan:
(1) Orangtua dapat memberikan arahan kepada anak-anak untuk memberikan warna kepada bagian gambar yang disebutkan.
(2) Orangtua juga dapat memberikan arahan kepada anak-anak untuk menambahkan gambar sederhana dari kertas yang telah disediakan. Misalnya, “Gambar sebuah hati diantara dua Kelinci”.
(3) Orangtua juga dapat menggunakan nya sebagai materi perlombaan bersama anak. Papa dan anak mendengarkan perintah suara dari Mama. Kemudian, masing-masing melakukan perintah tersebut tanpa melihat satu sama lain dan membandingkan hasil nya.

Sumber:
¹www.auditoryverbaltherapy.net