Cara Merawat Alat Bantu Dengar

Alat Bantu Dengar masih merupakan barang baru dalam keseharian kita. Karena tidak semua orang memakai ABD, maka merupakan hal yang wajar ketika Ayah Bunda belum memahami bagaimana cara merawat alat bantu dengar.

Perawatan alat bantu dengar yang memadai akan memperpanjang usia kerja ABD, maka rawatlah dengan cara:

  • Menjauhkan ABD dari panas dan lembab.
  • Bersihkan ABD sesuai dengan instruksi yang diberikan. Kotoran telinga dan cairan telinga dapat merusak ABD.
  • Keringkan ABD setiap hari dalam wadah yang telah disediakan, baik itu pengering elektrik dan pengering manual.
  • Hindari penggunaan spray rambut selama menggunakan ABD (pasien dewasa).
  • Matikan ABD selama tidak digunakan.
  • Ganti baterai yang telah mati secepatnya.
  • Jauhkan baterai cadangan dan bagian ABD yang kecil dari anak-anak.

Jadikan tata cara merawat alat bantu dengar di atas sebagai kebiasaan sehingga perawatan Alat Bantu Dengar terasa lebih mudah. Berlatih lah menaruh ABD dengan hati-hati, bersihkan setiap hari, pastikan mana ABD telinga kanan dan ABD telinga kiri, dan ganti baterai secara berkala. Tanyakan kepada hearing acoustician, bagaimana cara mengetes suara percakapan ketika berada di lingkungan bising. Apabila ABD Analog, belajar lah cara mengubah volume suara dan program apabila suara terlalu keras atau terlalu lirih. Bekerjasama lah dengan audiolog hingga anak merasa puas dan nyaman dengan ABD yang digunakan.

Sumber:
www.nidcd.nih.gov

Mendapatkan Alat Bantu Dengar Gratis

Mendapatkan alat bantu dengar gratis merupakan keinginan orangtua yang memiliki anak tunarungu. Saat ini, harapan tersebut sedikit banyak diwujudkan oleh Starkey Hearing Foundation. Ayah dan Bunda dapat mendaftar untuk mendapatkan donasi Alat Bantu Dengar gratis. Starkey Hearing Foundation merupakan organisasi non-profit dari Amerika yang telah membagikan ribuan alat bantu dengar ke negara-negara yang masih sedikit mendapatkan akses alat bantu dengar. Indonesia termasuk negara yang mendapatkan program bantuan ini dan pembagian donasi ABD telah dilakukan selama beberapa tahun.

Alat Bantu Dengar kebanyakan tidak dijamin asuransi kesehatan swasta, tapi sebagian perusahaan ada yang bersedia menjaminnya. Jika di luar negeri banyak program-program bantuan untuk meringankan kebutuhan pembelian ABD, namun untuk di Indonesia belum banyak organisasi semacam itu.

BPJS Kesehatan sebagai organisasi jaminan sosial masyarakat belum mampu memberikan klaim pembelian alat bantu secara penuh atau gratis. Saat ini, BPJS Kesehatan dapat membantu pembelian Alat Bantu Dengar dengan nominal 500 ribu rupiah hingga 1 juta rupiah. Hubungi BPJS Kesehatan untuk menanyakan lebih lanjut.

Cek Kemampuan Alat Bantu Dengar

Anak tunarungu memiliki variasi gangguan pendengaran yang berbeda-beda, ada yang mengalami gangguan pendengaran ringan, gangguan pendengaran sedang, dan gangguan pendengaran berat. Kita sebagai orangtua hanya dapat memastikan apakah anak mendapatkan manfaat dengan penggunaan alat bantu dengar yang kita peroleh secara gratis itu secara objektif.

Pengukuran kemampuan alat bantu dengar memang tidak dapat langsung dilakukan. Semua membutuhkan waktu karena anak harus melalui tahapan mendengar. Untuk itu, setidaknya anak dapat melampaui tahapan deteksi suara (sadar suara) dan diskriminasi suara (membedakan dua buah jenis suara). Jika anak tidak kunjung melalui dua tahapan dari empat tahapan mendengar, maka sebaiknya orangtua mulai memikirkan untuk mendapatkan alat bantu dengar yang sesuai atau melakukan pemeriksaan ke dokter tumbuh kembang anak untuk mendapatkan rekomendasi lanjutan.

Bagaimana Menyikapi Ekspektasi

Ekspektasi setiap orangtua itu berbeda. Mimpi dan harapan yang Ayah dan Bunda gantungkan kepada anak juga berbeda-beda. Jika Ayah dan Bunda menentukan pilihan bahwa anak tidak harus menggunakan alat bantu dengar yang sesuai, maka kewajiban orangtua ialah belajar bahasa isyarat dan mengajari anak membaca dan menulis. Tujuan nya ialah agar anak dapat berkomunikasi dengan lebih baik lagi di masyarakat walau tanpa bahasa verbal.

Jika Ayah dan Bunda memiliki impian agar anak dapat berkomunikasi verbal, maka syarat utama ialah anak mendapatkan manfaat dari alat bantu dengar itu. Secara terukur hal ini dapat dipastikan dengan melakukan FFT (Free Field Test) di Hearing Center terdekat. Sedangkan, syarat FFT ialah anak sudah cukup mahir mendengar, yakni sadar suara, dan mau memperhatikan beberapa suara nada murni selama FFT.

Memilih Alat Bantu Dengar Yang Sesuai

Alat Bantu Dengar (ABD) adalah seperangkat alat elektronik yang digunakan seseorang yang memiliki ketidakmampuan mendengar secara normal sehingga suara yang dikeraskan akan memberikan manfaat bagi penggunanya. Bagi anak-anak yang mengalami ketidakmampuan mendengar sejak bayi, alat bantu dengar menjadi alat utama untuk belajar mendengar dan berbicara. Mendengar terlebih dahulu, baru kemudian pede berbicara.

Alat Bantu Dengar memiliki 3 bagian utama, yakni mikrofon, amplifier, dan speaker. Bersyukur telah ada teknologi mikro (kecil) sehingga seseorang yang membutuhkan pengeras suara tidak harus membawa alat berukuran besar lagi seperti zaman dahulu. Selain itu, teknologi ini saat ini menjadi semakin murah dan canggih. Alat bantu dengar dahulu menggunakan teknologi analog dan satu mikrofon. Jadi suara lawan bicara ditambah suara lingkungan yang cukup mengganggu (noise) akan dikeraskan bersama-sama. Alat bantu dengar model baru menggunakan teknologi digital dan dua mikrofon, di mana suara yang masuk akan mengeraskan suara lawan bicara dan menghilangkan suara lingkungan yang mengganggu.

Memilih Alat Bantu Dengar Yang Sesuai Untuk Anak

Alat Bantu Dengar yang terbaik ialah yang sesuai dengan gangguan pendengaran yang dialami. Jika gangguan pendengaran dialami pada kedua telinga, maka umumnya hearing acoustician akan menyarankan untuk menggunakan  2 alat bantu dengar. Dengan menggunakan dua alat bantu dengar maka otak akan menerima sinyal yang lebih natural. Menggunakan dua alat bantu dengar  akan membantu pengguna ABD memahami percakapan, dan menentukan arah sumber suara.

Audiolog dapat memilihkan ABD sesuai kebutuhan. Harga juga merupakan salah satu dasar pemilihan karena ABD memiliki rentang yang sangat lebar, antara jutaan hingga puluhan juta perunit. Sama seperti barang lainnya, tiap fitur yang ditambahkan dalam ABD akan mempengaruhi harga. Namun, jangan hanya menggunakan harga sebagai dasar penentuan ABD yang terbaik. Tidak pasti juga ABD yang mahal dan kaya fitur merupakan ABD terbaik untuk anak kita.

Alat Bantu Dengar tidak akan mengembalikan pendengaran anak kita menjadi normal. Namun, dengan terapi AVT dan latihan, maka kemampuan mendengar akan meningkat. Kemampuan mendeteksi suara, membedakan suara, dan menentukan arah sumber suara semakin lama dapat dikuasai.

Dalam memilih ABD, Ayah dan Bunda juga harus membandingkan servis atau bagian ABD apa saja yang ditanggung selama masa garansi, biaya yang timbul ketika alat bantu dengar mengalami kerusakan, apakah ada pilihan untuk upgrade dan reputasi merk alat bantu dengar dan reputasi hearing center dalam menanggapi keluhan konsumen.

Tips Memilih ABD dan Hearing Center

Beberapa tips ini diambil dari www.nidcd.nih.gov. Ayah Bunda yang akan membelikan alat bantu dengar dapat bertanya kepada audiolog mengenai pertanyaan yang penting ini:

  1. ABD mana saja yang menjangkau derajat gangguan pendengaran anak saya? Tanyakan juga tentang fitting range.
  2. Fitur apa yang paling berguna dan sesuai untuk anak saya?
  3. Berapa biaya keseluruhan yang saya bayar untuk membeli ABD?
  4. Apakah kecanggihan fitur ABD terbaru sebandingkan dengan harganya?
  5. Apa ada periode percobaan untuk tes alat bantu dengar? (Di luar negeri, dengan sistem uang-jaminan, hearing center dapat meminjamkan ABD selama 30-60 hari, kemudian uang jaminan tersebut dapat di-refund apabila ABD dirasakan tidak cocok. Apa ada biaya untuk mengembalikan ABD?)
  6. Berapa lama garansinya? Apakah garansi dapat diperpanjang untuk biaya perawatan dan perbaikan di masa yang akan datang?
  7. Adakah audiolog yang dapat melakukan penyesuaian (fitting ABD) di tempat?
  8. Apakah ada ABD cadangan yang dapat dipinjam apabila diperlukan perbaikan?
  9. Petunjuk apa yang dapat diberikan hearing acoustician kepada orangtua anak? Petunjuk perawatan ABD, mengganti baterai, servis berkala dan lainnya

Membiasakan Anak Menggunakan Alat Bantu Dengar

Setiap bulan, selalu ada orangtua yang bertanya mengenai “bagaimana cara membiasakan anak agar mau menggunakan alat bantu dengar?” Pertanyaan ini dulu pernah saya khawatirkan karena Alkha termasuk anak yang tidak mau ada benda-benda menempel di kepala nya, misalnya topi dan jaket jumper. Benda-benda di kepala selalu dilepas dan menolak untuk digunakan. Lantas apakah berpengaruh terhadap penerimaan Alkha terhadap alat bantu dengar nya? Ternyata tidak kok. Dia merasa nyaman-nyaman saja di awal penggunaan alat bantu dengar.

Waktu pertama kali memasang alat bantu dengar di telinga Alkha, kami diliputi perasaan was-was. Tidak ada yang pernah mengusulkan kepada kami beberapa tips agar mau menggunakan alat bantu dengar. Jadi kami termasuk orangtua yang cukup beruntung bisa melalui tahapan tersebut dengan mudah. Tidak terlalu lama penolakan Alat Bantu Dengar. Mungkin karena hak anak agar mau menggunakan ABD sudah kami penuhi, walau tanpa sadar. Nah, sekarang anak akan menggunakan alat bantu dengar, apa yang kemudian dapat kita lakukan?

1. Mulai dari sunyi menuju ramai

Alat Bantu Dengar pada dasarnya merupakan pengeras suara yang suara nya sangat keras. Bila digunakan pada saat ramai, bisa jadi membuat kaget pengguna nya. Saya akan coba menganalogikan nya seperti ini. Ketika kita berada di sebelah sound system mantenan, alunan lagu mengalir dari speaker kemudian masuk ke liang telinga dan mengerakkan gendang telinga. Alunan lagu kita dengar mulai dari tempat parkir, melalui pintu masuk, hingga bersalam-salaman. Bisa dibayangkan bahwa lagu mantenan itu dimulai dari suara kecil hingga kita berjalan mendekat ke sumber suara. Kita tidak kaget kan?

Berbeda dengan ketika kita sedang prasmanan di dalam gedung. Sound system masih mati, persiapan acara. Kemudian speaker yang berada di belakang kita tiba-tiba menyala. Tentu bisa jadi kita kaget, bisa juga tidak. Untung-untungan.

Membiasakan anak untuk menggunakan alat bantu dengar ketika di rumah dapat di lakukan di dalam kamar. Matikan semua sumber suara; televisi, radio, kipas angin, AC, suara kran kamar mandi; agar kondisi nya pasti-sunyi, tidak untung-untungan. Kita berharap agar pengguna alat bantu dengar yang masih pemula ini tidak kaget, tidak trauma, mencopot ABD dengan paksa, bahkan membantingnya.

Pertama, masukkan baterai ke dalam Alat Bantu Dengar. Jangan ditutup sempurna, artinya ABD masih dalam keadaan mati.
Kedua, bila anak menangis, tetap pakaikan ABD ke telinga nya. Pegangi tangan nya dengan lembut agar tidak mendekati telinga.
Ketiga, lepaskan tangan anak. Dorong tutup baterai sehingga alat bantu dengar menyala. Karena semua peralatan elektronik sudah mati, anak tidak menangis, bukankah ini kondisi paling sunyi yang bisa Ayah dan Bunda dapatkan ketika di rumah?
Keempat, panggil namanya secara natural, biasa saja, tidak perlu berteriak. Asyik kan?
Kelima, ajak anak keluar kamar. Perlahan-lahan kondisinya akan lebih bising daripada di dalam kamar. Ada suara motor lewat, penjual tahu bulat yang menawarkan gorengan, suara truk lewat, suara anak-anak sekolah, ibu-ibu ngerumpi, dan lain-lain. Pelan-pelan saja, yang terpenting anak merasa bahwa alat bantu dengar bukan benda yang menyakitkan.

2. Mulai dari penggunaan sebentar hingga lama

Durasi penggunaan ABD merupakan hal terpenting dalam membiasakan anak menggunakan alat bantu dengar. Idealnya, ABD digunakan anak selama 12-16 jam. Pada dasarnya anak yang menggunakan ABD harus mengenali suara lingkungan terlebih dahulu, seperti bayi pada umumnya. Terlebih lagi anak-anak dengan gangguan berat dan profound hearing loss yang hampir tidak pernah mendengar variasi suara dari lahir hingga menggunakan saat ini.

Sebisa mungkin, pakaikan Alat Bantu Dengar sepanjang hari. Hanya lepaskan ABD ketika mau mandi dan tidur. Bila anak menolak pada beberapa jam pertama, coba cari tahu penyebab nya. Apakah gatal, panas, capek, tidak asyik (anak dibiarkan tanpa stimulasi), kulit telinga lecet, dan lain-lain.

3. Perbanyak waktu di lingkungan yang sepi

Anak yang baru belajar menggunakan Alat Bantu Dengar lebih baik banyak berada di lingkungan sepi. Suara yang masuk akan lebih jelas sehingga anak berlatih mengidentifikasi berbagai macam suara lingkungan. Suara dentingan sendok dengan piring kaca, suara mobil-mobilan yang saling bertabrakan, suara geseran sofa yang mendecit, suara mesin motor Ayah ketika berangkat bekerja, suara mesin cuci yang berputar, suara Bunda yang sedang memasak, suara pintu yang dibuka atau ditutup, desiran kipas angin, dan sebagainya. Jadi, anak akan lebih banyak mendengar satu sumber suara pada satu waktu.

4. Alihkan perhatian anak menggunakan mainan edukatif

Alihkan perhatian anak dengan mainan edukatif untuk membiasakan anak menggunakan alat bantu dengar. Pilih mainan yang sederhana dan variatif. Misalnya paket binatang ternak, puzzle geometris, puzzle gambar, dan sebagainya. Tetapi, keluarkan mainan satu persatu, simpan mainan yang tidak sedang digunakan. Jika sudah bosan, keluarkan lagi mainan yang lain. Ganti simpan mainan yang sudah bosan, nanti juga tertarik lagi.

Dengan kegiatan semacam ini, Ayah dan Bunda dapat mengenalkan kata “Sama”, “Putar”, “Kembalikan”, “Taruh”, dan sebagainya. Ulangi kata-kata tersebut secara natural (tidak berteriak) dan berikan jeda antar-kata ketika berbicara. Pada tahap ini, anak sedang mengisi kosakata dalam gelas yang masih kosong (bahasa reseptif). Ayah dan Bunda hanya dapat menunggu sembari terus mengisi kosakata baru hingga gelas tersebut penuh kemudian tumpah menjadi kosakata bahasa ekspresif.

5. Kenalkan anak dengan asosiasi kata-objek (sound-object associations)

Asosiasi kata dengan obyek merupakan salah satu metode AVT untuk berkomunikasi antara anak dengan orangtua. Metode ini hanya jembatan; jika sudah dilewati, maka anak tidak perlu menggunakan lagi asosiasi kata-suara ini.

6. Kenalkan anak dengan Ling’s Six Sounds

Ling Six Sounds merupakan metode AVT yang mudah, murah, dan valid (teruji) untuk memastikan apakah anak mendengar seluruh frekuensi suara bicara manusia. Karena anak belum bisa imitasi (meniru kembali) suara, maka mengenalkan 6 suara Ling bisa dilakukan dengan menggunakan kartu pintar, atau mainan. Bila mau digunakan semua, pastikan keduanya (gambar dan benda) menggunakan simbol yang sama.

Ling Six Sounds idealnya selalu dilakukan setiap pagi dan menjadi rutinitas wajib si anak. Ayah dan Bunda dapat gunakan Ling Six Sounds sebagai bagian dari sound-object associations. Kenalkan bahwa pesawat bersuara aaa, kereta api ini bersuara uuuu, es krim bersuara mmm, ular bersuara sss, dan bayi tidur bersuara shhh. Setelah anak paham, pada setiap pagi, lakukan Ling Six Sounds untuk mengetahui kualitas mendengar anak.

7. Kenalkan Anak Dengan Nama Panggilannya

Untuk mengenalkan nama anak, Ayah dan Bunda wajib memperhatikan hal ini, yakni panggil nama anak bila akan memberikan instruksi. Misalnya, “Alkha, ayo sini. Makan dulu”, “Alkha, Mama punya mobil. Brum brum. Mau?”, “Alkha, ini namanya sapi, mooo, moo”.  Secara tidak langsung anak akan mengenali nama panggilannya sendiri.

Jika Ayah dan Bunda melihat anak sedang melamun, panggil anak untuk datang dan berikan sesuatu pada nya. Jika Ayah dan Bunda tidak memiliki benda yang spesial, atau mainan baru; berikan saja mainan mobil-mobilan yang biasa dimainkan. Kali ini sembunyikan dalam kain, atau dalam baju nya Ayah. Bilang saja, “Mau?”. Jangan khawatir anak akan kecewa. Justru, bila Ayah dan Bunda hanya memanggil agar anak berhenti melamun, kemudian mengabaikan nya lagi, maka anak merasa bahwa merespon panggilan merupakan hal yang tidak penting. Hal ini harus dihindari. Lama kelamaan anak tidak menghiraukan panggilan nama nya walaupun Ayah dan Bunda memiliki mainan yang bagus sekalipun.


Beberapa tips di atas dapat diajarkan untuk membiasakan anak menggunakan alat bantu dengar. Kecuali tentang Ling Six Sounds, Ayah dan Bunda dapat bertanya lebih lanjut tentang teknik pengajaran nya kepada Terapis AVT  yang nanti Bunda tunjuk untuk menjadi mentor keluarga. Sebagai gambaran, video dibawah ini semoga dapat memberikan gambaran tentang Ling Six Sounds.

Tips Agar Anak Mau Menggunakan Alat Bantu Dengar

Beberapa anak tidak bersedia menggunakan ABD setelah orangtua memakaikan alat tersebut di kanal telinga mereka. Bagaimana tips agar anak mau menggunakan Alat Bantu Dengar? Walaupun Alkha termasuk yang tidak lama melakukan penolakan, setidaknya saran ini bermanfaat untuk memberikan penjelasan bahwa ada hak anak yang harus dipenuhi sebelum tugas menggunakan alat bantu dengar dari Ayah dan Bunda bersedia mereka lakukan dengan senang hati.

Ayah dan Bunda yang berada pada tahap ini tentunya merasa sedih, marah, dan bingung mengenai cara agar anak mau menggunakan alat bantu dengar. ABD yang dibeli dengan harga mahal, menguras keuangan keluarga, dan membutuhkan energi yang luar biasa; masih dihadapkan pada penolakan anak menggunakan alat bantu dengar. Nah, bagaimana jika Ayah dan Bunda memposisikan diri sebagai si anak? Yang belum tahu apa tujuan menggunakan alat bantu dengar, bahkan belum berbahasa verbal. Yang dapat mereka lakukan ketika tidak menginginkan suatu hal ialah dengan menghindar, melepas ABD, hingga melempar ABD.

Ada beberapa hak anak yang Ayah dan Bunda perlu diperhatikan agar anak mau menggunakan Alat Bantu Dengar. Dengan memastikan beberapa hal ini, maka Ayah dan Bunda dapat yakin ketika akan melakukan persuasi kepada anak.

1. Alat Bantu Dengar Terlalu Keras

Pada dasarnya setiap anak yang baru menggunakan alat bantu dengar memiliki potensi untuk mengalami trauma dari keras nya suara yang masuk melalui telinga dan menstimulasi otak secara tiba-tiba. Oleh karena itu, umumnya audiolog anak akan memberikan fitting Alat Bantu Dengar sedikit di bawah garis-audiogram-yang-seharusnya untuk beberapa waktu. Biasa nya disesuaikan dengan jadwal fitting ulang ABD, yakni 3 bulan sekali. Oleh karena itu, pada tiga bulan pertama, Ayah dan Bunda seharusnya tidak perlu khawatir bahwa anak akan mendapatkan over-amplifikasi dari alat bantu dengar yang digunakan anak.

Jika Ayah dan Bunda bersikeras bahwa alat bantu dengar tersebut terlalu keras ( over-amplifikasi ), maka tugas Ayah dan Bunda ialah melakukan tes ASSR ulang pada rumah sakit atau klinik yang berbeda dengan klinik yang digunakan untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada anak. Ayo sayangi anak, jika memang belum yakin dengan hasil tes yang ada, lebih baik mengulang lagi ditempat lain. Bukankah tujuan kita membelikan ABD ialah agar anak mendapatkan benefit/ keuntungan menggunakan ABD, yakni mendengar suara dari bahasa (auditory-information) yang nantinya akan kita ajarkan kepada mereka melalui berbagai tips AVT. Hal ini penting diperhatikan Ayah dan Bunda agar anak mau menggunakan Alat Bantu Dengar.

2. Telinga Anak Kotor

Siapa orang yang mau menggunakan earphone ketika telinga nya gatal? Hehe. Orang dengan mobilitas tinggi yang sering menggunakan earphone kabel atau earphone bluetooth saja kadang tiba-tiba melepas alat itu kemudian mengambil cotton bud karena tiba-tiba telinga terasa gatal. Bahkan saking terburu-burunya langsung memasukkan jari kelingking nya ke dalam kanal telinga untuk meredakan rasa gatal. Itu ciri khas telinga yang kotor dan sudah waktu nya dibersihkan. Beruntungnya kita yang orang normal karena kondisi liang telinga yang terbuka, maka lendir kotoran telinga akan mengering bahkan jatuh sendiri.

Sebelum orangtua sadar anaknya mengalami gangguan pendengaran, Dokter THT anak akan memastikan bahwa keterlambatan pada bicara anak tidak disebabkan karena tersumbatnya lubang telinga. Telinga anak yang melakukan tes pendengaran (OAE, Timpanometri, BERA, ASSR) akan menjalani pembersihan telinga terlebih dahulu, demi mendapatkan hasil tes yang objektif. Jadi, bila anak kita coba pakaikan alat bantu dengar, mungkin dalam kisaran satu-dua bulan setelah tes, kita berasumsi telinga anak masih dalam kondisi bersih. Namun, bila tidak yakin, karena produksi kotoran telinga setiap orang berbeda satu dengan lainnya, maka Ayah dan Bunda dapat coba mengintip liang telinga anak ketika sedang tidur dengan bantuan senter. Jika terlihat ada kotoran telinga, alangkah baiknya bawa anak ke dokter THT untuk membersihkan telinga. Jika menggunakan cotton bud pada anak malah dikhawatirkan kotoran telinga akan semakin masuk ke dalam telinga.

3. Telinga anak lecet

Telinga anak yang baru menggunakan ABD bisa jadi mengalami lecet pada kulit telinga nya. Untuk mengurangi potensi lecet, Ayah dan Bunda mengolesi earmold dengan baby-oil, bisa juga diolesi V-Gel. Keduanya cocok dan direkomendasi oleh banyak orangtua. Bila telinga anak terlanjur mengalami lecet, maka sebaiknya berhenti menggunakan ABD sementara waktu dan konsultasi ke dokter THT.

4. Earmold Longgar

Earmold adalah cetakan telinga yang terbuat dari bahan plastik dan dibuat khusus menyesuaikan bentuk telinga anak agar suara yang dihasilkan alat bantu dengar tidak mengalami feedback sekaligus nyaman ketika digunakan. Earmold yang dibuat oleh hearing center biasanya menggunakan bahan yang halus dan nyaman digunakan. Earmold bisa dibuat dari bahan berwarna-warni, satu warna, transparan glossy, dan transparan butek.

Earmold yang longgar dapat dikarenakan beberapa hal. Satu, telinga anak tumbuh seiring bertambahnya usia. Dua, anak banyak gerak ketika proses mencetak earmold. Untuk nomor satu, semakin kecil si anak menggunakan ABD, maka sebuah earmold akan lebih cepat melonggar. Semakin besar, misalnya usia 3 tahun keatas, maka earmold butuh diganti sekitar 6 bulan sekali. Tapi semua tergantung tumbuh kembang anak. Nah, siilakan Ayah dan Bunda cek apakah earmold yang digunakan longgar atau tidak. Untuk nomor dua, jika earmold longgar atau rusak padahal earmold baru diterima, maka Ayah dan Bunda berhak meminta ganti ke hearing center untuk dibuatkan lagi mulai dari awal proses pencetakan.

Kali kedua ini, pastikan anak tidak menyentuh cetakan earmold yang masih basah. Duduklah tegak, pangku anak di depan Ayah atau Bunda. Rapatkan punggung anak ke perut Anda. Pegangi tangan dan kempit kedua kakinya. Bagian kepala dan telinga akan diurus oleh petugas yang mencetak earmold. Sambil menunggu cetakan earmold mengering, gendong anak sambil dipegangi kedua tangannya. Bila satu telinga sudah berhasil, baru lakukan untuk telinga sebelah nya.

5. Telinga anak mengalami peradangan telinga tengah / otitis media

Penolakan menggunakan alat bantu dengar pernah terjadi ketika Alkha sedang pilek batuk cukup lama. Ketika kami intip, ternyata pada bagian dalam telinga nya terlihat warna putih mengkilat, ternyata telinga nya mengalami otitis media. Bila itu terjadi, anak akan tidak nyaman menggunakan ABD. Satu-satunya cara ialah dengan memeriksakan telinga ke dokter THT, maka dokter akan memberikan obat tetes telinga dan obat pilek-batuk untuk meredakan produksi penyakit nya. Sementara waktu anak tidak menggunakan ABD hingga sembuh.

6. Alat Bantu Dengar tidak berfungsi baik

Alat Bantu Dengar yang Ayah dan Bunda miliki merupakan barang elektronik yang bisa rusak sewaktu-waktu. Untuk itu, Ayah dan Bunda dapat melakukan pengecekan sendiri kualitas suara ABD anak. Caranya ialah dengan menggunakan stetoclip yang dapat di beli di Hearing Center, atau dapat pula membuat sendiri dari stetoskop yang dipotong ujungnya.

Alat Bantu Dengar yang masih baru akan sangat jarang mengalami kerusakan. Namun bila ABD yang Ayah dan Bunda miliki ini merupakan ABD seken, maka pengecekan berkala sebaiknya terus dilakukan. Terlebih karena anak belum mampu memberikan respon dari suara yang “baik” dari Alat Bantu Dengar.

Stetoclip ini juga bisa digunakan untuk memastikan bahwa tingkat kekerasan suara yang dikeluarkan ABD kurang lebih sesuai dengan hasil Audiogram. Misalnya telinga kanan memiliki derajat gangguan dengar 90 dBHL akan bersuara lebih lembut daripada telinga kanan yang memiliki derajat gangguan dengar 110 dBHL. Jika sudah dipastikan bahwa ABD yang digunakan sesuai dengan derajat gangguan dengar nya dan bersuara jernih, maka dapat dikatakan bahwa Alat Bantu Dengar telah berfungsi baik.

Simpulan

Jadi, jangan terburu-buru berpikir anak sedang melawan keinginan orangtua yang menginginkan anak konsisten menggunakan ABD sejak bangun hingga mau tidur yaa!! Bisa jadi mereka tidak nyaman menggunakan ABD karena telinga mereka sakit, sedangkan mereka belum bisa menyampaikan nya. Selama anak belum mampu mengadvokasi dirinya sendiri, maka seluruh  tanggungjawab ini merupakan kewajiban orangtua. Jika tips agar anak mau menggunakan Alat Bantu Dengar sudah dilakukan, maka langkah selanjutnya ialah membiasakan anak menggunakan alat bantu dengar.

Sumber:
https://health.detik.com/ulasan-khas/d-2706236/sesering-apa-sebaiknya-membersihkan-telinga-menurut-dokter
http://www.grid.id/read/04708375/kenali-jenis-infeksi-otitis-media-waspadai-gejalanya-ternyata-mirip-flu?page=all